Adat Pemulia Jamee: Cermin Kemuliaan Masyarakat Pidie Jaya Menyambut MTQ Aceh ke-37
Tidak ada komentar
Beranda » Adat Pemulia Jamee » Adat Pemulia Jamee: Cermin Kemuliaan Masyarakat Pidie Jaya Menyambut MTQ Aceh ke-37
Tidak ada komentar
Adat Pemulia Jamee: Cermin Kemuliaan Masyarakat Pidie Jaya Menyambut MTQ Aceh ke-37
Dalam rentang waktu 1 hingga 8 November 2025, Kabupaten Pidie Jaya menjadi tuan rumah bagi perhelatan besar umat Islam, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Aceh ke-37. Selama delapan hari penuh, bumi Japakeh akan dipenuhi cahaya tilawah, semangat syiar, dan gema lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para kafilah yang datang dari seluruh penjuru Aceh. Lebih dari sekadar ajang perlombaan, MTQ adalah momentum kebersamaan, ukhuwah, dan silaturahmi antar daerah.
Namun, di balik kemeriahan dan kemuliaan acara ini, tersimpan tanggung jawab moral yang besar di pundak seluruh masyarakat Pidie Jaya. Para tamu yang datang bukan hanya peserta perlombaan, mereka adalah “jamee”, tamu yang harus dimuliakan dengan penuh keikhlasan, sebagaimana warisan luhur adat Aceh yang berbunyi:
“Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana, dan peumulia jamee adat geutanyoe.”
Pepatah ini bukan sekadar untaian kata, tetapi cerminan nilai dan karakter masyarakat Aceh, termasuk masyarakat Pidie Jaya yang dikenal ramah, santun, dan religius. Maka, selama para kafilah berada di bumi Japakeh, marilah kita semua menjadi bagian dari tuan rumah yang sejati. Bukan hanya panitia yang berkewajiban menyambut, melainkan seluruh lapisan masyarakat, dari gampong ke gampong, dari meunasah hingga ke pasar, dari anak muda hingga orang tua, semuanya memiliki peran untuk menampilkan wajah terbaik Pidie Jaya.
Kita berharap tidak ada tamu yang merasa asing, tidak ada peserta yang merasa tersisih, dan tidak ada keluhan yang mencederai makna besar MTQ ini. Karena pada hakikatnya, memuliakan tamu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
Pidie Jaya bukan hanya tuan rumah, tetapi juga cermin dari Aceh yang bermartabat. Dengan semangat Adat Pemulia Jamee, mari kita sambut para tamu dengan senyum, bantu dengan tangan terbuka, dan layani dengan hati. Biarlah setiap kafilah yang datang membawa pulang kenangan indah tentang keramahan, kehangatan, dan ketulusan masyarakat kita.
Semoga pelaksanaan MTQ Aceh ke-37 ini berjalan lancar, penuh keberkahan, dan menjadi ladang pahala bagi semua yang terlibat.
***
Oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya Kabupaten Pidie Jaya.
_____
Tabel kesimpulan konteks penting dan rekomendasi dari tulisan berjudul “Adat Pemulia Jamee: Cermin Kemuliaan Masyarakat Pidie Jaya Menyambut MTQ Aceh ke-37”.
| Aspek / Konteks Penting | Penjelasan Singkat | Rekomendasi / Tindak Lanjut |
|---|---|---|
| 1. MTQ Aceh ke-37 di Pidie Jaya (1–8 November 2025) | Pidie Jaya menjadi tuan rumah bagi perhelatan keagamaan terbesar di Aceh yang mempertemukan seluruh kafilah dari 23 kabupaten/kota. | Pemerintah daerah dan masyarakat perlu memastikan kesiapan infrastruktur, fasilitas umum, serta keamanan agar acara berjalan lancar dan khidmat. |
| 2. Peran Masyarakat Sebagai Tuan Rumah | Masyarakat Pidie Jaya tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam menyambut para tamu (kafilah). | Sosialisasikan nilai Adat Pemulia Jamee ke seluruh lapisan masyarakat agar keramahan dan pelayanan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya panitia. |
| 3. Nilai Adat Pemulia Jamee | Filosofi adat Aceh yang menekankan kewajiban memuliakan tamu sebagai cerminan keimanan dan kemuliaan diri. | Terapkan nilai ini secara nyata melalui tindakan seperti membantu tamu, menjaga kebersihan, sopan santun, serta menampilkan budaya lokal yang baik. |
| 4. Identitas dan Citra Pidie Jaya | MTQ menjadi ajang untuk menampilkan karakter masyarakat yang religius, ramah, dan beradat. | Gunakan momentum ini untuk memperkuat citra positif daerah sebagai Bumoe Japakeh yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. |
| 5. Spirit Keagamaan dan Kebersamaan | MTQ tidak hanya lomba baca Al-Qur’an, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah dan memperkuat syiar Islam di Aceh. | Dorong partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan sosial selama MTQ berlangsung, agar nilai ukhuwah tetap terjaga pasca acara. |
| 6. Harapan Pelaksanaan MTQ | Harapan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, tertib, dan penuh berkah. | Bentuk tim pemantau dan relawan masyarakat untuk mendukung panitia dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan pelayanan peserta. |
| 7. Pesan Moral | Memuliakan tamu adalah bagian dari iman dan budaya luhur masyarakat Aceh. | Jadikan Adat Pemulia Jamee sebagai panduan perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada momen MTQ. |