Lentera di Masa Gelap: Mengenang Pak Bustami, S.Ag

Tidak ada komentar

“Lentera di Masa Gelap: Mengenang Pak Bustami, S.Ag”

(Memoar dari Alumni MAN 1 Bandar Dua Tahun 2004)

1. Bukan Tentang Kepergian, Tapi Tentang Kehidupan

Dalam setiap perjalanan manusia, ada sosok-sosok yang hadir bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk menyalakan api kecil di hati murid-muridnya. Api yang kelak menjadi cahaya bagi arah hidup.
Pak Bustami, atau yang kami panggil dengan hangat “Pak Tami”, adalah salah satunya. Kami memilih untuk tidak menceritakan bagaimana beliau pergi atau wafat, sebab yang lebih penting adalah bagaimana beliau menjalani hidup, penuh makna, dedikasi, dan cinta terhadap ilmu serta kemanusiaan. Yaitu murid muridnya.

Beliau adalah seorang guru yang bukan hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga di ruang batin kami. Sosok yang berjalan dengan langkah sederhana, berbicara dengan kata-kata tenang kadang tegas, namun setiap ucapannya menembus ruang hati dan pikiran mampu mengubah arah hidup banyak anak muda di masa itu.

Kami percaya, cara terbaik mengiringi kepergian seorang guru bukan dengan air mata, tetapi dengan menghidupkan kembali kenangan teladan dan semangatnya. Karena bagi kami, Alumni 2004, beliau tidak pernah benar-benar pergi. Beliau hanya berpindah tempat, dari ruang kelas di MAN 1 Bandar Dua menuju ruang kenangan dan doa kami yang tak bertepi.

2. Masa yang Tidak Mudah

Ketika kami mengenang masa-masa sekolah itu, suasananya jauh dari ideal. Aceh saat itu masih berada dalam bayang-bayang konflik. Banyak keluarga kehilangan arah, banyak anak muda kehilangan harapan dan tidak berani bermimpi,
Sekolah kami pun dulu tidak se maju sekarang dengan fasilitas cukup sehingga bisa menjadi Madrasah Favorit di kecamatan Bandar Dua seperti saat ini, MAN 1 Bandar Dua kala itu, sebuah sekolah kecil yang berdiri di tengah ketidakpastian sosial dan ekonomi. Fasilitas terbatas, bahkan rasa aman pun terbatas. Namun di tengah keterbatasan itu, ada sesuatu yang tumbuh: semangat. Dan semangat itu salah satunya datang dari sosok bernama Bustami, S.Ag, masih muda dan Energik sekali.

Beliau datang bukan sekadar mengajar Matematika, tapi menjadi simbol bahwa pendidikan bisa bertahan bahkan di tengah reruntuhan harapan.
Dalam setiap langkahnya, kami melihat keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya jalan keluar dari kegelapan.

Pak Tami sering berkata dengan nada lembut tapi tegas:

“Bagaimanapun caranya dan alasannya, kalian harus menamatkan MAN 1 Bandar Dua ini. Teruslah belajar, karena dengan belajar kalian akan menemukan arah hidup kalian sendiri.”

Kata-kata itu dulu kami anggap hanya nasihat biasa. Tapi kini, setelah waktu berlalu dan kami menua, kami baru sadar: kalimat itu adalah doa yang menyelamatkan kami dari kebodohan dan keputusasaan.

3. Guru yang Mengajar dengan Hati

Di antara banyak guru yang pernah kami temui, beliau termasuk yang paling sabar.
Beliau tidak memaksa murid untuk menjadi pandai, tetapi memotivasi agar kami tidak berhenti berusaha. Beliau tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membaca kemampuan dan kondisi setiap anak, lalu menyesuaikan cara mengajarnya.

Kami ingat bagaimana beliau sering berkata:

“Saya tidak ingin kalian semua menjadi sama. Cukup jadilah diri sendiri, tapi yang terus mau belajar.”

Bagi sebagian dari kami yang datang dari keluarga miskin, sekolah adalah kemewahan. Banyak di antara kami nyaris putus sekolah karena uang saku, seragam, atau sepatu. Namun, tanpa banyak kata, Pak Bustami sering kali membantu dari saku pribadinya.
Ada yang diberi uang untuk beli sepatu, ada yang dibelikan celana sekolah.
Beliau melakukannya diam-diam, tanpa pamer, tanpa membuat murid merasa rendah diri.

