Korban Hana Mameh: Seni Menertawakan Kegagalan Ala Orang Aceh

Tidak ada komentar

Korban Hana Mameh: Seni Menertawakan Kegagalan Ala Orang Aceh

Di Aceh, kegagalan itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru sering kali jadi bahan tertawaan bersama di warung kopi. Jangan salah paham dulu, tawa itu bukan bentuk penghinaan, tapi cara paling Aceh untuk mengatakan: “Sudah, jangan terlalu sedih. Hidup ini memang lucu kadang.”

Di gampong, ada istilah yang sangat khas: “Korban hana mameh” , korban kabar baik. Biasanya kalimat ini keluar ketika seseorang gagal setelah terlalu percaya pada berita manis yang belum tentu benar.
Misalnya, waktu ada kawan yang dulu dapat kabar katanya “di Banda kerja gampang, gaji besar, dan kos gratis.” Eh, begitu sampai sana, kerja tak ketemu, malah habis uang untuk bayar kontrakan. Pulang kampung, wajahnya sudah campuran antara lelah dan malu. Tapi begitu sampai di warung kopi, langsung disambut tawa teman-teman:
“Lho, nyan jih! Korban haba mameh, versi Banda!”

Semua pun tertawa. Termasuk si korban itu.
Dan anehnya, setelah tawa itu, beban di hatinya terasa jauh lebih ringan.

Di Aceh, menertawakan kegagalan sendiri bersama kawan dan rekan rekan adalah bagian dari budaya ketangguhan. Orang Aceh punya cara unik untuk menjaga harga diri tanpa harus menampakkan luka. Di banyak tempat lain, kegagalan bisa jadi sumber malu; tapi di sini, kegagalan justru diolah jadi humor, bahan cerita, bahkan kadang jadi legenda kecil yang diceritakan ulang sambil tertawa.

Pernah ada seorang kawan yang membuka usaha ayam geprek. Katanya, “Konsepnya modern, pakai sambal level, tempatnya Instagramable.” Tapi dua bulan kemudian tutup karena pelanggan lebih suka ayam kuah asam keueng di warung sebelah. Ketika ditanya kenapa, ia cuma tertawa dan berkata:
“Tak apa, aku cuma korban haba mameh dari YouTube bisnis.”

Tawa itu menular. Semua ikut tertawa, tanpa sadar sedang belajar sesuatu: jangan terlalu percaya pada kabar manis, tapi jangan juga kehilangan semangat karena satu kegagalan.

Seperti kata Gus Dur, “Orang cerdas adalah orang yang bisa menertawakan kesalahan dan kegagalannya sendiri.” Dan masyarakat Aceh sudah mempraktikkan itu jauh sebelum kata “self healing” jadi tren. Di negeri yang sering memberi kejutan-kejutan, dari harga getah yang tiba-tiba turun, proyek yang tak jadi, sampai janji politik yang menguap di udara, tertawa memang pilihan paling masuk akal untuk bertahan.

Apalagi kalau tawa itu dibagi dengan kawan-kawan lama. Karena, di titik tertentu, persahabatan yang sejati bukan diukur dari seberapa sering kalian berhasil bersama, tapi seberapa kuat kalian bisa tertawa bersama saat semuanya gagal.

Dalam bahasa Aceh, ada ungkapan tak tertulis, yang artinya:
“Berkawanlah sampai kamu bisa tertawa ketika mereka menertawakanmu.”
Karena di situ letak kedewasaan pertemanan, ketika tawa tak lagi terasa seperti ejekan, tapi seperti pelukan hangat yang berkata, “Tenang Rakan loen, kali ini gagal, tapi lain kali pasti bisa.”

Mungkin, di antara riuh tawa di warung kopi, orang Aceh sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi dalam: bahwa hidup bukan tentang selalu benar, tapi tentang selalu bisa bangkit sambil tersenyum. Karena siapa pun bisa jadi korban haba mameh, tapi hanya yang kuat yang bisa menertawakannya.

Dan kalau suatu hari kamu gagal lagi, jangan takut. Duduklah di warung kopi, pesan segelas kopi hitam, dengarkan tawa teman-temanmu, lalu tertawalah juga. Sebab di tengah semua kegagalan itu, Aceh sedang menunjukkan caranya sendiri untuk bertahan, dengan hati yang tabah dan tawa yang tak pernah benar-benar habis.

_______

Oleh : Bustami, S.Pd I

Komentar