Ketika Leluhur Ikut Menangis
Tidak ada komentar
Ketika Leluhur Ikut Menangis
Langit Sibolga malam itu tidak sekadar mendung.
Ia seperti menyimpan duka yang terlalu berat untuk ditahan.
Suara adzan Isya baru saja padam, namun udara masih bergetar oleh sisa jerit dan tangis.
Di bawah kubah masjid, tempat sujud seharusnya menjadi pelipur, darah seorang musafir mengering, menodai lantai yang biasanya basah oleh air wudhu.
Orang-orang datang, menatap ngeri, berbisik takut-takut.
Lalu kabar menyebar: lima orang memukul satu, hingga nyawa melayang.
Bukan di jalan gelap. Bukan di gang sempit. Tapi di rumah Allah.
Dan di atas sana, di balik awan kelabu, para leluhur menatap ke bawah, tak lagi dengan amarah, tapi dengan luka yang tak bisa disembuhkan oleh waktu.
Suara dari Tanah Mandailing: Lubis
“Anakku… mengapa kau lupa pada akar yang menumbuhkanmu?
Dulu kami ajarkan: kalau marah, tundukkan kepala; kalau tersinggung, telan dengan sabar; kalau berhadapan dengan sesama, cari damai, bukan darah.
Kami bawa nama Lubis dengan kesederhanaan dan malu. Tapi kini, nama itu dipanggil orang dengan bisik getir.
Kami tidak mengerti — bagaimana tangan yang dulu kami ajarkan untuk menanam, kini digunakan untuk memukul.
Apa yang tersisa dari kehormatan, kalau cucu sendiri menodai rumah sujud?
Kami tak bisa marah padamu, nak… karena air mata lebih dulu datang daripada kata-kata.”
“Kami ini orang Minang, cucu-cucu kami dibesarkan dengan pepatah:
‘Nan elok dijaga, nan buruk ditinggaikan; malu dibawa mati.’
Tapi hari ini, kami tak tahu bagaimana menegakkan kepala di hadapan alam.
Kau bukan hanya membunuh manusia, tapi juga membunuh nilai yang kami tinggalkan.
Rumah ibadah, tempat kami bersujud dengan khusyuk, kini disebut-sebut dengan nada getir.
Apa yang lebih menyakitkan dari melihat adat tercabik oleh darah sendiri?
Kami ingin menegurmu, tapi suara kami patah di tenggorokan. Kami hanya bisa berbisik pada angin:
‘Ampunkan cucu kami, ya Allah. Ia sudah kehilangan akal karena kehilangan rasa malu.’”
“Situmorang… dulu nama itu kami rawat seperti suluh di tengah gelap.
Kami ajarkan arti hormat, arti damai, arti kesetiaan kepada Tuhan.
Tapi kau bakar semuanya dengan amarah sekejap mata.
Kau pikir kekuatan itu di tangan, padahal sejatinya kekuatan ada di hati yang mampu menahan diri.
Sekarang dunia tahu nama Situmorang, tapi bukan karena kebijaksanaan, karena darah.
Kami ingin menjerit, nak, tapi jerit kami tak terdengar di bumi yang sudah bising oleh ego.
Kami hanya menangis, lirih, tapi dalam, karena cucu kami telah lupa menjadi manusia.”
“Laut yang dulu kami jaga kini bergolak.
Namamu, Basri, yang artinya bersih, jernih, kini tenggelam di lumpur amarah.
Kami dulu mengajarkanmu membaca ombak, mengartikan sabar dari pasang surut kehidupan.
Tapi kau pilih badai, bukan damai. Kau pilih gengsi, bukan kasih.
Kami rindu masa di mana anak pesisir dikenal lembut, suka menolong, ramah pada pendatang.
Tapi kini, laut di depan rumah kami pun seakan enggan tenang, malu, karena cucunya mencabut nyawa di rumah Tuhan.”
Tak satu pun dari mereka bersuara lantang.
Tidak ada makian, tidak ada kutuk.
Hanya kesedihan yang berat, jatuh satu-satu seperti gerimis di malam gelap.
Mereka tahu, pengadilan dunia akan berjalan. Polisi akan menulis laporan. Hakim akan menjatuhkan hukuman.
Namun yang mereka tangisi bukanlah vonis di pengadilan, melainkan kehancuran jiwa dan adat yang telah diruntuhkan oleh darah sendiri.
Karena di mata leluhur, dosa paling besar bukan sekadar membunuh manusia, tapi membunuh rasa malu.
Dan ketika malu telah mati, tak ada hukum yang mampu menghidupkan kemanusiaan lagi.
“Anakku…
Kau boleh bertobat seribu kali, tapi jalan untuk memulihkan nama keluargamu harus dimulai dari penyesalan yang sejati.
Jangan sembunyikan dosa di balik alasan. Jangan anggap nyawa ringan karena marah sesaat.
Datanglah ke kuburan, pandanglah tanah, sebab di sanalah kami berbaring, menunggu cucu-cucu kami menebus kesalahan bukan dengan air mata, tapi dengan kebaikan.”
***
Malam di Sibolga belum selesai menangis.
Masjid itu tetap berdiri, tapi setiap bayangan yang melewatinya tahu:
ada sesuatu yang hilang di sana — bukan sekadar nyawa, tapi nurani.
Dan di atas langit, para leluhur masih berdoa dalam diam, sambil menyeka air mata yang tak kunjung kering:
“Kami tidak ingin mengutukmu, nak.
Kami hanya ingin kau tahu...
bahwa kami ikut mati setiap kali kau lupa menjadi manusia.”
***
Lima pelaku penganiayaan di Masjid Agung Sibolga yang menyebabkan Arjuna Tamaraya (21) tewas sudah ditangkap polisi. Atas perbuatannya, kini kelima pelaku terancam hukuman 15 tahun penjara.
Adapun identitas kelima pelaku yakni Chandra Lubis (38), Rismansyah Efendi Caniago (30), Zulham Piliang (57), dan Hasan Basri (46) dan Syazwan Situmorang (40).
Baca artikel detiksumut, "Ancaman Hukuman untuk 5 Pelaku Penganiaya Pria hingga Tewas di Masjid Sibolga" selengkapnya https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-8194634/ancaman-hukuman-untuk-5-pelaku-penganiaya-pria-hingga-tewas-di-masjid-sibolga