Strategi Pembangunan Terpadu Kecamatan Jangka Buya 2031: Transformasi Agrominapolis dan Ketangguhan Ekologis

Tidak ada komentar


Analisis Jangka Buya Dalam Angka 2025

Oleh : Bustami, S.Pd.I

​Kecamatan Jangka Buya, yang secara administratif merupakan bagian integral dari Kabupaten Pidie Jaya, saat ini berada pada persimpangan pembangunan yang krusial. Sebagai wilayah yang memiliki karakteristik geografis unik dengan perpaduan antara bentang pesisir dan dataran aluvial subur, Jangka Buya memendam potensi ekonomi yang sangat besar namun sekaligus menghadapi risiko lingkungan yang bersifat eksistensial. Menuju tahun 2031, kecamatan ini memerlukan sebuah desain perencanaan wilayah yang tidak hanya bersifat teknokratik, tetapi juga kontekstual terhadap realitas sosiokultural masyarakat gampong yang agraris namun rentan terhadap bencana. Strategi ini disusun untuk menavigasi tantangan tersebut melalui pendekatan pembangunan perdesaan yang integratif, berbasis data, dan berorientasi pada kemandirian lokal.

​Analisis Baseline Kondisi Kecamatan Jangka Buya Tahun 2025

​Memahami kondisi awal Jangka Buya pada tahun 2025 memerlukan tinjauan mendalam terhadap struktur kependudukan, basis ekonomi, dan ketersediaan infrastruktur dasar yang ada di 18 gampong. Secara demografis, Jangka Buya didominasi oleh kelompok usia produktif yang sebagian besar menetap di kawasan perdesaan dengan tingkat kepadatan yang bervariasi antara gampong pesisir seperti Keurisi dan gampong pedalaman seperti Meuko. Namun, kekayaan demografis ini belum sepenuhnya terkonversi menjadi produktivitas ekonomi yang optimal dikarenakan keterbatasan lapangan kerja di sektor formal dan ketergantungan yang ekstrem pada sektor pertanian tradisional.

​Struktur Ekonomi dan Mata Pencaharian Utama

​Perekonomian Jangka Buya pada tahun 2025 masih sangat bergantung pada sektor primer, khususnya pertanian padi dan hortikultura semangka. Pola tanam yang berlaku di sebagian besar gampong, seperti Jurong Teungoh, Jurong Binje, dan Reului Mangat, mengikuti siklus musiman di mana semangka ditanam segera setelah panen padi berakhir. Estimasi luas lahan semangka di kecamatan ini berkisar antara 25 hingga 35 hektare, menjadikannya salah satu sentra produksi semangka utama di Kabupaten Pidie Jaya.

​Meskipun semangka telah menjadi komoditas unggulan yang memberikan aliran kas cepat bagi petani, posisi tawar mereka tetap lemah. Harga jual semangka di tingkat petani seringkali fluktuatif, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram untuk jenis non-biji, dan Rp3.000 hingga Rp3.500 untuk semangka kuning. Hal ini diperparah dengan minimnya fasilitas pengolahan pascapanen, sehingga petani terpaksa menjual hasil panen dalam bentuk segar kepada agen atau tengkulak yang mengendalikan jalur distribusi ke luar daerah. Di sektor industri, Jangka Buya hanya memiliki sekitar 40 unit industri kecil non-formal, yang merupakan angka terendah dibandingkan kecamatan lain di Pidie Jaya seperti Ulim. Rendahnya angka ini mengindikasikan adanya kekosongan dalam rantai nilai (value chain) ekonomi lokal, di mana produk mentah langsung keluar dari wilayah tanpa proses peningkatan nilai tambah.

​Kondisi Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat

​Indikator kesejahteraan sosial di Jangka Buya menunjukkan tantangan yang bersifat multidimensi. Angka kemiskinan di Kabupaten Pidie Jaya yang mencapai 18,45 persen pada tahun 2022 memberikan gambaran bahwa gampong-gampong di Jangka Buya masih berjuang melawan ketertinggalan ekonomi. Fenomena kemiskinan ini seringkali terejawantah dalam bentuk Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), seperti tingginya jumlah yatim piatu, kelompok lanjut usia yang tidak terurus, dan kelompok rentan lainnya yang memerlukan intervensi kebijakan sosial yang lebih agresif.

