Belajar sambil berjuang, berjuang sambil belajar
Di Simpang Mesra, tempat lalu lintas manusia bersilang, tempat debu jalan bercampur dengan suara klakson dan langkah yang tergesa, berdiri sebuah tugu pena. Ia bukan sekadar monumen; ia adalah pengingat bahwa di Aceh, kata-kata pernah lebih tajam dari peluru, dan pikiran pernah lebih kuat daripada ketakutan.
Di bawah bayang-bayang tugu itu, sejarah Aceh kembali menemukan gema lamanya.
Mahasiswa turun ke jalan.
Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa spanduk, buku catatan, pengeras suara, dan luka-luka yang kemudian harus mereka tanggung sendiri. Mereka berdiri menghadapi pagar besi kekuasaan untuk mempertanyakan sesuatu yang paling mendasar: mengapa hak kesehatan rakyat dipangkas tanpa suara rakyat didengar?
Ketika Jaminan Kesehatan Aceh—sebuah ikhtiar yang selama ini menjadi simbol perdamaian pascakonflik—mulai direduksi, dibatasi, dan diam-diam dipreteli, mahasiswa memilih untuk tidak diam.
Dan dari sanalah sejarah mulai bergerak kembali.
Aceh punya ingatan panjang tentang perlawanan.
Tanah ini dibangun oleh orang-orang yang percaya bahwa martabat lebih penting daripada rasa aman yang semu. Dari hingga , dari ulama-ulama dayah yang melawan kolonialisme hingga mahasiswa yang dulu menjadi bagian penting dari tuntutan reformasi, Aceh tidak pernah benar-benar tunduk kepada kekuasaan yang menutup telinga.
Kini, sejarah itu menjelma dalam wajah-wajah muda.
Wajah yang mungkin semalam masih membaca teori politik di perpustakaan.
Pagi harinya mereka berlari menghindari gas air mata.
Tangan yang sebelumnya mencatat materi kuliah.
Kini mengangkat teman yang pingsan di depan kantor gubernur.
Mereka belajar.
Tetapi mereka juga berjuang.
Dan justru di situlah makna terdalam mahasiswa Aceh hari ini.
Belajar sambil berjuang, berjuang sambil belajar.
Kalimat itu bukan slogan romantis. Ia adalah warisan intelektual Aceh.
Dalam tradisi Aceh, ilmu tidak pernah dipisahkan dari keberanian moral. Ulama-ulama kita tidak hanya mengajar kitab, mereka memimpin perlawanan. Cendekiawan kita tidak hanya menulis, mereka menjaga marwah masyarakat. Maka mahasiswa hari ini sedang mewarisi sesuatu yang sangat tua: kewajiban untuk berpikir dan bertindak sekaligus.
Ketika demonstrasi dibubarkan dengan kekerasan, ketika tubuh-tubuh muda tersungkur oleh gas air mata, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya ketahanan fisik mereka.
Yang sedang diuji adalah apakah masyarakat sipil Aceh masih hidup.
Dan jawabannya: ya.
Selama mahasiswa masih berani berdiri di jalan untuk membela hak rakyat, Aceh belum sepenuhnya dikuasai oleh kekuasaan yang lupa diri.
Selama suara kritik masih menggema dari kampus-kampus—dari , , hingga —maka tanah ini masih memiliki penjaga.
Penjaga itu bukan tentara.
Bukan pejabat.
Bukan elite partai.
Melainkan mahasiswa.
Mereka mungkin kalah jumlah.
Mereka mungkin dipukul mundur.
Mereka mungkin ditangkap.
Tetapi sejarah Aceh mengajarkan kita satu hal: perlawanan tidak diukur dari kemenangan hari ini, melainkan dari keberanian untuk tidak menyerah.
JKA boleh saja dipangkas.
Anggaran boleh saja disembunyikan.
Kebijakan bisa saja dibuat tanpa mendengar rakyat.
Tetapi satu hal yang gagal mereka kurangi adalah kesadaran.
Kesadaran bahwa negara harus tunduk pada keadilan.
Kesadaran bahwa hak rakyat bukan hadiah pemerintah.
Kesadaran bahwa demokrasi hanya hidup selama ada orang-orang muda yang bersedia mempertaruhkannya.
Di Tugu Pena Simpang Mesra, pena itu harus kembali dimaknai.
Ia bukan sekadar lambang pendidikan.
Ia adalah simbol bahwa menulis, berpikir, berbicara, dan melawan adalah satu rangkaian yang tak terpisahkan.
Darah yang jatuh di jalan bukan akhir cerita.
Ia bisa menjadi tinta sejarah.
Dan tinta itu sedang ditulis oleh mahasiswa Aceh.
Suatu hari nanti, mungkin nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku resmi. Tidak semua akan dikenang. Tidak semua akan disebut.
Tetapi Aceh akan tahu:
bahwa ketika hak rakyat digoyang, ketika kebijakan kehilangan nurani, ketika kekuasaan mencoba membungkam kritik—
ada anak-anak muda yang memilih berdiri.
Basah oleh hujan.
Sesak oleh gas air mata.
Terluka oleh pentungan.
Namun tetap berseru:
hak rakyat tidak boleh dicabut.
Itulah bukti bahwa Aceh masih dalam kendali masyarakat sipil.
Meski harus dibayar dengan tubuh yang lebam.
Meski harus ditembus oleh rasa takut.
Meski harus dilakukan berdarah-darah.
Dan selama itu masih ada, selama mahasiswa masih percaya bahwa ilmu harus berpihak pada rakyat, maka harapan Aceh belum padam.
Di bawah Tugu Pena Simpang Mesra, kita patut menuliskan kembali satu kalimat sebagai sumpah generasi:
Belajar sambil berjuang.
Berjuang sambil belajar.
Karena di Aceh, pena dan keberanian selalu berjalan beriringan.
***
0 Komentar