Selamat Hari Guru Nasional — 25 November
Tidak ada komentar
Beranda » Cahaya Pendidikan Desa » Selamat Hari Guru Nasional — 25 November
Tidak ada komentar
Selamat Hari Guru Nasional 25 November
Sebuah Penghormatan Tulus dari Pendamping Desa
Ada cahaya yang selalu hadir di desa-desa kita, cahaya yang tidak mencari sorotan, tidak memburu pujian, dan tidak memamerkan diri. Cahaya itu lahir dari seorang guru, sosok yang mengabdikan hidupnya untuk menuntun anak-anak memahami dunia dan menemukan martabat dirinya. Mereka adalah pelita yang tak pernah padam, bahkan ketika harus menyala dalam keterbatasan.
Tanggal 25 November adalah hari yang kita hormati bersama. Pada hari ini, tahun 1945, para guru membentuk PGRI, menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus merdeka, bermartabat, dan berpihak pada rakyat. Semangat itu lahir dari api perjuangan Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan bukan hanya soal belajar, tetapi tentang pembebasan manusia, lahir dan batin.
Dan dalam perjalanan sejarah, sejak masa Taman Siswa hingga hari ini, guru sering dipandang sebagai sosok yang terlalu merdeka untuk nyaman bagi kekuasaan. Mereka membawa cahaya pembebasan, membangkitkan kesadaran, dan menumbuhkan keberanian berpikir. Itulah sebabnya, dari masa ke masa, selalu ada upaya untuk menjinakkan guru, membatasi ruang geraknya, atau meredupkan suara kebijaksanaan yang mereka bawa.
Namun, cahaya itu tidak pernah padam.
Ia tetap hidup di ruang-ruang kelas sederhana, di madrasah kecil, di sekolah-sekolah pelosok yang tidak pernah muncul di pemberitaan. Ia hidup melalui guru-guru yang begitu rendah hati hingga dunia nyaris tidak tahu nama mereka, tetapi anak-anak desa mengenang mereka seumur hidup.
Dan izinkan saya berkata dengan jujur:
Ucapan dari hati ini bukan untuk Guru guru yang sibuk pamer seragam PNS di media sosial.
Bukan untuk Guru Guru yang lebih sibuk berjoget di TikTok daripada membimbing anak-anak menemukan dirinya.
Ucapan ini bukan untuk popularitas. Atau untuk Guru yang suka Pamer Seragam di media sosial, bukan.
Ucapan ini adalah untuk guru-guru yang tidak terlihat.
Untuk guru yang tidak punya waktu bersolek di depan kamera, karena hari-hari mereka penuh dengan mengoreksi buku tulis, mendampingi murid yang kesulitan belajar, dan menguatkan anak-anak desa yang hampir menyerah.
Untuk guru yang tidak pernah viral, tetapi menjadi kompas moral dan etis bagi murid-muridnya.
Untuk guru yang menjaga kemuliaan profesinya tanpa perlu sorotan Kamera.
Untuk guru yang menjalankan amanah dengan sunyi, tetapi dengan hati yang bersinar terang.
Mereka menghidupkan falsafah Ki Hajar Dewantara:
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Dan mereka melakukannya bukan demi pujian, melainkan demi masa depan bangsa.
Untuk semua guru yang terus bertahan, yang tetap hadir meski jalan berlumpur, yang tetap mengajar meski fasilitas terbatas, yang masih percaya pada potensi setiap anak meskipun dunia sering meremehkan mereka, penghormatan terdalam ini untuk Anda.
“Terima kasih karena tetap bertahan.”
“Terima kasih karena tidak pernah lelah percaya.”
“Terima kasih karena menjaga cahaya pembebasan itu tetap hidup.”
Semoga Hari Guru ini menjadi pengingat bahwa bangsa yang merdeka tidak lahir dari ruang-ruang megah, tetapi dari kelas sederhana yang diisi cinta dan kebijaksanaan seorang guru.
Selamat Hari Guru Nasional 25 November.
Dari pelosok desa di seluruh Indonesia, kita menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih kepada para guru yang menjaga masa depan bangsa dengan hati yang paling jernih.
***
Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa.