Menjemput Harapan di Medan Pengabdian
Tidak ada komentar
Beranda » Aceh Membangun » Menjemput Harapan di Medan Pengabdian
Tidak ada komentar
Kajian Film & Pemberdayaan Masyarakat
Film Tears of the Sun (2003), yang disutradarai oleh Antoine Fuqua dan dibintangi oleh Bruce Willis, secara permukaannya adalah film perang tentang operasi penyelamatan pasukan khusus (Navy SEALs) di Nigeria yang sedang dilanda konflik. Namun, jika dikupas lebih dalam, film ini bukan sekadar tentang taktik tempur, melainkan tentang dilema moral, kepemimpinan transformatif, dan keberanian untuk memilih kemanusiaan di atas birokrasi.
Bagi seorang Pendamping Desa (baik Pendamping Lokal Desa/PLD, Pendamping Desa/PD, maupun Tenaga Ahli), medan juang mereka bukanlah hutan yang dihujani peluru, melainkan desa dengan kompleksitas kemiskinan, ketimpangan, dan dinamika politik lokal. Kajian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai filosofis dari film tersebut yang relevan dengan misi Pendamping Desa dalam mengawal Undang-Undang Desa dan SDGs Desa.
Letnan A.K. Waters (Bruce Willis) diperintahkan untuk mengevakuasi Dr. Lena Kendricks (Monica Bellucci), seorang warga negara AS yang mengelola misi kemanusiaan. Perintahnya tegas: "Ambil dokternya, abaikan pengungsi lokal."
Titik balik (turning point) terjadi ketika Waters, yang sudah berada di helikopter, melihat pembantaian yang dilakukan pemberontak terhadap desa yang baru saja ia tinggalkan. Melawan perintah langsung ("abort mission"), ia memutar balik helikopter untuk menyelamatkan para pengungsi yang rentan.
Momen ini melambangkan transisi dari sekadar "Menjalankan Tugas Administratif" (mengugurkan kewajiban, mengisi laporan) menjadi "Panggilan Hati Nurani" (substansi pemberdayaan). Pendamping Desa sering dihadapkan pada pilihan: sekadar memastikan administrasi Dana Desa cair, atau benar-benar memastikan dana tersebut berdampak bagi warga miskin?
A. "Leave No One Behind" (Jangan Ada yang Tertinggal)
Dalam film, Dr. Kendricks menolak dievakuasi jika pasien-pasiennya ditinggalkan. Ia merepresentasikan prinsip advokasi total.Konteks Desa: Ini adalah inti dari SDGs Desa No. 18 (Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif) dan prinsip No One Left Behind. Pendamping Desa harus memiliki mentalitas Dr. Kendricks: tidak boleh membiarkan perencanaan desa hanya menguntungkan elit desa, sementara kelompok rentan (perempuan, difabel, warga miskin ekstrem) tertinggal.
B. Dilema Antara Birokrasi (Mission) vs. Kemanusiaan (Conscience)
Letnan Waters awalnya adalah prajurit yang kaku ("Saya hanya menjalankan perintah"). Namun, ia belajar bahwa aturan birokrasi terkadang tidak bisa menjawab jeritan kemanusiaan di lapangan.
Konteks Desa: Pendamping sering terjebak dalam rutinitas administratif (laporan harian, upload data). Film ini mengingatkan bahwa administrasi adalah alat, bukan tujuan. Jika aturan kaku menghambat penanganan stunting atau BLT Desa untuk warga yang kelaparan, Pendamping harus berani melakukan diskresi terukur atau advokasi kebijakan demi menyelamatkan warga, layaknya Waters memutar balik helikopter.
C. Kepemimpinan yang Melindungi (Protective Leadership)
Pasukan SEALs dalam film tersebut membentuk perimeter untuk melindungi pengungsi yang berjalan lambat, sakit, dan lemah. Mereka menyesuaikan kecepatan langkah mereka dengan yang terlemah.
Konteks Desa: Ini adalah metafora pendampingan. Pendamping Desa tidak berjalan di depan untuk "memerintah", atau di belakang untuk "membiarkan", tapi berjalan bersama untuk "melindungi". Melindungi desa dari intervensi merugikan, melindungi KPM (Keluarga Penerima Manfaat) dari potongan liar, dan melindungi musyawarah desa dari dominasi elit.
D. Pengorbanan dan Solidaritas Tim
Dalam perjalanan menuju perbatasan, beberapa anggota tim Waters gugur. Mereka berkorban bukan untuk negara mereka sendiri, tapi untuk orang asing yang tidak mereka kenal.
Konteks Desa: Menjadi Pendamping Desa membutuhkan pengorbanan—waktu, tenaga, jarak tempuh, dan terkadang perasaan (saat berkonflik dengan oknum desa). Solidaritas antar jenjang pendamping (PLD, PD, TA) sangat krusial. Tanpa teamwork yang kuat seperti unit SEALs Waters, masalah kompleks di desa sulit diurai.
Film ini ditutup dengan kutipan terkenal dari Edmund Burke:
"The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing."
(Satu-satunya hal yang diperlukan agar kejahatan menang adalah orang-orang baik yang diam saja.)
Implikasi bagi Pendamping Desa:
Kejahatan di desa bukan selalu berupa kriminalitas fisik. "Kejahatan" dalam konteks pembangunan bisa berupa:
Jika Pendamping Desa "diam saja" (hanya datang, duduk, diam, terima gaji) melihat ketidakadilan dalam penggunaan anggaran desa, maka mereka membiarkan "kejahatan" menang. Pendamping Desa adalah "Good Men/Women" yang ditugaskan negara untuk tidak diam.
Kajian film Tears of the Sun memberikan perspektif heroisme dalam tugas kemanusiaan. Pendamping Desa adalah ujung tombak negara di akar rumput.
Seperti Letnan Waters, seorang Pendamping Desa yang ideal adalah mereka yang:
Misi Pendamping Desa bukan sekadar pekerjaan (job), melainkan panggilan (calling). Meskipun tidak memanggul senjata, mereka memanggul harapan jutaan warga desa untuk keluar dari garis kemiskinan. Itulah medan juang yang sesungguhnya.
***
Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya Kabupaten Pidie Jaya.