Kita adalah TEKI
Tidak ada komentar
Pada suatu masa yang sunyi, aku memandang rumput teki sebagai sekadar noda kecil yang mengganggu harmoni tanah. Ia tumbuh dengan cara yang tak kumaui liar, tak beraturan, seolah hidupnya tidak pernah meminta izin kepa
da siapa pun. Aku mencabutnya, meremukkannya, menutupnya rapat-rapat di bawah lapisan mulsa, berharap ia hilang tanpa jejak. Namun setiap kali lenganku letih dan pikiranku menganggap segalanya telah selesai, ia muncul kembali: mungil, sederhana, tetapi tak pernah tunduk pada kehendakku.
Lalu aku mulai melihatnya dengan mata yang lain, mata yang lebih jernih dari rasa angkuhku sendiri.
Rumput kecil itu hidup tanpa sebuah kemewahan pun: tanpa tanah subur, tanpa air yang cukup, tanpa tangan yang merawat. Dunia tidak pernah mengundangnya untuk tumbuh; namun ia tetap menemukan tempat untuk merebahkan akar. Ia bertahan di retakan tanah yang pecah, di celah batu yang dingin, di ruang-ruang sempit yang bahkan angin pun enggan singgah. Setiap helai daunnya seperti bisikan lirih yang berkata,
“Aku ada karena aku memilih untuk tetap hidup.”
Dan tiba-tiba aku mengerti rumput teki bukan hanya tanaman liar. Ia adalah cermin bagi jiwa-jiwa yang dilahirkan dari ketidakadilan dunia.
Ia adalah wajah mereka yang dianggap
“tidak pantas,”
Namun seperti rumput yang tetap tumbuh di tanah yang menolaknya, jiwa-jiwa itu tetap bangkit dari tempat-tempat yang tak pernah mereka pilih. Mereka menghidupkan diri dari luka yang tak semestinya mereka pikul. Mereka melangkah dari keheningan menuju cahaya kecil yang masih tersisa. Mereka tidak menunggu izin untuk bertahan; mereka hanya perlu sesuatu yang sangat sederhana akar yang menolak mati.
Dari mereka aku belajar bahwa ketabahan tidak membutuhkan tepuk tangan. Bahwa kekuatan tidak selalu berteriak. Bahwa harapan dapat tumbuh dari tanah yang paling tandus sekalipun, selama ada seutas tekad yang berani memeluk hidup.
"Selama akar itu masih berpaut pada bumi, selama napas itu masih hangat walau lelah,
selama hati itu masih berdenyut meski berlumur luka kita belum kalah. Kita belum selesai"
Kita adalah teki
kecil, sering diremehkan, sering dipinggirkan,
namun memiliki rahasia yang tidak dimiliki oleh siapa pun:
kemampuan untuk tumbuh di tempat yang tak seharusnya melahirkan kehidupan.
Dan selama dunia masih menyisakan satu celah,
satu retakan,
satu ruang yang nyaris tak terlihat,
kita akan tetap bangkit.
Kita akan kembali.
Kita akan tumbuh.
***
Bustami, S.Pd.I