​Dalam aspek kesehatan, isu stunting masih menjadi prioritas utama. Walaupun pemerintah daerah telah melaporkan keberhasilan penurunan stunting secara signifikan, data di lapangan masih menunjukkan angka prevalensi antara 21 persen hingga 29 persen pada tahun 2023-2024. Hal ini berkaitan erat dengan akses terhadap sanitasi layak dan air bersih. Banjir besar yang sering melanda wilayah ini seringkali merusak infrastruktur air bersih, termasuk Water Treatment Plant (WTP) yang terbawa arus, sehingga menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar gizi bagi balita dan ibu hamil di gampong-gampong terdampak.

​Realitas Infrastruktur dan Ketangguhan Bencana

​Kondisi infrastruktur di Jangka Buya pada tahun 2025 mencerminkan bekas luka dari bencana masa lalu dan kerentanan terhadap ancaman masa depan. Sebagai wilayah yang pernah terdampak parah oleh gempa bumi tahun 2016, pemulihan infrastruktur di Jangka Buya masih belum sepenuhnya tuntas dalam hal kualitas mutu pembangunan. Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah banjir hidrometeorologi yang rutin merendam gampong-gampong seperti Meunasah Lueng, Kuta Baroh, dan Kiran Baroh.

​Banjir ini dipicu oleh meluapnya empat sungai utama, yaitu Krueng Jeulanga, Krueng Ulim, Krueng Meureudu, dan Krueng Beuracan, yang menyebabkan genangan setinggi 75 cm hingga 165 cm di wilayah pemukiman. Dampak materialnya sangat masif, mencakup kerusakan ribuan hektare tambak, lahan pertanian, serta fasilitas publik seperti jalan dan jembatan gampong. Selain banjir luapan sungai, gampong di pesisir Jangka Buya menghadapi ancaman abrasi pantai dan gelombang ekstrem yang terus menggerus garis pantai, mengancam ekosistem laut dan keamanan insani masyarakat pesisir.

​Identifikasi Masalah Utama dan Tantangan Struktural

​Berdasarkan data baseline tersebut, dapat diidentifikasi beberapa tantangan struktural yang menghambat akselerasi pembangunan di Kecamatan Jangka Buya. Tantangan ini bukan sekadar kendala teknis, melainkan masalah yang berakar pada kebijakan, tata kelola, dan kondisi biofisik wilayah.

​Kesenjangan Antara Perencanaan dan Potensi Lokal

​Salah satu masalah struktural yang paling menonjol adalah ketidaksesuaian antara bantuan pemerintah dengan kebutuhan riil petani di lapangan. Sebagai contoh, di Jangka Buya, petani sangat membutuhkan dukungan untuk pengembangan semangka sebagai komoditas unggulan, namun program pemerintah seringkali menyalurkan benih jagung yang tidak sesuai dengan karakteristik lahan dan keahlian lokal. Hal ini mencerminkan lemahnya sinkronisasi data perencanaan pembangunan (top-down) dengan aspirasi masyarakat gampong (bottom-up), yang seharusnya dijembatani melalui mekanisme Musrenbang kecamatan yang lebih substantif.

​Rendahnya Kapasitas Pengelolaan Dana Gampong untuk Sektor Produktif

​Alokasi Dana Gampong di Jangka Buya masih terkonsentrasi secara berlebihan pada pembangunan infrastruktur fisik skala kecil (seperti jalan rabat beton dan drainase) yang seringkali mencapai 70 persen dari total anggaran. Sebaliknya, alokasi untuk pemberdayaan ekonomi melalui Badan Usaha Milik Gampong (BUMG), peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan peran kepemudaan sangat minim, seringkali di bawah 1 persen. Tanpa adanya reorientasi anggaran menuju sektor produktif, gampong akan terus terjebak dalam ketergantungan pada dana transfer pusat tanpa mampu menciptakan Pendapatan Asli Gampong (PAG) yang mandiri.

