Nasehat Emas dari Ayah Kiran dalam Peusijuek Keuchik Dalam Kecamatan Jangka Buya 2025–2031
Tidak ada komentar
Beranda » amanah desa » Nasehat Emas dari Ayah Kiran dalam Peusijuek Keuchik Dalam Kecamatan Jangka Buya 2025–2031
Tidak ada komentar
Nasehat Emas dari Ayah Kiran dalam Peusijuek Keuchik Jangka Buya 2025–2031
Pqgi itu, langit Jangka Buya tampak cerah. Namun Udara tetap sejuk berpadu dengan semerbak aroma kuah belangong dan nasi kenduri dari dapur belakang Aula Kantor Camat Jangka Buya, tempat digelarnya acara Peusijuek Keuchik terpilih masa bakti 2025–2031. Suasana penuh khidmat dan harapan memenuhi ruangan untuk menyaksikan momen sakral penyambutan pemimpin baru di gampong-gampong dalam kecamatan Jangka Buya.
Setelah prosesi peusijuek selesai dan doa dibacakan, suasana beralih menjadi lebih hening. Semua mata tertuju ke arah sosok bersaja yaitu : Tengku Haji Imran, ulama kharismatik dari Jangka Buya yang akrab disapa Ayah Kiran/ Ayah Imran, perlahan berdiri. Sosoknya sederhana, bersarung, berpeci putih, dan berwajah teduh. Namun dari langkahnya yang tenang dan suara lembutnya yang penuh wibawa, terpancar kharisma yang membuat seluruh ruangan tiba-tiba hening total.
Dengan suara tenang, Ayah Kiran membuka tausiyahnya,
“Hari ini bukan hanya kita menyambut Keuchik baru. Kita sedang menyambut tanggung jawab dan harapan baru. Karena Keuchik itu, sebenarnya, adalah rakyat yang paling sejati.”
Semua yang hadir diam mendengarkan. Suaranya meresap dalam hati, diiringi tatapan lembut yang seolah menembus relung jiwa. Ia menjelaskan, bahwa kalau Presiden berhubungan dengan Gubernur, Gubernur dengan Bupati, Bupati dengan Camat, maka Keuchiklah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan rakyat.
“Keuchiklah yang tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang kekurangan, siapa yang butuh uluran tangan. Dialah mata, telinga, dan hati rakyat di tingkat paling bawah.”
Lalu dengan gaya khasnya yang selalu menggunakan perumpamaan sederhana, beliau melanjutkan,
“Kalau kita ibaratkan dalam rantai pertanian, Presiden itu pabrik besar pupuk dan pestisida. Gubernur adalah distributor tingkat provinsi, Kabupaten adalah distributor daerah, Camat ibarat toko penjual bibit dan saprodi, sedangkan Keuchik — dialah petani sejati.”
Beberapa orang tersenyum, menatap satu sama lain sambil mengangguk pelan. Namun, di balik senyum itu, mereka tahu betapa dalam makna yang beliau sampaikan.
“Petani sejati tidak hanya menanam, tapi paham bagaimana merawat. Kalau salah menggunakan pestisida, tanaman bisa mati. Tapi anehnya, kadang yang disalahkan malah penjual pestisida, bukan diri sendiri yang tidak membaca aturan pakai.”
Kata-kata itu disambut anggukan para tamu, terutama para Keuchik yang baru saja dipeusijuek.
Ayah Kiran melanjutkan dengan lembut,
“Kalau Keuchik tidak paham, jangan malu bertanya kepada Camat. Karena Camat itu seperti penjual saprodi, yang tahu aturan pakai. Jangan karena gengsi, akhirnya salah langkah dan masyarakat yang jadi korban.”
Ruangan kembali hening. Hanya terdengar desau angin yang melewati ventilasi aula. Semua peserta menunduk dalam-dalam, seolah meneguk tiap kalimatnya seperti air segar.
Beliau kemudian menatap lurus ke arah para Keuchik yang duduk di barisan depan. Dengan nada lembut tapi dalam, beliau memberi pesan yang membuat suasana semakin khidmat.
