Jika Banjir Datang Lagi: Aceh yang Perlahan Kehilangan Tempat untuk Pulang

Tidak ada komentar

Bagi sebagian orang, banjir adalah berita. Bagi warga Aceh, banjir 2025 adalah ingatan yang belum sempat sembuh. Lumpur masih menempel di dinding rumah yang tersisa. Bau kayu basah masih tercium di desa-desa yang hilang separuh badannya. Anak-anak masih terbangun malam hari karena suara hujan terasa seperti ancaman, bukan lagi berkah.

Sekarang bayangkan satu hal yang menakutkan: banjir itu datang lagi.

Bukan sebagai kejadian langka, tetapi sebagai tamu tahunan yang semakin kasar.

Jika di tahun-tahun berikutnya banjir bandang kembali terjadi tanpa perubahan apa pun, yang pertama hilang bukan rumah, melainkan rasa aman. Hujan deras tak lagi dinanti petani dengan harap, melainkan ditatap dengan cemas. Setiap awan gelap menjadi pertanyaan: “Apakah malam ini kami harus lari?”

Dan kali ini, orang-orang tidak lagi punya banyak tenaga untuk bangkit.

Desa-desa yang selamat pada 2025 akan menjadi rapuh. Sungai yang sudah dangkal akan meluap lebih cepat. Lereng yang gundul tidak lagi menahan air, hanya mengirim lumpur dan kayu dengan kecepatan mematikan. Banjir berikutnya tidak perlu sebesar sebelumnya untuk menghancurkan lebih banyak nyawa—cukup sedikit lebih cepat, sedikit lebih berat, sedikit lebih dekat ke pemukiman.

Korban jiwa tidak selalu mati terseret arus. Banyak yang akan mati pelan-pelan. Lansia yang kehabisan obat karena akses terputus. Bayi yang sakit diare karena air bersih tak kunjung datang. Ibu hamil yang terlambat dibawa ke rumah sakit karena jembatan darurat runtuh. Kematian yang tidak dramatis, tapi sunyi, dan sering luput dari headline.

Yang lebih menyakitkan adalah ketika rumah tidak lagi bisa disebut rumah. Sawah yang tertimbun lumpur tidak bisa ditanami lagi. Tanah yang dulu memberi makan keluarga kini hanya menyimpan genangan. Ternak hilang. Kebun rusak. Orang-orang tidak hanya kehilangan harta, tetapi kehilangan alasan untuk tetap tinggal.

Ketika itu terjadi berulang kali, pilihan menjadi sangat sempit: bertahan dan terus kehilangan, atau pergi tanpa tahu akan jadi apa.

Migrasi akan terjadi, pelan tapi pasti. Anak-anak tumbuh di pengungsian atau di kota-kota yang tidak pernah mereka pilih. Sekolah terputus. Identitas desa memudar. Tradisi yang hidup dari tanah dan sungai kehilangan pijakan. Aceh bukan hanya kehilangan wilayah, tetapi kehilangan cerita-cerita kecil yang membentuk siapa mereka sebenarnya.

Yang paling mengerikan bukan kehancuran fisik, melainkan kelelahan kolektif. Lelah untuk berharap. Lelah untuk membangun kembali. Lelah untuk percaya bahwa musim hujan berikutnya bisa dilewati dengan selamat. Ketika setiap tahun dimulai dengan ketakutan dan diakhiri dengan duka, manusia berhenti merencanakan masa depan. Mereka hanya bertahan dari satu hari ke hari berikutnya.

Semua ini bukan takdir buta. Ini bukan kutukan alam. Ini adalah akibat dari hutan yang dibiarkan habis, sungai yang dibiarkan rusak, dan kebijakan yang terlalu sering menunggu bencana untuk bertindak. Ketika negara datang hanya setelah air surut, yang tersisa hanyalah janji dan trauma.

Jika banjir terus berulang, Aceh bisa berubah menjadi wilayah yang hidup dalam status darurat permanen. Bukan karena warganya lemah, tetapi karena mereka dipaksa hidup di sistem yang rapuh. Di titik itu, bencana tidak lagi mengejutkan, ia menjadi rutinitas. Dan rutinitas bencana adalah bentuk kekerasan paling sunyi.

Aceh 2025 seharusnya cukup. Cukup untuk membuat kita berhenti menganggap banjir sebagai peristiwa, dan mulai melihatnya sebagai peringatan tentang cara kita memperlakukan alam dan manusia. Jika tidak, maka di tahun-tahun mendatang, yang tenggelam bukan hanya rumah dan sawah, tetapi harapan bahwa Aceh masih punya tempat yang aman untuk pulang.

***

Komentar