PEDOMAN PRAKTIS DAN MUDAH DIPAHAMI BAGI TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL (TPP) PADA PENANGANAN BENCANA BANJIR DI KABUPATEN PIDIE JAYA
Tidak ada komentar
Beranda » Eksekusi Strategis » PEDOMAN PRAKTIS DAN MUDAH DIPAHAMI BAGI TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL (TPP) PADA PENANGANAN BENCANA BANJIR DI KABUPATEN PIDIE JAYA
Tidak ada komentar
PEDOMAN PRAKTIS DAN MUDAH DIPAHAMI BAGI TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL (TPP) PADA PENANGANAN BENCANA BANJIR DI KABUPATEN PIDIE JAYA
Berdasarkan Juknis Kemendesa PDTT 294/2025 — BAB II.C.6
Pendahuluan
Banjir adalah bencana yang paling sering terjadi di Pidie Jaya. Hampir setiap tahun, beberapa gampong terdampak oleh luapan sungai, hujan berkepanjangan, dan perubahan bentang alam. Kondisi ini bukan hanya merusak rumah warga, tetapi juga memutus akses jalan, menghentikan kegiatan ekonomi, dan mengancam jiwa manusia.
Dalam situasi inilah Tenaga Pendamping Profesional (TPP) memiliki peran penting. TPP bertugas memastikan bahwa desa tidak sendirian menghadapi bencana. Keberadaan PLD, PD, dan TAPM merupakan bukti bahwa negara hadir di tengah masyarakat, terutama pada saat-saat sulit.
Keputusan Menteri Desa PDTT Nomor 294 Tahun 2025, khususnya BAB II.C.6, memberikan panduan jelas mengenai apa saja yang harus dilakukan TPP dalam kondisi bencana. Esai ini menyederhanakan panduan tersebut sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan di lapangan.
I. DASAR HUKUM DAN PERAN STRATEGIS TPP
1. Dasar Hukum
Juknis 294/2025 memberikan mandat kepada TPP untuk:
Artinya, TPP bukan hanya “pembantu administrasi desa”, tetapi penggerak utama penanganan bencana di tingkat desa dan kecamatan.
2. Pembagian Peran TPP
Agar tugas berjalan efektif, TPP bekerja dalam struktur kolaboratif:
Ketiganya saling menguatkan dan tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.
II. PENYELAMATAN DIRI DAN BANTUAN AWAL
(Mengacu pada BAB II.C.6 huruf a dan b)
Ini adalah tahap paling kritis. Bencana tidak mengenal struktur birokrasi. Pada menit-menit awal, respons cepat menyelamatkan nyawa.
1. Menjaga Keselamatan Diri
Sebelum menolong warga, TPP harus memastikan dirinya aman. Prinsipnya sederhana:
2. Langkah yang Harus Dilakukan
Setelah aman, TPP membantu masyarakat untuk:
Mengungsi ke tempat aman
Membantu Keuchik mengevakuasi kelompok rentan
Menghubungi sumber bantuan awal
Semakin cepat laporan masuk, semakin cepat bantuan datang.
III. IDENTIFIKASI DAN PENDATAAN CEPAT
(Mengacu pada BAB II.C.6 huruf c dan d)
Pendataan adalah dasar dari seluruh proses penanganan bencana. Tanpa data, bantuan tidak tepat sasaran.
1. Apa saja yang didata?
TPP mendata:
2. Bagaimana melakukan pendataan cepat?
Gunakan metode sederhana:
Pendataan tidak harus rumit, tetapi harus cepat dan akurat.
3. Pelaporan
TPP wajib melaporkan:
Semua laporan sebisa mungkin dilengkapi:
IV. KOORDINASI ANTAR LEMBAGA
(Mengacu pada BAB II.C.6 huruf e dan f)
Bencana tidak bisa ditangani satu pihak saja. TPP menjadi penghubung utama antara desa dan pemerintah kabupaten.
1. Lembaga yang harus dihubungi
Tokoh adat dan agama sangat berpengaruh di Aceh. TPP perlu mengajak:
V. PERUBAHAN RKP DESA DAN APB DESA
(Bagian paling strategis dari BAB II.C.6 huruf g dan h)
Setelah penanganan darurat, desa harus menyesuaikan rencananya.
1. Mengapa perlu berubah?
Karena:
2. Langkah perubahan
TPP membantu desa untuk:
Contoh kegiatan yang bisa didanai:
TAPM memastikan:
(Mengacu pada BAB II.C.6 huruf i)
Mitigasi adalah persiapan jangka panjang agar bencana tidak lagi menyebabkan kerusakan besar.
1. Mitigasi Struktural
TPP membantu desa:
Hal-hal ini sama pentingnya:
Nilai-nilai lokal seperti:
TPP di Pidie Jaya memiliki peran besar dalam memastikan bahwa desa dapat bertahan, bangkit, dan kembali menjalankan kehidupan normal setelah banjir. Pekerjaan ini bukan hanya teknis, tetapi juga pekerjaan kemanusiaan. Kehadiran TPP memberi rasa aman, arah, dan harapan bagi masyarakat desa.
Dengan pedoman yang lebih mudah dipahami ini, diharapkan seluruh TPP: