Memoar Perjalanan: Singgah Sejenak di Masjid Agung Meulaboh (22 Juni 2020)
Tidak ada komentar
Beranda » Foto bersama » Memoar Perjalanan: Singgah Sejenak di Masjid Agung Meulaboh (22 Juni 2020)
Tidak ada komentar
Memoar Perjalanan: Singgah Sejenak di Masjid Agung Meulaboh (22 Juni 2020)
Ada hari-hari yang tidak dirancang untuk menjadi istimewa, tapi diam-diam tumbuh menjadi kenangan yang tak lekang oleh waktu. 22 Juni 2020 adalah salah satunya. Hari itu, kami, para Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa Kecamatan Jangka Buya, Kabupaten Pidie Jaya, melakukan perjalanan keliling Aceh. Sebuah perjalanan yang sederhana namun sarat makna: bukan sekadar menempuh jarak, melainkan menyusuri ingatan, menyulam kebersamaan, dan menata langkah sebagai satu tim yang tumbuh bersama.
Ketika mobil kami berhenti di Kota Meulaboh, pandangan kami langsung tertuju pada sebuah bangunan megah yang berdiri dengan anggun: Masjid Agung Meulaboh. Di bawah langit yang teduh, kami sepakat untuk singgah, menunaikan salat, beristirahat, dan menghidupkan kembali sisi spiritual dari perjalanan panjang itu.
Foto Pertama — Di Dalam Masjid
Hening, tapi penuh tawa yang tertahan. Setelah salat, kami berjejer seadanya, tidak direncanakan, tapi rapi dengan caranya sendiri.
Dari kiri ke kanan:
Satu barisan yang tak sempurna tapi hangat. Tidak ada keseragaman, tapi justru di situlah indahnya: setiap gaya punya cerita, setiap ekspresi menyimpan tawa kecil yang jujur.
Foto Kedua — Di Halaman Depan Masjid
Udara sore terasa ringan. Kami melangkah ke halaman depan, lalu berfoto lagi. Kali ini dengan latar masjid yang megah, cahaya yang lembut, dan semangat yang lebih cair.
Dari kiri ke kanan:
GAYA & MAKNA
Kami memang tidak mengambil gaya formal, sebab foto ini bukan laporan, tapi catatan rasa. Setiap pose, setiap tawa, setiap sarung di bahu punya ceritanya sendiri. Kami ingin foto-foto ini mengingatkan kami bahwa kebersamaan bukan hanya soal duduk dalam rapat atau berdiri di lapangan, tapi juga soal tertawa bersama di halaman masjid setelah shalat berjamaah.
Kami tidak sedang berfoto untuk pamer. Kami sedang belajar mengabadikan momen yang hidup di antara kami.
Karena kelak, ketika rambut mulai memutih dan langkah tak lagi ringan, foto-foto ini akan bercerita:
bahwa pernah, di suatu sore di Meulaboh, ada sekelompok Pendamping Desa yang berhenti sejenak, bukan untuk beristirahat dari tugas, tapi untuk mengingat bahwa perjalanan sejati selalu dimulai dari hati yang tenang dan tawa yang tulus.