Pesan Bijaksana Sekdes Meunasah Mee, Bapak Marzuki, S.IP: “Tanyoe Udep Bek Lagee Bola Rambong"

Tidak ada komentar

Pesan Bijaksana Sekdes Meunasah Mee, Bapak Marzuki, S.IP: “Tanyoe Udep Bek Lagee Bola Rambong"

Dalam sela-sela diskusi di warung kopi di  Gampong Meunasah Mee terkait Percepatan Progres Ketahanan Pangan Tahun 2025, Sekretaris Desa Meunasah Mee, Bapak Marzuki, S.IP, menyampaikan sebuah pesan moral yang menyentuh hati dan sarat makna kebijaksanaan lokal. Dengan gaya tutur yang tenang namun penuh refleksi, beliau mengangkat kembali falsafah lama masyarakat Aceh:
“Tanyoe udep bek lagee bola Rambong.”
Janganlah kita hidup seperti bola Rambong.

Bola Rambong, jelas beliau, adalah bola yang terbuat dari getah pohon karet. Bola ini ringan dan lentur, tetapi tidak memiliki pontet, saluran untuk memasukkan udara. Ketika angin di dalamnya berkurang, bola itu menjadi lembek dan kehilangan daya pantulnya. Dari benda sederhana ini, masyarakat Aceh dulu menurunkan pelajaran moral yang sangat dalam tentang kehidupan sosial dan karakter manusia.

Angen droe hana i tubiet, angen gob hana i tamong,” ujar beliau mengutip pepatah lama,
yang berarti: angin dari dalam tidak keluar, angin dari luar tidak bisa masuk.

Pesan itu menjadi peringatan agar manusia tidak menutup diri dari masukan, nasihat, dan saran orang lain. Dalam kehidupan bersama, terutama dalam kerja membangun desa dan memperkuat ketahanan pangan, keberhasilan tidak pernah lahir dari satu orang saja. Setiap gagasan, setiap keberhasilan, dan setiap langkah maju adalah hasil dari gotong royong, musyawarah, dan saling mengisi antara satu dengan yang lain.

Bapak Marzuki menekankan bahwa dalam mengelola program ketahanan pangan, keterbukaan terhadap ide baru sangat penting. Jangan sampai kita menjadi seperti bola Rambong, menutup diri dari “angin luar” dan akhirnya kehilangan daya juang. Beliau mengatakan:

“Kalau kita menolak masukan, kita kehilangan kesempatan belajar. Kalau kita merasa paling benar, kita justru akan menjadi lembek seperti bola Rambong yang kehilangan udara.”

Kebijaksanaan ini tidak hanya berbicara tentang menerima pendapat orang lain, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan. Sebagaimana bola Rambong yang meskipun menahan udara di dalamnya, tetap saja lama-kelamaan kehilangan kelenturan, demikian pula manusia: bila hanya mengandalkan diri sendiri tanpa berinteraksi dan berbagi pikiran, maka lambat laun semangatnya akan pudar.

Dalam pandangan beliau, Tanyoe udep bek lagee bola Rambong adalah ajaran tentang keseimbangan antara keteguhan dan keterbukaan. Kita perlu memiliki pendirian kuat, tetapi juga hati yang lapang. Dalam konteks ketahanan pangan, hal ini berarti terbuka terhadap inovasi, teknologi baru, dan cara berpikir modern, tanpa melupakan nilai-nilai kearifan lokal yang telah menjadi akar kehidupan masyarakat desa.

Beliau menambahkan, masyarakat Aceh sejak dahulu telah hidup dengan prinsip kebersamaan seperti meupakat (bermusyawarah) dan meuseuraya (gotong royong). Prinsip inilah yang menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi tantangan. Keterbukaan terhadap pendapat warga, partisipasi perempuan, dan peran generasi muda dalam mengembangkan program pangan adalah wujud nyata dari semangat “angin luar harus bisa masuk.”

“Kita tidak bisa membangun ketahanan pangan hanya dengan satu pandangan.
Seperti tubuh yang sehat butuh udara bersih, pembangunan desa juga butuh pertukaran gagasan yang jernih,” ujar Bapak Marzuki.

Beliau juga mengingatkan, di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita perlu menjaga agar tidak kehilangan jati diri. Keterbukaan bukan berarti kehilangan akar, melainkan memperkaya diri dengan hikmah dari luar sambil tetap berpijak pada nilai lokal.

Kita boleh belajar dari luar, tapi jangan sampai kehilangan rasa Aceh di dalam diri kita.
Kita boleh menerima ide baru, tapi jangan sampai lupa dengan semangat meuseuraya dan gotong royong yang menjadi napas Meunasah Mee,” tegas beliau.

Dalam suasana diskusi yang hangat itu, pesan beliau menjadi refleksi bersama: bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal produksi beras atau ketersediaan pangan, tetapi juga tentang ketahanan sosial dan moral masyarakatnya. Masyarakat yang mampu saling mendengar, menghargai pendapat, dan bekerja sama adalah masyarakat yang benar-benar tangguh menghadapi perubahan zaman.

Bola Rambong yang kehilangan udara adalah simbol manusia atau lembaga yang kehilangan semangat karena menutup diri. Tetapi manusia yang mau mendengar dan belajar adalah manusia yang hidupnya terus berisi, seperti bola yang dapat memantul tinggi karena memiliki keseimbangan udara di dalam dan di luar dirinya.

Menutup pesannya, Bapak Marzuki berkata dengan nada lembut namun penuh makna:

“Dalam membangun ketahanan pangan, kita jangan menjadi bola Rambong.
Mari kita buka ruang dialog, dengarkan satu sama lain, dan kuatkan semangat bersama.
Sebab hidup yang tertutup tidak akan pernah tumbuh.
Dan masyarakat yang tidak mau mendengar, akan kehilangan napasnya sendiri.”

Bagi para peserta diskusi, kata-kata ini bukan sekadar nasihat, tetapi cermin kearifan lokal Aceh yang mampu memandu langkah dalam menghadapi tantangan masa kini. Dalam dunia yang berubah cepat, suara lembut dari Meunasah Mee itu menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati lahir dari keterbukaan, kebersamaan, dan keteguhan hati.

Inti Pesan Moral Bapak Marzuki, S.IP

Nilai Makna
Keterbukaan Jangan menutup diri dari nasihat dan ide orang lain
Keseimbangan Teguh dalam prinsip, tetapi lentur dalam menerima perubahan
Kebersamaan Sukses desa lahir dari gotong royong, bukan dari individu
Kearifan Lokal Bangun kemajuan tanpa meninggalkan nilai-nilai Aceh
Refleksi Diri Menolak nasihat adalah awal dari kelemahan batin

_____________

Di sarikan kembali oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya.

Komentar