Hal-hal kecil seperti itu tidak pernah hilang dari ingatan kami. Di zaman konflik Aceh belum Damai, ketika banyak orang sibuk menyelamatkan diri sendiri, beliau masih sempat memikirkan murid-muridnya.

4. Ketegasan yang Membentuk Karakter

Meski lembut, beliau juga tegas.
Ketegasan itu bukan dalam bentuk kemarahan, tapi dalam prinsip. Beliau ingin kami paham bahwa disiplin adalah bagian dari kasih sayang.
Kami pernah mendengar beliau berkata kepada murid yang malas belajar:

“Saya marah bukan karena benci, tapi karena sayang. Saya ingin kalian hidup lebih baik dari saya. Ilmu itu tidak akan membuatmu kehilangan apa pun, malah memberimu segalanya.”

Ketegasan itu membuat kami belajar arti tanggung jawab.
Kami belajar bahwa menjadi pintar saja tidak cukup, harus punya karakter.
Dan karakter itu tumbuh bukan dari hafalan pelajaran, tapi dari teladan yang kami lihat setiap hari dalam diri beliau.

Pak Tami adalah sosok guru yang hadir di saat murid-muridnya hilang arah.
Beliau tidak hanya menuntun dengan kata, tapi dengan sikap.
Saat kami menyepelekan masa depan, beliau justru menaruh kepercayaan yang besar.
Saat kami putus asa, beliau percaya kami masih bisa berubah.

5. Di Tengah Konflik, Beliau Menjadi Harapan

Aceh kala itu adalah tanah yang terluka.
Konflik membuat banyak anak muda kehilangan arah, kehilangan figur panutan, bahkan kehilangan semangat untuk bermimpi.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran seorang guru yang peduli adalah berkah yang tak ternilai.

Pak Bustami menjadi salah satu figur yang kami anggap lentera di masa gelap itu.
Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu Matematika dan pelajaran sekolah, tetapi juga mengajarkan cara bertahan sebagai manusia.
Beliau tahu murid-muridnya hidup dalam tekanan psikis akibat konflik sehingga tidak berani bermimpi. Beliau tahu kami sering datang ke sekolah dengan hati kosong, takut, atau bingung.
Namun, beliau tidak menyerah.

Dalam setiap jam pelajarannya, beliau selalu berusaha menyelipkan pesan-pesan kehidupan:

“Kalian ini lahir di zaman sulit, tapi bukan berarti masa depan kalian harus sulit juga. Belajarlah, karena ilmu bisa membuka pintu yang bahkan perang pun tidak bisa tutup.”

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, kami baru benar-benar memahami makna ucapan itu.
Kami baru mengerti bahwa pendidikan adalah bentuk perlawanan paling damai terhadap kehancuran.

6. Cinta yang Tak Pernah Mengharap Balasan

Yang paling kami kagumi dari beliau bukan sekadar pengetahuan, melainkan cinta tanpa pamrih kepada murid-muridnya.
Beliau peduli bahkan ketika kami sendiri tidak peduli dengan diri kami.
Beliau gelisah saat ada murid ingin berhenti sekolah.
Beliau menanyakan kabar jika kami tidak masuk sekolah.
Beliau menegur jika kami salah jalan, tapi selalu dengan nada penuh kasih. Kepedulian Guru guru MAN 1 Bandar Dua salah satunya Pak Bustami seolah sebuah pengakuan bahwa kami bagian dari keluarga besar MAN 1 Bandar Dua secara Psikologis antara Guru dan Siswa.

Kini, kami baru tahu , itu bukan sekadar kewajiban seorang guru, tapi panggilan jiwa.

Bagi beliau, setiap murid adalah amanah.
Setiap anak yang datang ke sekolah adalah harapan kecil yang harus dijaga.
Dan mungkin karena itu, beliau begitu gelisah ketika ada murid menyerah pada keadaan.

Beliau tidak hanya mengajarkan pelajaran Matematika, tapi mengajarkan kepedulian.
Sebuah nilai yang, ketika kami dewasa, kami sadari menjadi pondasi moral dalam hidup kami hari ini.

7. Dari Ruang Kelas ke Ruang Hati

Kami masih bisa membayangkan bagaimana suasana kelas waktu itu.
Papan tulis sederhana, kipas angin yang sering mati, kursi kayu yang berderit, dan suara beliau yang tenang tapi tegas di depan kelas.
Setiap kali beliau masuk, ruangan seakan berubah. Ada wibawa, tapi juga kehangatan.