​Kerentanan Ekologis dan Perubahan Iklim

​Jangka Buya menghadapi risiko ganda: kenaikan muka air laut (sea level rise) yang memicu banjir rob di pesisir dan meningkatnya intensitas hujan yang menyebabkan banjir bandang di daratan. Ketidakmenentuan cuaca ini berdampak langsung pada penurunan produktivitas pertanian. Petani melaporkan bahwa tanaman semangka sering mengalami stres akibat fluktuasi suhu yang ekstrem, serta serangan hama cacar daun yang diperparah oleh kelembapan tinggi saat musim hujan. Tanpa sistem mitigasi dan adaptasi iklim yang kuat, keberlanjutan sektor pertanian Jangka Buya berada dalam ancaman serius.

​Keterbatasan Akses Digital dan Literasi Informasi

​Meskipun inisiatif "Desa Digital" telah diluncurkan di tingkat kabupaten, implementasinya di gampong-gampong Jangka Buya masih menghadapi kendala infrastruktur dan literasi digital yang rendah. Banyak aparatur gampong yang belum menguasai penggunaan teknologi informasi untuk manajemen data kependudukan dan keuangan desa, sehingga proses pelayanan publik masih bersifat manual dan lambat. Selain itu, keterbatasan akses internet di gampong-gampong pedalaman menghambat pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar mereka melalui platform e-commerce.

​Visi Kecamatan Jangka Buya Tahun 2031: "Jangka Buya Agrominapolis Tangguh"

​Menghadapi tantangan masa depan, Kecamatan Jangka Buya memerlukan visi yang mampu menyatukan potensi alam dan semangat masyarakatnya. Visi Jangka Buya Tahun 2031 adalah:

"Terwujudnya Jangka Buya sebagai Pusat Kawasan Agrominapolis yang Mandiri, Inovatif, dan Berketahanan Bencana untuk Kesejahteraan Gampong Berkelanjutan."

​Visi ini mengandung tiga pilar utama yang saling berkaitan:

  1. Agrominapolis: Mengintegrasikan kekuatan sektor pertanian (Agro) dan perikanan (Mina) menjadi satu kesatuan pusat pertumbuhan ekonomi (Polis). Jangka Buya tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pusat pengolahan dan distribusi produk-produk unggulan daerah.
  2. Mandiri dan Inovatif: Menekankan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, digitalisasi tata kelola gampong, dan kemandirian finansial melalui optimalisasi BUMG dan koperasi desa.
  3. Berketahanan Bencana: Membangun wilayah yang adaptif terhadap perubahan iklim dengan infrastruktur yang tangguh dan masyarakat yang memiliki budaya sadar bencana yang tinggi.

​Skenario Pembangunan Jangka Buya 2026–2031

​Untuk mencapai visi tersebut, disusun tiga skenario pembangunan yang dapat dijadikan acuan bagi para pemangku kepentingan dalam mengambil kebijakan.

​Skenario 1: Bertahan (Business as Usual)

​Dalam skenario ini, pembangunan di Jangka Buya berlanjut dengan pola yang ada saat ini tanpa adanya intervensi strategis yang drastis. Dana Gampong tetap difokuskan pada infrastruktur fisik kecil, dan penanganan bencana bersifat reaktif (penyaluran bantuan setelah kejadian).

  • Dampak Ekonomi: Pertumbuhan ekonomi lokal akan tetap stagnan di kisaran 3-4 persen per tahun. Ketergantungan pada tengkulak akan terus berlanjut, dan petani tetap rentan terhadap kemiskinan saat terjadi gagal panen.
  • Dampak Lingkungan: Risiko kerusakan akibat banjir tahunan akan tetap tinggi, menghabiskan sebagian besar energi dan sumber daya gampong hanya untuk perbaikan darurat.
  • Outlook 2031: Jangka Buya akan tetap menjadi wilayah pedesaan tradisional dengan tingkat urbanisasi pemuda yang tinggi karena kurangnya peluang ekonomi di tingkat lokal.

​Skenario 2: Tumbuh Bertahap (Incremental Growth)

​Skenario ini mengasumsikan adanya upaya perbaikan manajemen di tingkat kecamatan dan gampong. Fokus utama adalah pada sinkronisasi program dan perbaikan kualitas infrastruktur pertanian.

