Raja yang menyewa api

Tidak ada komentar

Raja yang Menyewa Api


(Sebuah kisah sufistik dari gurun yang jauh di bawah langit tak berbatas)

Di sebuah negeri yang terhampar di antara padang pasir dan langit merah senja, hiduplah seorang raja bernama Malik al-Zahiri. Ia berkuasa atas rakyat yang luas, namun hatinya sempit oleh ketakutan.
Ketika ia berjalan di antara istana marmernya, gema langkahnya sendiri terdengar seperti bisikan pengkhianatan.

Ia memerintah dengan tangan besi, tetapi setiap hari ia merasa dunia perlahan menjauh darinya, rakyat membisu, para penasihat mulai menunduk bukan karena hormat, tapi karena takut.
Dan dalam ketakutan itulah, raja mulai melihat bayangan dirinya sendiri di setiap mata yang diam.

Suatu malam, ketika bintang-bintang bergetar di atas gurun, ia memanggil seorang lelaki berpakaian hitam — Asim al-Hadd, algojo yang terkenal kejam, yang konon mampu membuat seribu orang tunduk hanya dengan memandang matanya.

Raja berkata dengan suara yang menyembunyikan kegelisahan:

“Aku mendengar engkau tak gentar kepada siapa pun, bahkan kepada maut. Aku akan menjadikanmu penjaga keadilanku, agar tak seorang pun berani melawanku.”

Asim membungkuk perlahan, dan berkata:

“Tuanku, aku hanyalah api. Selama kau arahkan aku kepada musuhmu, aku akan membakar mereka tanpa sisa. Tetapi berhati-hatilah… karena api tak mengenal siapa yang menyalakannya.”

Namun raja, yang telinganya telah tertutup oleh kesombongan, tidak mendengarkan peringatan itu.
Ia menempatkan Asim sebagai kepala penjaga kerajaan, memberi kuasa atas hukum, pedang, dan pengadilan.


Hari-hari berlalu, dan kerajaan berubah.
Ketika rakyat mencari keadilan, mereka tidak lagi menuju istana raja, melainkan ke rumah Asim.
Ketika para menteri ingin menyenangkan hati penguasa, mereka datang bukan dengan pujian kepada raja, tapi dengan persembahan untuk sang algojo.

Api yang dulu dinyalakan untuk menjaga, kini menyala untuk menguasai.
Dan raja, yang dulu menjadi sumber ketakutan, kini mulai takut kepada penjaganya sendiri.

Malam demi malam, ia duduk di ruang singgasananya yang dingin, mendengar langkah sepatu Asim bergema di lorong-lorong istana seperti suara malaikat maut yang datang terlalu cepat.

Ia berbisik kepada dirinya sendiri:

“Dulu aku takut pada rakyatku, maka kuangkat tangan yang kejam untuk melindungiku dari mereka. Kini aku takut pada tangan itu, sebab ia lebih berkuasa daripada aku.”

Suatu malam, badai pasir datang tanpa suara.
Raja memanggil Asim, tapi ia tidak datang. Yang datang hanyalah kabar: rakyat sudah mengangkat Asim sebagai pelindung mereka.
Ia menegakkan “keadilan” baru dengan pedangnya sendiri.

Dan di tengah gemuruh itu, raja menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya — takhta, kepercayaan, bahkan keberanian untuk menatap langit.

Sebelum ajal menjemput, raja menatap nyala lampu di samping ranjangnya. Api itu menari lembut, kecil tapi menyala, seolah mengingatkan sesuatu.
Dengan suara lirih, ia berucap:

“Aku menyewa api untuk menjagaku dari kegelapan, tapi kini akulah yang terbakar.
Aku memberi kuasa kepada tangan yang tak mengenal belas kasih, dan kini tanganku sendiri hangus oleh nyala yang kubangkitkan.”

🌙 Pesan Hikmah

Ketika kekuasaan kehilangan nurani, hukum menjadi bara tanpa cahaya.
Ketika pemimpin menyalakan api untuk menakuti rakyat, api itu akan tumbuh menjadi nyala yang membakar istana.
Karena keadilan yang sejati tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari hati yang mengenal kasih dan tanggung jawab.

______

Komentar