Lautan Kayu Pasca Banjir Suara Alam yang Selama Ini Kita Abaikan

Tidak ada komentar

Pemandangan dalam foto itu menyesakkan dada: hamparan luas berisi kayu-kayu hanyut yang menutupi tanah seperti lautan tak bertepi. Bukan sekadar ranting atau dahan, tetapi batang-batang besar, seakan hutan utuh ikut terbawa oleh arus banjir. Di tengah lautan kayu itu, berdiri seorang pria yang tubuhnya berlumur lumpur. Ia memikul sebatang kayu di bahunya, mencoba bergerak di atas tanah yang baru saja digulung kekuatan alam.

Pertanyaannya sederhana namun menghentak: mengapa begitu banyak kayu berserakan? Ada apa sebenarnya?
Banjir memang datang dari hujan, tapi lautan kayu seperti ini bukan sekadar akibat derasnya air. Ia adalah penanda luka yang lebih dalam, luka alam.

Kayu-kayu itu adalah saksi bisu tentang apa yang terjadi jauh di hulu: pepohonan yang selama ini memeluk tanah, menjaga akar-akar air, memberi perlindungan pada desa-desa di bawahnya, kini terseret bersama arus karena tanah tak lagi mampu menahan beban. Sebagian mungkin akibat aktivitas manusia: penebangan liar, pembukaan lahan tanpa kendali, atau praktik yang mengabaikan keseimbangan alam. Sebagian lagi mungkin karena siklus alam yang semakin sulit diprediksi. Apa pun penyebabnya, lautan kayu ini adalah pesan keras: alam sudah lama bicara, hanya saja kita sering tidak mendengarnya.

Namun di balik ironi itu, foto ini juga memperlihatkan kekuatan lain, kekuatan manusia. Pria berlumpur itu tidak sekadar membersihkan kayu; ia sedang menata ulang hidupnya dari nol. Ia mungkin kehilangan rumah, kebun, atau sawah, tetapi ia tidak kehilangan kemauan untuk bangkit. Sikapnya seolah berkata, “Jika alam memukul, manusia tetap harus bangkit.”

Lautan kayu pasca banjir adalah cermin: ia memperlihatkan tumpukan masalah ekologis yang selama ini disimpan rapat di hulu. Tetapi ia juga menunjukkan keberanian sebuah desa yang memilih berdiri kembali di atas luka.

Setiap batang kayu yang diangkat adalah bagian dari proses penyembuhan, bagi alam, bagi desa, bagi diri mereka sendiri.

Di tengah kehancuran itu, ada harapan yang tetap tumbuh, pelan tapi pasti. Karena selama manusia masih mau memikul satu batang kayu, membersihkan satu sudut desa, saling mengangkat satu sama lain, maka tidak ada bencana yang benar-benar mampu mematahkan mereka.

Foto di ambil Dari Facebook : Teungku Jamaica

Oleh : Bustami, S.Pd.I


Komentar