Beliau mengajar bukan untuk membuat kami takut, tapi untuk membuat kami berani berpikir.
Beliau tidak pernah menertawakan kesalahan murid, bahkan ketika kami menjawab salah, beliau tersenyum dan berkata:

“Tidak apa-apa salah. Yang penting kalian mau mencoba. Dari mencoba itu nanti muncul pengertian.”

Saya sendiri menjadi langganan Hanya berdiri saat beliau mempersilahkan menyelesaikan Soal matematika di papan tulis kapur, pasang wajah konyol sambil Garuk garuk kepala karena yakin jawaban saya pasti salah, di sambut senyum senyum kawan kawan lainnya dalam suasana hangat ruang belajar.

Kini, kalimat sederhana itu menjadi filosofi hidup bagi banyak dari kami.
Dalam bekerja, dalam berkeluarga, dalam menghadapi kesulitan hidup, kami belajar untuk tidak takut mencoba.

8. Warisan yang Tidak Terlihat Tapi Terasa

Kini waktu telah berjalan jauh.
Banyak di antara kami telah menjadi guru, dosen, pegawai, petani, pendamping desa, TNI,.Polri dan berbagai profesi lain. Tapi di dalam diri kami, ada potongan jiwa beliau yang hidup.

Setiap kali kami berdiri di depan orang lain untuk berbagi pengetahuan, kami seperti melihat bayangan beliau.
Setiap kali kami menasihati generasi muda yang kehilangan harapan seolah mempraktekkan kembali apa yang beliau lakukan kepada kami dulu, kami seperti mengulang kalimat beliau.
Dan setiap kali kami membantu seseorang tanpa pamrih, kami tahu, kami sedang meneruskan sesuatu yang pernah beliau tanamkan.

Itulah warisan sejati seorang guru.
Bukan gedung, bukan jabatan, tapi jejak kebaikan yang beranak pinak dalam kehidupan murid-muridnya.

9. Terima Kasih, Pak Bustami

Terima kasih, Pak Bustami
Terima kasih telah menjadi cahaya ketika zaman kami gelap.
Terima kasih telah peduli ketika banyak yang tidak peduli dalam melewati Pendidikan di masa masa Konflik Aceh,
Terima kasih telah percaya kepada kami ketika kami sendiri tidak percaya pada diri kami sehingga kami bisa menamatkan MAN 1 Bandar Dua.

Kini kami paham mengapa Bapak begitu tegas, mengapa Bapak begitu gelisah jika kami malas belajar dan tidak masuk sekolah.
Semua itu karena Bapak mencintai kami seperti seorang ayah mencintai anak-anaknya.

Kami mungkin dulu bandel, keras kepala, dan tak tahu arah. Tapi Bapak tidak pernah menyerah.
Bapak terus menyalakan lentera itu, sampai akhirnya cahaya kecil itu tumbuh dalam hati kami.

Dan cahaya itu, Pak… masih menyala sampai hari ini.
Ia hidup dalam cara kami berpikir, dalam cara kami mendidik anak-anak kami, dalam cara kami memperlakukan ilmu dengan hormat.

10. Epilog: Guru yang Tak Pernah Pergi

Bagi kami, Pak Bustami, S.Ag bukan hanya guru.
Beliau adalah simbol tentang makna sejati pendidikan, bahwa mengajar adalah perbuatan mencintai, dan mendidik adalah bentuk tertinggi dari pengabdian.

Kini beliau telah berpulang, tapi keteladanan beliau tidak akan pernah mati.
Kami, murid-muridnya, adalah saksi bahwa di tengah sejarah yang keras dan penuh luka masa Konflik Aceh, masih ada sosok yang mengajarkan kemanusiaan dengan cara paling lembut dan serius.

Selamat jalan, Pak Bustami
Semoga Allah menempatkan Bapak di taman-taman surga bersama para pendidik yang tulus.
Doa kami tidak akan berhenti, sebab bagi kami, seorang guru tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berpindah dari hadapan mata ke dalam hati murid-muridnya — untuk selamanya.

(Memoar ini ditulis dengan penuh cinta dan penghormatan oleh Alumni MAN 1 Bandar Dua 2004, sebagai ungkapan terima kasih abadi kepada almarhum Bapak Bustami, S.Ag — guru kami, teladan, dan cahaya di masa gelap Aceh.)

___

Oleh : Bustami, S.Pd.I - Alumni Tahun 2004 - Pendamping Desa


Komentar