Saat Kebijaksanaan Menjadi Cara Menjawab Tuduhan “Pendamping Desa Adalah Beban”

Tidak ada komentar

Belajar dari Pepatah Aceh: Saat Kebijaksanaan Menjadi Cara Kami Menjawab Tuduhan “Pendamping Desa Adalah Beban”

Saya menulis ini bukan untuk menyerang siapa pun. Tidak juga untuk membalas seorang anggota legislatif yang sempat berkata bahwa “Pendamping Desa adalah beban.” Saya menulis karena saya pendamping desa, orang biasa yang setiap hari berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan, bukan di ruang rapat berpendingin udara.

Kami yang menjejak lumpur, berjalan dari satu gampong ke gampong lain, duduk bersama warga, menyusun rencana, dan mendengar keluhan. Di balik lelah itu, kami belajar satu hal penting dari pepatah Aceh lama:

Man meunyo gata di kap Lee Asee, gata balah kap Asee Lee gata? Meunyo di kap Lee Asee, koen payah tapeuteunang droe dan ta saba; atawa ta tiek tuleung-tuleung, ngat bek ikap teuh Lee Asee

Artinya kira-kira begini: “Kalau kamu digigit anjing, apa kamu harus menggigit balik? Kalau digigit, tenangkan diri dan bersabarlah. Lebih baik lemparkan tulang ke arah lain agar ia pergi.”

Bagi saya, pepatah itu bukan sekadar kata-kata indah. Ia adalah pesan yang dalam tentang cara menjaga martabat diri di tengah provokasi. Saat ada yang menghina atau meremehkan, orang Aceh percaya: bukan marah yang membuat kita besar, tapi sabar dan akal yang membuat kita terhormat.

1. Tenang di Tengah Suara yang Menyakitkan

Ketika seorang pejabat berkata bahwa kami “beban,” kami bisa saja marah. Tapi untuk apa? Seperti kata pepatah itu, apa gunanya “menggigit balik anjing yang mengigit kita”?

Lebih baik kami tetap bekerja. Tetap datang ke desa, tetap menuntun musyawarah, tetap menulis laporan, tetap menenangkan warga yang bingung soal dana desa.

Sebab bagi kami, harga diri tidak terletak pada seberapa keras kita menjawab, tapi seberapa tenang kita berdiri saat dihina.

Pepatah Aceh itu mengajarkan cara menghadapi serangan bukan dengan amarah, tapi dengan kecerdikan: lemparkan tulang, artinya alihkan perhatian dengan hal yang lebih bernilai, dalam hal ini, dengan kerja nyata.

Jadi saat ada yang menyebut kami beban, kami tidak perlu membuktikan dengan kata-kata. Kami cukup bekerja lebih baik, lebih jujur, lebih tulus. Hasilnya nanti akan berbicara sendiri.

2. Kami Bukan Beban, Kami Jembatan

Kata “beban” itu berat. Seolah-olah kehadiran kami hanya menghabiskan uang negara tanpa manfaat. Padahal, kami justru yang menjaga agar uang negara itu sampai ke tempat yang benar, ke desa, ke rakyat.

Pendamping desa bukanlah birokrat yang duduk di kantor. Kami adalah penghubung antara kebijakan dan kenyataan. Kami mendampingi perangkat desa yang kadang masih bingung membaca aturan, membantu menulis rencana kerja, memfasilitasi musyawarah, memastikan dana desa tidak salah arah.

Kami juga teman bicara masyarakat. Tempat curhat petani yang gagal panen, tempat bertanya ibu-ibu PKK tentang bantuan, tempat anak muda desa belajar menulis proposal BUMDes.

Apakah itu beban?
Saya rasa tidak. Justru kami ini peredam beban. Kami menjaga agar sistem di bawah tetap hidup dan berjalan.

Kami tidak sempurna, tapi kami tahu: setiap rupiah dana desa yang dipakai dengan benar adalah bukti bahwa pendamping bekerja.

3. Pengetahuan Kami Lahir dari Lumpur, Bukan dari Mikrofon

Kami tidak bicara dari podium, tapi dari lapangan. Pengetahuan kami tumbuh dari pengalaman, dari interaksi dengan warga desa yang sederhana tapi jujur.

Kami belajar bagaimana membuat musyawarah berjalan adil, bagaimana mendamaikan dua pihak yang berselisih, bagaimana membantu menulis laporan yang sesuai aturan. Kami belajar di tengah panas dan hujan, di rumah warga, di teras meunasah maupun balai desa.

Kami tahu bagaimana susahnya membuat warga percaya pada program pemerintah. Dan karena itu, kami tidak boleh berhenti sabar.

Jadi ketika seseorang di atas sana berkata kami “beban”, kami hanya tersenyum. Sebab kami tahu, orang yang tidak pernah hidup bersama warga desa tidak akan benar-benar paham kerja kami.

