Dari Tangan Kecil, Kita Belajar Arti Peduli
Tidak ada komentar
Beranda » Belajar Berbagi » Dari Tangan Kecil, Kita Belajar Arti Peduli
Tidak ada komentar
RUANG ANALISIS - Di tengah debu jalanan dan deru kendaraan di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, ada sebuah pemandangan kecil yang nyaris tak mencolok, namun meninggalkan jejak panjang di hati siapa pun yang melihatnya.
Maryam melangkah pelan. Usianya baru tiga tahun tiga bulan. Tangannya mungil, menggenggam beberapa lembar masker. Wajahnya polos, matanya jernih—seolah dunia belum sempat mengajarinya alasan-alasan untuk tidak peduli.
“Ia belum tahu apa itu pandemi, tetapi ia sudah paham arti berbagi.”
Didampingi keluarganya, Maryam menghampiri satu per satu orang tua yang duduk di pinggir jalan tanpa mengenakan masker. Dengan suara cadel dan gerakan sederhana, ia mengulurkan masker itu. Tak ada pidato. Tak ada imbauan panjang. Hanya tindakan sunyi yang berbicara lebih lantang dari kata-kata.
Beberapa orang tersenyum haru. Ada yang menerima sambil berbisik pelan, “Terima kasih, Nak.” Ada pula yang menepuk lembut kepalanya, seolah sadar bahwa yang diterima sore itu bukan sekadar masker.
“Kadang, kepedulian terasa paling dalam justru ketika datang dari arah yang paling tak terduga.”
Bagi Maryam, ini mungkin hanya rutinitas sore. Bagian kecil dari bermain dan berjalan-jalan. Namun bagi warga yang menerima, perhatian dari seorang bocah kecil adalah pengingat yang kuat—bahwa kebaikan tidak menunggu usia, jabatan, atau kelimpahan.
Aksi sederhana itu perlahan berubah menjadi cermin. Jika seorang anak berusia tiga tahun saja sudah diajarkan untuk menjaga keselamatan orang lain, maka tanpa perlu diucapkan, muncul pertanyaan yang mengendap di benak kita semua.
“Jika anak kecil bisa peduli, apa alasan orang dewasa untuk abai?”
Kebaikan memang tidak selalu lahir dari tindakan besar. Ia sering muncul dari langkah pendek dan niat yang jujur. Dari tangan mungil yang diajarkan untuk memberi, bukan menunggu.
Maryam mungkin belum mengenal istilah “relawan” atau “kepedulian sosial”. Namun dari jalanan Meureudu dan Meurah Dua, ia sedang menanam benih empati.
“Empati tidak diwariskan lewat ceramah, tetapi lewat teladan.”
Dan sore itu, di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering terasa dingin, Maryam mengajarkan satu pelajaran besar dengan cara yang paling sunyi: berjalan pelan, mengulurkan tangan, dan membiarkan kebaikan bekerja dengan caranya sendiri.