"Halo Masyarakat Sipil Sekalian”: Sapaan yang Mengajak Kita Bangun dari Tidur Politik

Tidak ada komentar

Tulisan ini mengkaji sapaan “Halo Masyarakat Sipil Sekalian” sebagai tindakan politik simbolik yang membangun kesadaran sipil. Sapaan tersebut memosisikan audiens sebagai subjek politik yang rasional dan bertanggung jawab, sekaligus mengkritik relasi kuasa negara warga serta menegaskan pentingnya masyarakat sipil aktif di era demokrasi digital.

Kalimat itu selalu datang di awal. Pendek, tenang, dan terdengar biasa saja: “Halo Masyarakat Sipil Sekalian.” Tidak ada teriakan, tidak ada embel-embel dramatis, tidak pula basa-basi yang dibuat manis. Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat ini terasa janggal di tengah lanskap konten politik yang riuh. Ia berhenti sejenak di kepala kita. Membuat kita sadar: kita sedang disapa bukan sebagai penonton, bukan sebagai pengikut, tapi sebagai sesuatu yang lebih serius, masyarakat sipil.

Di situlah letak kekuatannya.

Fery Irwandi tidak menyapa “teman-teman”, tidak memanggil “warganet”, dan tidak pula menepuk-nepuk pundak kita dengan sapaan populis yang akrab tetapi kosong. Ia memilih istilah yang berat, bahkan mungkin terasa kaku bagi sebagian orang. Namun justru pilihan itulah yang membuat sapaan ini bekerja. Ia tidak berusaha menyenangkan kita. Ia berusaha menyadarkan kita.

Sapaan yang Meminta Kita Berdiri Tegak

Bahasa selalu memosisikan orang. Ketika seseorang menyapa kita sebagai “penonton”, kita duduk dan menunggu. Ketika kita dipanggil “pendukung”, kita diminta loyal. Tetapi ketika kita disapa sebagai “masyarakat sipil”, kita diminta berdiri tegak, sebagai warga yang berpikir.

“Masyarakat sipil” bukan identitas yang nyaman. Ia bukan label yang bisa dipakai sambil lalu. Ia mengandung tuntutan: berpikir rasional, bersikap kritis, dan tidak menyerahkan sepenuhnya urusan publik kepada negara atau elite politik. Dengan satu kalimat pembuka itu, Fery Irwandi seolah berkata: kalau kamu ada di sini, maka kamu diajak untuk berpikir, bukan sekadar mengangguk.

Sapaan ini terasa presisi karena ia tidak merayu. Ia menempatkan kita sejajar, bukan di bawah. Tidak ada nada menggurui, tapi juga tidak ada upaya memanjakan. Kita diperlakukan sebagai orang dewasa dalam politik.

Dari “Rakyat” ke Subjek yang Sadar

Dalam wacana politik Indonesia, kata “rakyat” sering dipakai, tapi jarang diajak bicara sungguh-sungguh. Rakyat dipuji saat kampanye, disebut-sebut dalam pidato, tetapi sering kali hanya hadir sebagai latar belakang legitimasi kekuasaan. Mereka menjadi angka, massa, atau simbol penderitaan.

Sapaan “Halo Masyarakat Sipil Sekalian” menggeser posisi itu. Ia tidak melihat kita sebagai objek yang harus dibela, tetapi sebagai subjek yang harus sadar. Bukan orang yang hanya perlu dikasihani, melainkan warga yang punya kemampuan untuk menilai, mengkritik, dan mengambil sikap.

Ini penting, karena demokrasi tidak hidup dari rasa iba, melainkan dari kesadaran. Negara bisa saja berganti pemimpin, tetapi tanpa masyarakat sipil yang sadar, relasi kuasa akan tetap timpang: negara aktif, warga pasif.

Kritik Halus terhadap Negara yang Terlalu Nyaman

Sapaan ini juga menyimpan kritik, meski tidak diucapkan secara frontal. Ia mengingatkan bahwa negara bukan satu-satunya aktor penting dalam demokrasi. Ada ruang di luar negara, ruang warga, yang tidak boleh kosong.

Ketika masyarakat hanya menunggu negara bertindak, negara akan semakin nyaman mengatur segalanya. Ketika warga berhenti bertanya, kekuasaan berhenti merasa perlu menjelaskan. Dalam konteks ini, menyapa audiens sebagai masyarakat sipil adalah bentuk perlawanan yang sunyi tapi konsisten.

Ia seperti berkata: negara bukan orang tua kita, dan kita bukan anak kecil yang harus selalu diarahkan.

Sapaan sebagai Alarm Kesadaran

Di era media sosial, politik sering hadir sebagai hiburan. Kita menonton debat seperti menonton pertandingan. Kita marah, tertawa, lalu scroll ke konten berikutnya. Semuanya cepat berlalu, dangkal, dan jarang meninggalkan bekas pemikiran.

Sapaan “Halo Masyarakat Sipil Sekalian” bekerja seperti alarm kecil di awal video. Ia membangunkan kita dari mode konsumsi. Ia mengingatkan bahwa apa yang akan dibahas bukan gosip, bukan drama, tetapi persoalan publik yang menuntut perhatian dan nalar.

Pengulangan sapaan ini dari waktu ke waktu juga membangun kebiasaan. Tanpa disadari, kita mulai melihat diri kita bukan hanya sebagai individu dengan opini, tetapi sebagai bagian dari komunitas berpikir. Ada rasa tanggung jawab bersama untuk tidak asal percaya, tidak asal marah, dan tidak asal menyebar.

Rasionalitas sebagai Sikap Moral

Menjadi rasional sering dianggap dingin atau tidak berpihak. Padahal, dalam politik, rasionalitas adalah sikap moral. Ia adalah upaya untuk tidak memanipulasi emosi, tidak mengorbankan kebenaran demi kenyamanan kelompok.

Dengan menyapa audiens sebagai masyarakat sipil, Fery Irwandi menetapkan standar: di sini, emosi boleh ada, tetapi harus dituntun oleh akal. Kritik boleh keras, tetapi harus berdasar. Ketidaksetujuan sah, tetapi tidak boleh membabi buta.

Ini bukan ajakan untuk netral, melainkan ajakan untuk bertanggung jawab.

Menjadi Masyarakat Sipil di Era Digital

Hari ini, menjadi warga negara tidak lagi terbatas pada bilik suara. Ia hadir di kolom komentar, di tombol share, dan di pilihan kita untuk percaya atau meragukan sebuah informasi. Setiap tindakan kecil itu membentuk iklim demokrasi.

Sapaan “Halo Masyarakat Sipil Sekalian” mengingatkan bahwa layar tidak menghapus tanggung jawab. Justru di ruang digital yang bising inilah, masyarakat sipil diuji: apakah kita akan ikut arus, atau berani berhenti dan berpikir.

Sapaan yang Mengajak Kita Pulang

Pada akhirnya, sapaan ini terasa humanis karena ia jujur. Ia tidak menjanjikan keselamatan, tidak menawarkan kenyamanan, dan tidak menjual harapan palsu. Ia hanya mengajak kita pulang, pulang ke peran dasar kita sebagai warga yang sadar.

Setiap kali kalimat itu diucapkan, kita diingatkan bahwa demokrasi bukan milik mereka yang berkuasa, melainkan milik mereka yang mau berpikir. Dan selama masih ada orang yang berani menyapa kita sebagai masyarakat sipil, selalu ada harapan bahwa kesadaran itu belum benar-benar mati.

***

Komentar