  • Dampak Ekonomi: Peningkatan produktivitas pertanian melalui penyaluran bantuan bibit dan pupuk yang lebih tepat sasaran. BUMG mulai dikelola dengan manajemen yang lebih baik untuk unit usaha jasa dan perdagangan kecil.
  • Dampak Sosial: Angka stunting dapat ditekan di bawah 15 persen melalui program makanan tambahan yang rutin dianggarkan dari Dana Gampong.
  • Outlook 2031: Terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara moderat. Jangka Buya mulai dikenal sebagai penyokong bahan baku pertanian berkualitas di tingkat kabupaten.

​Skenario 3: Transformasi Desa (Structural Transformation)

​Ini adalah skenario ideal di mana Jangka Buya melakukan lompatan besar melalui digitalisasi, hilirisasi industri, dan penguatan kelembagaan kolektif antar-gampong.

  • Dampak Ekonomi: Pembentukan BUMG Bersama (Joint-BUMG) di tingkat kecamatan yang mengelola unit pengolahan semangka dan perikanan. Petani tidak lagi menjual buah segar, melainkan produk olahan (seperti jus, selai, atau makanan ringan) yang memiliki nilai tambah tinggi.
  • Dampak Digital: Implementasi "Gampong Digital" secara penuh, di mana seluruh layanan administrasi gampong berbasis aplikasi dan pemasaran produk lokal terintegrasi dengan marketplace nasional.
  • Dampak Lingkungan: Pembangunan infrastruktur hijau (seperti penanaman mangrove di pesisir dan restorasi tanggul alami sungai) serta penerapan sistem peringatan dini bencana berbasis komunitas yang terintegrasi dengan smartphone warga.
  • Outlook 2031: Jangka Buya bertransformasi menjadi kawasan Agrominapolis modern yang mandiri, di mana gampong-gampong memiliki kemandirian fiskal dan daya saing yang kuat.

​Prioritas Pembangunan 2026–2031

​Berdasarkan skenario transformasi, ditetapkan lima prioritas utama yang harus diimplementasikan dalam periode 2026–2031.

​1. Ekonomi Lokal, Koperasi Desa, dan Hilirisasi Produk

​Ekonomi Jangka Buya harus bergerak dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pusat pengolahan.

  • Optimalisasi BUMG Bersama: Gampong-gampong di Jangka Buya harus berkolaborasi membentuk BUMG Bersama untuk mengelola alat mesin pertanian (alsintan) modern dan pabrik pengolahan hasil tani. Hal ini akan memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan petani.
  • Penguatan Koperasi Gampong: Koperasi harus difungsikan sebagai penyedia input pertanian (benih, pupuk, pestisida) dengan harga bersubsidi bagi anggota, sekaligus sebagai lembaga penjamin (off-taker) hasil panen petani.
  • Branding Produk Lokal: Mengembangkan merk dagang khusus "Semangka Jangka Buya" sebagai produk berkualitas premium yang memiliki sertifikasi indikasi geografis.

​2. Ketahanan Pangan dan Pertanian Adaptif Iklim

​Mengingat kerentanan terhadap cuaca, sektor pertanian harus direkayasa agar lebih tangguh.

  • Rehabilitasi Irigasi Terpadu: Memastikan saluran irigasi primer dan sekunder bebas dari sedimen melalui program pemeliharaan rutin yang melibatkan partisipasi masyarakat (padat karya tunai).
  • Penerapan Teknologi Pertanian Tepat Guna (TTG): Mendorong penggunaan varietas padi dan semangka yang tahan terhadap genangan air serta penggunaan pestisida organik untuk melawan penyakit cacar daun secara berkelanjutan.
  • Asuransi Pertanian Mandiri: Mengembangkan skema perlindungan gagal panen bagi petani kecil melalui dana cadangan darurat yang dikelola oleh BUMG atau koperasi desa.

​3. Tata Kelola, Kelembagaan, dan Kapasitas Desa

​Kualitas kepemimpinan di tingkat gampong adalah kunci keberhasilan transformasi.

