BAB 1: KALA SEMESTA MENYAKSIKAN SUMPAH
I. Intimidasi dari Ufuk Timur: Besi dan Amarah
Agustus 1877. Pesisir utara Aceh tidak pernah lagi merasakan embun yang murni. Sejak cahaya pertama membelah kegelapan di cakrawala Samalanga, sesuatu yang asing dan mengerikan telah menodai garis laut. Di depan Peunilet Baroh, siluet kapal-kapal perang Belanda muncul seperti jajaran leviathan besi yang merayap perlahan dari kedalaman samudra. Di bawah komando tertinggi Kolonel Van der Heyden, armada ini adalah pengejawantahan dari ambisi imperialisme yang tak terpuaskan.
Kapal-kapal perang itu—monark uap berbahan bakar batu bara yang memuntahkan jelaga hitam—membawa deru mesin yang terdengar seperti geraman lapar. Secara teknis, kapal-kapal ini dilengkapi dengan meriam Armstrong pemuat belakang (breach-loading) yang mampu mengirimkan proyektil seberat puluhan pon melintasi jarak bermil-mil. Di geladaknya, baja-baja yang ditempa di pabrik-pabrik Eropa berkilau dingin, kontras dengan ombak tropis yang hangat. Deru turbin uap menciptakan vibrasi frekuensi rendah yang merambat melalui air, mengusir kawanan ikan tongkol dan lumba-lumba yang biasanya menari di Kuala Kiran. Burung-burung camar yang semula melayang tenang, kini terbang kocar-kacir, seolah-olah insting purba mereka menangkap aroma kematian yang terbawa angin laut.
Pikiran Bawah Sadar Kolonel Van der Heyden:
Di balik teropongnya, Van der Heyden tidak melihat sebuah negeri; ia melihat sebuah anomali statistik yang harus dirapikan. Ada rasa puas yang dingin saat ia memandang daratan hijau itu. “Tanah ini terlalu indah untuk dimiliki oleh bangsa yang membangkang,” bisiknya dalam hati. Baginya, setiap kepul asap dari cerobong kapalnya adalah stempel kekuasaan peradaban modern atas ketertinggalan Timur. Namun, jauh di sudut gelap sanubarinya, ada getaran kecil yang tak ia akui—sebuah firasat bahwa tanah yang terlihat tenang ini menyimpan rahasia yang tidak bisa dipecahkan oleh disiplin militer Belanda.
II. Sajadah dan Medan Laga: Kontemplasi sang Ulama
Di pedalaman yang hanya berjarak beberapa mil dari desiran ombak, di atas ubin Meunasah Mesjid Pulo Baroh yang sejuk, Teungku Haji Syekh Abdurrahim baru saja melepaskan sujud terakhirnya. Ulama yang kelak dikenal dengan gelar Teungku di Kuta Glee ini adalah personifikasi dari ketenangan yang agung. Masa mudanya yang dihabiskan di bawah keteduhan Masjidil Haram telah menempa jiwanya menjadi sekeras karang namun selembut sutra.
Di sekeliling meunasah, pohon-pohon jeumpa yang bunganya mulai mekar menyebarkan aroma harum yang lembut, beradu dengan aroma kayu cendana dari dalam bangunan. Hutan di sekitar Samalanga saat itu masih lebat dengan pohon meranti dan damar yang menjulang tinggi, menjadi rumah bagi kera ekor panjang yang kini mulai gelisah, melompat dari dahan ke dahan karena menangkap vibrasi dari laut.
Saat keningnya bersentuhan dengan ubin dingin, Abdurrahim tidak sedang meminta kemenangan militer, melainkan keteguhan hati. Tasbih di jemarinya bukan sekadar penghitung asma Tuhan; ia adalah jangkar yang menahan jiwanya agar tidak terombang-ambing oleh kemarahan. “Ya Allah,” batinnya bergema, “jika pena harus diganti dengan baja, biarlah baja ini tidak digerakkan oleh benci, melainkan oleh keadilan-Mu.” Ia merasakan tanggung jawab yang berat, seolah-olah setiap nyawa penduduk desa Samalanga tertitip di dalam lipatan jubahnya. Ada kesedihan mendalam saat ia menyadari bahwa dayah yang ia bangun dengan cinta, mungkin akan segera menjadi barak atau pemakaman.
III. Ledakan yang Membelah Langit: Simfoni Kehancuran
"Teungku, mereka sudah menurunkan sekoci di kuala," lapor seorang pemuda dengan suara parau.
Sesaat kemudian, semesta seolah-olah ditarik paksa hingga robek. Meriam-meriam kaliber berat dari kapal-kapal Belanda memuntahkan bola-bola besi pijar pertama mereka. Suaranya bukan sekadar ledakan; ia adalah lengkingan maut yang merobek selaput telinga. Bola besi itu melesat membelah udara dengan suara seperti kain raksasa yang dikoyak, lalu menghantam rawa-rawa yang ditumbuhi pohon nipah dan bakau.