Kami tahu nilai kerja kami, meski tak selalu terlihat. Kami tahu maknanya, meski kadang tak dihitung.

4. Etika Kami: Melayani Tanpa Panggung

Bekerja sebagai pendamping bukan jalan mudah. Kami tidak punya sorotan kamera, tidak disambut karpet merah, bahkan sering menombok bensin sendiri untuk mencapai desa terpencil, seperti teman teman TPP di Pelosok Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Papua, Tapi kami tetap melakukannya karena kami percaya: mengabdi adalah kehormatan.

Kami menjaga etika itu. Kami tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, kami belajar menahan diri saat melihat penyimpangan, kami berusaha menjadi suara yang jujur di tengah sistem yang sering kali kaku.

Jadi ketika ada yang merendahkan kami, kami tak membalas dengan kata kasar. Kami memilih membalas dengan kerja nyata. Karena bagi kami, moral tidak perlu diumumkan. Cukup ditunjukkan dalam sikap.

5. “Melempar Tulang” di Dunia Nyata

Dalam pepatah Aceh, melempar tulang berarti mengalihkan arah agar yang menggigit berhenti menyerang.

Bagi kami pendamping, “tulang” itu adalah bukti.
Kami tunjukkan hasil kerja kami: desa yang lebih transparan, laporan keuangan yang tertib, BUMDes yang hidup kembali, kader posyandu yang aktif, atau jalan yang dibangun tepat waktu.

Kami tidak menantang, kami hanya belajar menginspirasi. Kami tidak menyerang, kami menjelaskan. Kami tidak ingin membuktikan diri dengan marah, tapi dengan bukti yang berbicara: “Lihatlah, kami berguna.”

6. Kami Hidup dengan Nilai, Bukan Sekadar Gaji

Pendamping desa mungkin tidak kaya, tapi kami punya sesuatu yang tak ternilai: kebanggaan moral.

Kami bekerja dengan hati, bukan hanya dengan tangan. Kami mendengar warga, kami menjadi saksi perubahan kecil yang bermakna. Kami tahu bagaimana rasanya warga tersenyum karena jalan desanya akhirnya selesai, memahami keletihan perangkat desa dan warga masyarakat lewat bau keringat mereka bahwa dalam keterbatasan mereka bersungguh sungguh, atau anak-anak bisa sekolah lebih nyaman karena program desa berjalan baik.

Kebahagiaan itu tak bisa dibeli. Dan bagi kami, itulah bukti bahwa kami bukan beban. Kami justru penopang.

7. Menjaga Martabat di Tengah Suara Sumbang

Politik selalu punya suara yang bising. Ada yang menghina, ada yang menuduh, ada yang tak mau melihat kerja orang lain. Tapi kami belajar dari pepatah Aceh: jangan menggigit balik. Tetap tenang, tetap sabar, dan terus berbuat baik.

Kami percaya, yang bekerja dengan hati tidak perlu membuktikan diri lewat perdebatan.
Kami hanya perlu terus menyalakan lilin kecil di setiap desa, agar gelapnya kesalahpahaman bisa perlahan sirna.

Sebab kemuliaan sejati bukan datang dari pangkat, tapi dari ketulusan melayani.

Penutup: Kami Bukan Beban, Kami Bagian dari Kekuatan

Saya, seorang pendamping desa, menulis ini dengan hati yang jujur. Kami tidak sempurna. Tapi kami hadir karena kami percaya bahwa pembangunan sejati lahir dari bawah, dari desa.

Kalau kami disebut beban, biarlah. Tapi kami tahu bahwa beban itu justru kami pikul agar desa bisa berjalan lebih ringan.

Kami tidak butuh pujian. Kami hanya ingin dihargai sebagai bagian dari sistem yang ingin berbuat baik, "kami juga adalah bagian dari anak anak Republik ini, jika pun kami mendapatkan pekerjaan itu bukan Pemberitaan, tapi ini merupakan Hak sebagai warga negara, sebagai Konsekuensi dari Sebuah Negara yang merdeka karena oleh hal itu leluhur kamu dan kami mau berperang bersatu mengusir Belanda agar generasi setelahnya mempunyai kesempatan pekerjaan di sebuah negara yang merdeka bebas dari Penjajahan.

Pepatah Aceh sudah mengajarkan segalanya: jangan melawan dengan marah, tapi dengan kebijaksanaan. Jangan menebar kata-kata, tapi tebarkan bukti. Jangan menuntut dihargai, tapi buktikan diri layak dihormati.

Kami tidak menggigit balik. Kami cukup melempar tulang kebaikan, agar yang bising perlahan diam, dan yang merendahkan akhirnya mengerti.

Sebab kami percaya: pendamping desa bukan beban, kami adalah napas kecil yang menjaga desa tetap hidup.

***

Oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh.


Komentar