  • Penguatan Peran Tuha Peut: Memberikan pelatihan rutin bagi anggota Tuha Peut dalam hal pengawasan keuangan desa dan penyusunan Qanun Gampong yang pro-investasi lokal.
  • Peningkatan Kapasitas Aparatur Gampong: Mengharuskan setiap aparatur gampong memiliki sertifikasi kompetensi dasar dalam manajemen pemerintahan desa dan pemahaman penggunaan aplikasi Siskeudes.
  • Reformasi Musrenbang: Transformasi mekanisme Musrenbang menjadi forum yang lebih dinamis dengan melibatkan akademisi dan praktisi ekonomi untuk mengkaji kelayakan program yang diusulkan gampong.

​4. Digitalisasi Desa dan Konektivitas Informasi

​Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk efisiensi dan transparansi.

  • Infrastruktur Internet Merata: Memastikan seluruh 18 gampong memiliki akses internet broadband melalui program penyediaan akses internet minimal dua titik per gampong yang dibiayai oleh Dana Gampong.
  • Sistem Informasi Gampong (SIG) Terpadu: Membangun dashboard kecamatan yang memantau data kemiskinan, stunting, dan potensi ekonomi secara real-time untuk memudahkan pengambilan keputusan oleh Camat dan Bupati.
  • Pusat Literasi Digital Gampong: Membentuk kelompok belajar digital di setiap gampong untuk melatih warga dalam menggunakan internet untuk tujuan produktif, seperti belajar teknik pertanian baru atau pemasaran online.

​5. Peran Pemuda dan Perempuan dalam Pembangunan

​Pembangunan Jangka Buya 2031 harus bersifat inklusif dengan melibatkan kelompok yang selama ini terpinggirkan.

  • Pengembangan Karang Taruna Kreatif: Mengarahkan pemuda gampong untuk mengelola unit usaha kreatif berbasis teknologi, seperti jasa desain kemasan produk UMKM atau manajemen media sosial BUMG.
  • Pemberdayaan Perempuan melalui PKK dan UMKM: Mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan kewirausahaan bagi perempuan, khususnya dalam pengolahan pangan lokal yang bergizi untuk mendukung program penurunan stunting.
  • Keterlibatan dalam Pengambilan Keputusan: Menjamin kuota keterwakilan perempuan dan pemuda dalam struktur Tuha Peut dan tim penyusun RKP Gampong.

​Peran Stakeholder dalam Transformasi Jangka Buya

​Keberhasilan visi 2031 memerlukan kolaborasi sinergis antara berbagai aktor pembangunan.

Pihak

Peran Strategis

Pemerintah Gampong (Keuchik)

Sebagai manajer utama pembangunan di tingkat akar rumput, bertanggung jawab dalam pengalokasian anggaran yang pro-rakyat dan transparan.

Lembaga Tuha Peut

Berperan sebagai badan legislatif gampong yang melakukan pengawasan terhadap kinerja Keuchik serta merumuskan aturan gampong yang mendukung ketertiban dan inovasi.

Pemerintah Kecamatan

Berperan sebagai koordinator pembangunan antar-gampong, fasilitator penyelesaian konflik, dan jembatan kebijakan antara kabupaten dan desa.

Pendamping Desa (PLD/PD)

Memberikan asistensi teknis dalam penyusunan perencanaan yang berbasis data (SDGs Desa) dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi keuangan negara.

Masyarakat Gampong

Sebagai subjek utama pembangunan yang harus terlibat aktif dalam pengawasan, pemeliharaan infrastruktur, dan gerakan pemberdayaan ekonomi kolektif.

Tokoh Adat & Agama

Menjaga nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) dalam proses pembangunan agar kemajuan material tidak menggerus identitas budaya Aceh.

Roadmap Pembangunan Jangka Buya 2026–2031

​Peta jalan ini dibagi ke dalam tiga fase strategis untuk memastikan transisi yang mulus menuju visi 2031.

​Fase 1: Konsolidasi dan Mitigasi (2026–2027)

​Fase ini berfokus pada penguatan fondasi dasar dan pengurangan risiko bencana.

  • ​Audit total kondisi infrastruktur drainase dan irigasi di 18 gampong.
  • ​Normalisasi saluran air dan penguatan tanggul sungai di titik-titik rawan banjir.
  • ​Digitalisasi basis data penduduk dan pemetaan potensi ekonomi per gampong secara presisi.
  • Fasilitasi Pembentukan regulasi di kecamatan yang mendukung kerja sama antar-gampong dalam pembentukan BUMG Bersama.

