MEMBANGUN DARI AKAR, MERAWAT DARI BUDAYA

Tidak ada komentar

Refleksi atas Kunjungan Menteri Desa ke Kampung Adat Cikondang

Kunjungan Menteri Desa ke Kampung Adat Cikondang menegaskan arah baru pembangunan Indonesia: membangun dari desa, menghidupkan lumbung pangan, dan merawat budaya lokal.

Kunjungan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) Yandri Susanto ke Kampung Adat Cikondang, Kabupaten Bandung, awal November 2025 lalu, menyisakan pesan penting: bahwa masa depan Indonesia harus dibangun dari desa, bukan dari pusat. Pemberitaan mengenai kunjungan ini memberi nuansa baru pada arah pembangunan nasional yang kini mulai menempatkan desa sebagai poros utama kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya bangsa.

Desa Sebagai Akar Pembangunan Nasional

Selama bertahun-tahun, pembangunan sering dipahami sebagai proyek dari atas ke bawah,.didesain di kota, dilaksanakan di desa. Paradigma ini mulai berubah. Pesan Menteri Yandri bahwa pembangunan harus “dimulai dari desa dan dari bawah” menandai kesadaran baru: bahwa kesejahteraan nasional tak bisa lahir tanpa kemandirian desa. Dalam kerangka Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, desa bukan lagi objek kebijakan, melainkan subjek aktif dalam menentukan masa depannya.

Kampung Adat Cikondang menjadi contoh konkret bagaimana pembangunan bisa berpadu dengan pelestarian budaya. Desa ini hidup dari tradisi yang kuat, sistem sosial yang solid, dan kearifan lokal yang masih terjaga. Ketika Menteri menyampaikan dukungan untuk menghidupkan kembali konsep Lumbung Pangan Desa, hal itu bukan sekadar program ekonomi, melainkan upaya mengembalikan semangat gotong royong, fondasi moral yang telah menghidupi masyarakat Nusantara sejak lama.

Menghidupkan Kembali Lumbung Sosial Desa

Lumbung pangan dalam konteks ini bukan hanya tempat menyimpan beras, tetapi simbol solidaritas sosial. Di sana tersimpan nilai tentang bagaimana masyarakat berbagi, menolong, dan menjaga keseimbangan hidup bersama. Di tengah tekanan pasar modern dan individualisme ekonomi, gagasan ini terasa segar dan visioner. Ia mengajarkan bahwa kemandirian desa tidak bisa dicapai hanya dengan teknologi dan investasi, tetapi juga dengan etika sosial yang menumbuhkan kebersamaan.

Lebih dari itu, Kemendes PDT juga mendorong lahirnya berbagai inisiatif yang berpadu dengan program nasional, seperti Desa Bersinar (Desa Bersih Narkoba) dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Pendekatan lintas isu ini menunjukkan bahwa pembangunan desa kini bergerak ke arah yang lebih integratif: menata ekonomi sambil memperkuat nilai sosial dan karakter manusia desa.

Budaya sebagai Jiwa Pembangunan

Kebijakan membangun Sakola Budaya Sunda dan Pusat Kesenian Buhun di Kampung Adat Cikondang menjadi langkah strategis untuk menegaskan kembali pentingnya warisan budaya lokal. Dalam era globalisasi, pelestarian budaya sering dianggap romantisme masa lalu. Padahal, budaya adalah sumber daya, identitas yang memperkaya, sekaligus penopang kreativitas generasi muda.

Kampung Adat Cikondang juga diarahkan menjadi Desa Wisata berbasis budaya. Jika dikelola dengan pendekatan community-based tourism, model ini bukan hanya mengangkat ekonomi lokal, tetapi juga melindungi nilai dan lingkungan desa. Wisata budaya yang dikelola masyarakat dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda Indonesia bahwa kemajuan dan tradisi bisa berjalan beriringan.

Sinergi Pemerintah dan Warga

Pembangunan sejati tidak lahir dari kebijakan semata, melainkan dari sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Dalam kunjungan itu, Menteri Yandri menegaskan pentingnya kolaborasi antara BUMDes, koperasi, sekolah, dan lembaga adat. Kolaborasi lintas sektor ini menggambarkan semangat multi-stakeholder governance, pemerintah hadir sebagai fasilitator, bukan penguasa.

Jika semangat ini terus dijaga, maka desa akan menjadi ruang hidup yang berdaulat: mampu memproduksi pangan, mengelola sumber daya sendiri, dan menjaga harmoni sosial.

Harapan untuk Masa Depan

Kampung Adat Cikondang memberi kita pelajaran penting bahwa pembangunan bukan sekadar urusan angka, proyek, atau anggaran. Ia adalah upaya memulihkan martabat manusia dan memaknai kembali relasi antara tanah, budaya, dan kehidupan. Dalam konteks itu, kunjungan Menteri Desa membawa pesan simbolik sekaligus substansial, bahwa kemajuan Indonesia hanya akan kokoh jika dimulai dari akar yang kuat: desa yang berdaya, masyarakat yang mandiri, dan budaya yang lestari.

Dari Cikondang, kita diingatkan bahwa Indonesia sejati tumbuh bukan dari gedung pencakar langit, tetapi dari sawah, lumbung, dan rumah-rumah sederhana tempat nilai-nilai gotong royong masih hidup.


***

_____

Disarikan Kembali dari : TPP JABAR

Oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa/ Korcam Jangka Buya

Komentar