Ledakan itu mengirimkan lumpur hitam, air asin, dan fragmen kayu ke udara. Pohon-pohon kelapa yang telah tumbuh puluhan tahun tumbang seketika, pelepah-pelepahnya terbakar oleh panas mesiu. Flora pesisir yang biasanya menjadi pelindung alami, kini menjadi puing-puing hangus. Asap mesiu yang pekat, mengandung belerang dan potasium nitrat, mulai merayap di atas tanah, mematikan serangga-serangga kecil dan memaksa ular-ular rawa keluar dari persembunyiannya dalam kepanikan.
IV. Langkah Lars di Atas Pasir Suci: Mekanika Penjajahan
Di bawah perlindungan artileri tersebut, pendaratan dimulai. Mayor Van Dompseler memimpin batalyon infanterinya turun ke darat. Sepatu-sepatu lars mereka, terbuat dari kulit sapi tebal dengan paku-paku besi (hobnails) di solnya, menginjak pasir Peunilet Baroh dengan derap yang mekanis. Setiap langkah mereka meninggalkan jejak yang merusak kontur pasir pantai yang halus.
Para serdadu ini membawa senapan Beaumont model 1871, sebuah senjata bolt-action yang merupakan puncak teknologi pada masanya. Di pinggang mereka tergantung bayonet sepanjang setengah meter yang siap mengoyak daging. Mereka bergerak dalam formasi tertutup, dikelilingi oleh kepulan asap dari cerutu yang mereka hisap untuk menenangkan saraf.
Sambil mengatur barisan, Dompseler merasakan kebanggaan yang arogan. “Ini akan menjadi ekspedisi singkat,” pikirnya. Namun, saat matanya menyisir rimbunnya hutan di depan Tambue, ia merasakan keganjilan. Hutan itu terlalu diam. Ia merasa seperti sedang berjalan masuk ke dalam mulut raksasa yang sedang menahan napas. Ada rasa asing yang menusuk; aroma hutan tropis yang lembap dan bau tanah yang membusuk membuatnya rindu pada jalanan berbatu di Amsterdam yang kering dan teratur.
V. Sang Poros Keberanian: Pocut Meuligoe dan Api Perlawanan
Di garis belakang, di jantung pertahanan Benteng Blang Kuta Teumulek, berdiri Pocut Meuligoe. Benteng ini bukan sekadar gundukan tanah; ia adalah mahakarya rekayasa lokal. Terbuat dari tumpukan batang pohon kelapa yang diikat dengan rotan hutan, dilapisi tanah liat setebal dua meter yang mampu meredam hantaman peluru. Di sekelilingnya ditanami bambu berduri (bambu apus) yang dijalin sedemikian rupa sehingga menjadi pagar hidup yang tak tertembus.
Melihat asap membubung di pantai, jantung Pocut berdegup seperti perkusi perang. Ia menatap para lelaki yang memegang rencong—senjata tikam tradisional Aceh dengan gagang dari tanduk kerbau dan bilah baja yang ditempa dengan campuran asam arsenik agar beracun. “Lihatlah mereka,” pikir Pocut sambil memandang anak-anak muda itu. “Mereka tampak seperti singa yang sedang mengintai, tapi aku tahu mereka sedang mengingat wajah ibu dan istri mereka.” Ia menyadari perannya: ia harus menjadi batu karang. Jika ia terlihat gemetar sedikit saja, maka seluruh benteng ini akan runtuh oleh ketakutan.
VI. Perjamuan Maut: Sumpah di Tanah Kuta Glee
Teungku Abdurrahim kini telah berada di garis depan. Matahari mulai meninggi, menyinari asap yang kini menyelimuti seluruh Samalanga seperti selimut duka yang megah. Di sekitar parit pertahanan, bunga-bunga liar senduduk yang berwarna ungu tertutup debu mesiu. Seekor elang laut melintas tinggi di atas, satu-satunya saksi yang netral atas tragedi yang mulai meletus di bawahnya.
Teungku Abdurrahim memegang sebilah pedang pendek dengan ukiran ayat suci di bilahnya. Ia merasakan berat senjata itu, beban yang terasa asing bagi tangan yang biasanya hanya membolak-balik halaman kitab suci.
"Bismillah," bisiknya. Suaranya begitu rendah, namun bagi mereka yang berada di dekatnya, suara itu lebih kuat daripada dentuman meriam Belanda.
Pagi itu, sejarah tidak lagi ditulis dengan tinta hitam di atas kertas kuning. Ia ditulis dengan keringat, air mata, dan darah yang menetes ke atas tanah Samalanga. Agresi telah pecah, dan di Kuta Glee, sumpah telah dipatri: tanah ini mungkin bisa diduduki, tapi jiwanya adalah milik Sang Pencipta yang takkan pernah bisa dirantai oleh besi manapun.
***
0 Komentar