​Fase 2: Akselerasi dan Industrialisasi (2028–2029)

​Fase ini berfokus pada peningkatan nilai tambah ekonomi dan digitalisasi penuh.

  • ​Pembangunan pusat pengolahan (processing center) komoditas semangka dan hasil laut di kawasan strategis kecamatan.
  • ​Peluncuran platform e-marketplace "Jangka Buya Mall" untuk produk-produk UMKM lokal.
  • ​Implementasi sistem pertanian presisi (smart farming) di gampong-gampong pilot project.
  • ​Penguatan akses sanitasi dan air bersih melalui pembangunan sumur bor komunal yang tahan bencana.

​Fase 3: Kemandirian dan Keberlanjutan (2030–2031)

​Fase ini berfokus pada pemantapan sistem dan pencapaian kemandirian ekonomi.

  • ​Gampong-gampong di Jangka Buya mulai mendapatkan pendapatan asli gampong yang signifikan dari bagi hasil BUMG Bersama.
  • ​Penurunan angka kemiskinan dan pengangguran pemuda secara drastis melalui ketersediaan lapangan kerja di sektor industri pengolahan lokal.
  • ​Jangka Buya diakui sebagai model nasional gampong berketahanan bencana yang mandiri secara ekonomi.

​Indikator Keberhasilan yang Sederhana dan Terukur

​Untuk memastikan pencapaian visi Jangka Buya 2031, ditetapkan beberapa indikator keberhasilan sebagai berikut:

  1. Ekonomi: Pendapatan rata-rata petani meningkat minimal 40 persen dari baseline 2025 melalui efisiensi biaya input dan peningkatan harga jual produk olahan.
  2. Sosial: Angka prevalensi stunting turun di bawah 10 persen dan 100 persen keluarga miskin ekstrem mendapatkan akses bantuan sosial yang tepat sasaran.
  3. Infrastruktur: Seluruh gampong memiliki sistem drainase yang berfungsi 100 persen dan infrastruktur internet broadband menjangkau setiap dusun.
  4. Lingkungan: Penurunan luas lahan pertanian yang gagal panen akibat banjir sebesar 70 persen melalui sistem irigasi dan tanggul yang lebih tangguh.
  5. Kapasitas Desa: Seluruh gampong (18 gampong) memiliki BUMG dengan kategori "Maju" dan berkontribusi terhadap minimal 15 persen APBG.

​Kesimpulan dan Arah Strategis Masa Depan

​Membangun Jangka Buya menuju tahun 2031 bukanlah tugas yang mudah, namun sangat mungkin untuk diwujudkan. Kekuatan utama kecamatan ini terletak pada semangat kegotongroyongan masyarakatnya dan kekayaan lahan pertanian yang melimpah. Tantangan berupa banjir dan kemiskinan harus dipandang sebagai dorongan untuk melakukan inovasi, bukan sebagai hambatan yang tak teratasi.

​Langkah awal yang paling mendesak adalah perubahan paradigma kepemimpinan di tingkat gampong. Dana Gampong harus berhenti dipandang sebagai "dana proyek fisik", melainkan sebagai "modal investasi sosial dan ekonomi". Dengan fokus pada hilirisasi produk semangka, digitalisasi layanan, dan ketangguhan bencana, Jangka Buya akan mampu bertransformasi dari wilayah yang sering terdampak bencana menjadi wilayah yang memberi pengaruh (influence) ekonomi di tingkat regional. Tahun 2031 harus menjadi saksi di mana Jangka Buya berdiri tegak sebagai simbol kemandirian gampong di Aceh, di mana setiap warganya merasakan kemakmuran yang berkeadilan dan berkelanjutan.

​Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Pemerintah Kecamatan, dan seluruh perangkat gampong harus bergerak dalam satu irama perencanaan yang sama. Sinkronisasi antara Qanun Kabupaten dengan rencana pembangunan desa menjadi kunci agar setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Masa depan Jangka Buya ada di tangan sinergi kita semua, dimulai dari perencanaan yang matang hari ini untuk kejayaan satu dekade mendatang. 

***



Komentar