Di Alue Keutapang, Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie Jaya, sungai tampaknya punya hobi baru: menyimpan koleksi kayu ilegal layaknya museum alam paling “inovatif” di Aceh. Tumpukan kayu itu rapi, terlalu rapi, hingga seolah sengaja dipajang seperti karya seni kontemporer. Bedanya, seni biasanya menginspirasi, sedangkan tumpukan ini hanya menghina alam dan pikiran kita.
Sungguh, tak ada yang lebih “kreatif” daripada mereka yang menebang pohon tanpa peduli. Mereka mampu menciptakan banjir kilat hanya dengan bermodalkan gergaji dan keserakahan. Dahsyat bukan? Kita harus mengakui, ambisi mereka mendobrak batas akal sehat. Jika penghargaan diberikan untuk orang-orang yang komit pada perusakan lingkungan, mungkin mereka layak mendapat nominasi internasional.
Namun, wajah mereka tetap penuh santun di depan publik:
“Ini musibah dari Tuhan,” katanya.
Ah, betapa piawainya mereka memindahkan dosa dari tangan sendiri ke langit. Bahkan Tuhan pun mungkin menggeleng, sambil berkata, “Aku sudah kasih pohon, kenapa kalian ubah jadi bencana?”
Kayu-kayu itu kini tertumpuk seperti kuburan kecil dari hutan-hutan yang mati. Setiap batangnya mengandung cerita: suara gergaji, tangan-tangan gelap, perut-perut rakus yang tak pernah kenyang oleh rupiah. Dan ketika sungai tak sanggup lagi mengalir karena sesak oleh tamu tak diundang itu, mereka hanya menatap datar, seolah berkata, “Ups, sungainya yang salah. Tidak adaptif terhadap kemajuan ekonomi kami.”
Betapa indahnya logika kaum serakah. Mereka menganggap sungai harus menyesuaikan diri dengan bisnis kayu yang menguntungkan. Mungkin sebentar lagi sungai akan diminta membayar pajak karena “menampung limbah kayu tanpa izin.”
Di Bandar Dua, wajah serakah itu tak punya nama resmi. Ia mengalir dari hutan ke tambang kayu, dari gergaji ke banjir, dari tumpukan uang sampai tumpukan bencana. Kita tak perlu poster buronan. Kita hanya perlu bercermin sebagai masyarakat:
Apakah kita diam sebagai penonton setia? Atau kita sebenarnya bagian dari tepuk tangan penutup setelah hutan dijadikan komedi tragis?
Pada akhirnya, sungai Alue Keutapang bukan hanya tersumbat oleh kayu. Ia tersumbat oleh ketamakan, pembiaran, dan ketidaktahuan yang sengaja dipelihara. Dan jika banjir datang, mungkin itu bukan air yang meluap. Itu adalah amarah alam yang muak melihat wajah-wajah serakah yang masih merasa suci.
Semoga suatu hari, kita tak hanya pandai menyalahkan langit. Semoga kita berani menatap bumi—dan bertanggung jawab pada luka yang kita buat sendiri. Sebelum sungai berubah menjadi kuburan, hutan menjadi kenangan, dan keserakahan menjadi budaya yang kita wariskan dengan bangga.
***
Bustami, S.Pd.I
0 Komentar