“Banyak Keuchik jatuh bukan karena mereka jahat, tapi karena terlalu percaya pada bisik-bisik yang tidak jelas. Dalam memimpin, jangan semua suara ditelan bulat-bulat. Saringlah dengan akal sehat dan hati yang bersih.”
Ia berhenti sejenak, memberi waktu agar pesan itu benar-benar meresap. Tak satu pun hadirin yang berani bersuara. Semua mendengarkan seolah sedang diajak merenungi diri masing-masing.
“Keuchik harus punya hati yang putih dan pikiran yang jernih,” lanjut beliau, “karena kalau air di dalam kendi keruh, maka apapun yang dituangkan juga keruh. Tapi kalau hati bening, maka keputusan akan membawa kesejukan.”
Kemudian, Ayah Kiran berkisah tentang Khalifah Harun Ar-Rasyid, kisah yang membuat suasana terasa seperti majelis ilmu yang penuh hikmah.
“Suatu hari, Khalifah Harun Ar-Rasyid ditegur oleh seorang Badui di jalan. Para pengawal marah, ingin mengusir orang itu, tapi sang Khalifah berkata: ‘Biarkan dia menasihatiku. Jarang sekali ada orang mau menegur pemimpin dengan jujur.’”
Beliau menatap ke arah Keuchik yang baru dipeusijuek sambil menegaskan:
“Pemimpin sejati bukan yang senang dipuji, tapi yang berani mendengar kritik. Karena pujian itu seperti madu — manis, tapi kalau terlalu banyak bisa merusak gigi. Sedangkan kritik adalah obat, pahit, tapi menyembuhkan.”
Para hadirin terdiam. Beberapa menatap ke bawah, seperti merenungi diri sendiri. Ada pula yang meneteskan air mata kecil — mungkin karena merasa diingatkan dengan cara yang begitu halus dan penuh kasih.
Lalu, menjelang akhir tausiyah, Ayah Kiran menutup dengan perumpamaan yang sederhana namun sangat membekas:
“Coba kita lihat mobil-mobil dalam kemacetan. Mengapa mereka tidak saling tabrak? Karena setiap pengemudi menjaga mobil di depannya, bukan sibuk melihat ke belakang. Kalau semua orang fokus menjaga yang di depan, maka yang di belakang pun akan menjaga kita.”
Dan dengan nada Aceh yang khas, beliau menegaskan:
“Bek sabee peusalah gob hana butoi, jangan sibuk menyalahkan orang lain. Fokuslah memperbaiki diri. Kalau semua orang sibuk memperbaiki diri, maka gampong akan aman dan tentram.”
Seketika ruangan terdiam. Tak ada yang bertepuk tangan, karena semua sedang larut dalam rasa haru. Yang terdengar hanya suara napas dan desau kipas angin yang memecah keheningan. Seolah-olah setiap kata Ayah Kiran menembus dinding hati masing-masing.
Ketika beliau menutup dengan doa penenang jiwa, banyak mata yang basah. Camat Jangka Buya menundukkan kepala dalam, beberapa Keuchik menyeka mata, dan masyarakat pun menatap dengan pandangan penuh hormat.
Hari itu, Aula Kantor Camat Jangka Buya tidak hanya menjadi tempat upacara seremonial, tetapi juga menjadi ruang pencerahan. Di sanalah, seorang ulama sederhana mengingatkan kembali arti kepemimpinan: bukan tentang jabatan, tapi tentang amanah dan pengabdian; bukan tentang siapa yang dipimpin, tapi bagaimana melayani dengan hati.
Dan di antara langkah para tamu yang pulang sore itu, pesan Ayah Kiran masih menggema pelan dalam hati semua yang hadir:
“Menjadi Keuchik bukan sekadar menjadi kepala desa. Jadilah seperti petani yang sabar menanam kebaikan. Karena panen sejati bukanlah padi yang menguning, tetapi hati rakyat yang tenang dan percaya pada pemimpinnya.”
***
_____
Disarikan kembali dari Tausiah Ayah Imran - oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya/ Korcam.