Tongkat yang Tidak Diangkat

Tidak ada komentar

Ketika Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan warga Aceh yang rumahnya hanyut, sawahnya rusak, dan hidupnya terhenti, lalu berkata bahwa ia “tidak mempunyai tongkat Nabi Musa”, banyak orang mengangguk. Kalimat itu terasa jujur. Terasa manusiawi. Seorang presiden, di tengah bencana, mengakui bahwa ia bukan nabi dan tidak bisa membuat keajaiban.

Masalahnya bukan pada kalimat itu.
Masalahnya adalah apa yang tidak menyusul setelahnya.

Sebab dalam negara modern, presiden memang tidak dituntut melakukan mukjizat. Tapi ia juga tidak dipilih untuk sekadar menjelaskan keterbatasan. Ia dipilih untuk mengambil keputusan paling berani justru ketika keadaan paling sulit.

Dan di sinilah keganjilan itu muncul:
Prabowo sebenarnya memegang “tongkat Nabi Musa” versi negara modern—tetapi tongkat itu tidak diangkat.

Tongkat Itu Bukan Mukjizat, Ia Bernama Keputusan

Tongkat Nabi Musa dalam cerita suci bukanlah kayu ajaib semata. Ia adalah simbol keberanian untuk bertindak ketika semua jalan tampak buntu. Musa mengangkat tongkatnya bukan karena ia yakin laut akan terbelah, tetapi karena umat di belakangnya tidak punya pilihan lain.

Dalam dunia sekarang, tongkat itu tidak lagi berbentuk mukjizat. Ia berbentuk: keputusan darurat, perintah langsung, pemotongan birokrasi, pembukaan bantuan internasional, dan keberanian menyingkirkan rasa takut akan citra politik.

Semua itu ada di tangan Presiden.

Jadi ketika dikatakan “kita tidak punya tongkat Nabi Musa”, yang sesungguhnya terjadi bukan ketiadaan alat, melainkan penahanan kehendak untuk menggunakannya.

Nasionalisme yang Terlalu Curiga

Di sekitar kekuasaan, selalu ada bisikan. Bukan bisikan jahat, tapi bisikan yang terdengar masuk akal: “Hati-hati, Pak Presiden.” “Jangan sampai terlihat lemah.” “Kalau terima bantuan luar, nanti dibilang tidak mampu.” “Kedaulatan kita bisa dipertanyakan.”

Inilah yang disebut nasionalisme defensif.
Nasionalisme yang terlalu curiga pada dunia luar.
Nasionalisme yang takut membuka pintu, bahkan ketika rumah sendiri sedang terbakar.

Masalahnya, banjir tidak peduli pada ideologi.
Air tidak berhenti hanya karena negara ingin terlihat berdaulat.
Dan rakyat yang kehilangan rumah tidak merasa lebih bermartabat hanya karena negaranya menolak uluran tangan.

Solidaritas global bukan ancaman.
Ia bukan penjajahan gaya baru.
Ia hanyalah manusia menolong manusia.

Banyak negara menerima bantuan saat bencana tanpa kehilangan martabat sedikit pun. Mereka tidak terlihat kecil. Mereka justru terlihat dewasa dan percaya diri.

Siapa yang Membisikkan Kehati-hatian Itu?

Bukan satu orang.
Bukan satu nama.

Ia adalah suasana.
Ia adalah kultur kekuasaan.

Pejabat yang takut disalahkan.
Penasihat yang khawatir citra presiden goyah.
Elite yang lebih nyaman dengan slogan “kita mampu sendiri” daripada kenyataan di lapangan.

Bisikan-bisikan ini pelan, sopan, rasional—tetapi jika terkumpul, ia membuat pemimpin ragu mengangkat tongkat yang sebenarnya sudah ada di tangannya.

Dan di saat yang sama, rakyat diminta bersabar.

Kesabaran Rakyat Bukan Alasan Negara Menahan Diri

Aceh adalah tanah yang tabah.
Terlalu tabah, bahkan.

Tapi kesabaran rakyat bukanlah alasan bagi negara untuk berjalan pelan. Justru karena rakyat sabar, negara harus berlari lebih cepat.

Empati itu penting.
Kata-kata itu perlu.
Tetapi empati tanpa keputusan hanyalah pelukan tanpa jalan keluar.

Tongkat Itu Ada, Rakyat Menunggu Diangkat

Prabowo benar: ia bukan nabi.
Ia tidak punya mukjizat.

Tetapi ia punya sesuatu yang sama pentingnya:
kekuasaan yang sah untuk bertindak luar biasa ketika keadaan luar biasa.

Tongkat itu ada.
Ia bernama keberanian.

Dan sejarah tidak akan bertanya apakah seorang presiden rendah hati dalam kata-katanya. Sejarah akan bertanya:

Ketika alat itu ada di tanganmu, dan rakyatmu berdiri di tepi laut penderitaan, mengapa engkau memilih untuk tidak mengangkatnya?

Negara tidak perlu membelah laut.
Ia hanya perlu tidak membiarkan rakyat berdiri terlalu lama di depannya.

***


Komentar