BAB 2
KAPAL-KAPAL DI CAKRAWALA
Pagi itu udara berbau lain.
Nelayan-nelayan Kampung Kiran yang sudah puluhan tahun membaca laut dengan cara yang tidak bisa diajarkan di mana pun kecuali oleh laut itu sendiri — mereka merasakannya pertama kali. Bukan bau badai. Bukan bau hujan yang akan datang dari arah selatan. Ini adalah bau yang lebih tua dan lebih mengancam dari semua itu: bau logam panas dan asap hitam yang terbawa angin dari arah barat laut, dari wilayah laut yang seharusnya hanya berisi cakrawala kosong dan burung-burung camar.
Seorang nelayan tua bernama Pawang Mukhlis — yang giginya tinggal tiga dan matanya masih lebih tajam dari kebanyakan orang muda — berdiri di atas perahunya yang ditambatkan di muara Krueng Kiran, menghadap laut, tidak bergerak.
"Kapal," katanya akhirnya, kepada tidak siapa-siapa. "Banyak kapal."
Berita itu berlari lebih cepat dari kaki siapapun.
Dari mulut ke mulut, dari perahu ke warung kopi, dari warung kopi ke meunasah, dari meunasah ke rumah-rumah panggung yang berdiri di atas tiang-tiang kayu di sepanjang pesisir — berita itu merambat seperti api yang menemukan ilalang kering. Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh Kampung Kiran sudah tahu. Dan tidak butuh waktu jauh lebih lama dari itu bagi seluruh Samalanga untuk menahan napas.
Tanggal 8 Agustus 1877.
Dua belas kapal perang Belanda di bawah komando Kolonel Karel Van der Heyden telah diberangkatkan dari Ulee Lheue, dan kini mereka bergerak ke timur — ke arah Samalanga — seperti sebuah kalimat yang sudah ditulis dan tidak bisa dihapus lagi.
***
Di dalam rumah Teuku Chi'Bugeh, pemimpin Samalanga yang tubuhnya kurus namun matanya menyimpan kecerdasan yang tidak bisa disembunyikan, suasana sudah berubah sejak sebelum matahari mencapai puncaknya. Para ulee balang, para pemuka kampung, para tengku — mereka berdatangan satu per satu, duduk bersila di atas tikar pandan yang tergelar di ruang tengah yang luas, wajah-wajah mereka membawa ekspresi yang sama: campuran antara kewaspadaan dan kemarahan yang sedang berusaha keras menjaga bentuknya agar tidak meledak sebelum waktunya.
Abdurrahim duduk di antara mereka.
Ia bukan pemimpin politik. Ia bukan ulee balang dengan tanah dan pengikut. Ia hanya seorang teungku — seorang guru, seorang ulama yang datang dari Aceh Besar dengan bekal ilmu dan keyakinan. Tapi justru karena itulah semua orang yang hadir dalam ruangan itu, termasuk Teuku Chi'Bugeh sendiri, sesekali melirik ke arahnya. Ada sesuatu dalam cara Abdurrahim duduk — punggungnya tegak, tangannya tenang di atas lututnya, matanya tidak gelisah seperti mata orang-orang lain — yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa bahwa setidaknya ada satu hal di ruangan itu yang tidak akan runtuh.
"Belanda sudah di perairan kita," kata Teuku Chi'Bugeh, membuka pertemuan tanpa basa-basi. Suaranya datar — bukan karena ia tidak takut, tetapi karena ia tahu bahwa ketakutan, seperti api dalam tungku, harus dikendalikan agar ia memasak dan bukan membakar. "Besok atau lusa mereka akan mendarat."
Tidak ada yang menjawab seketika.
Di luar, angin bertiup melalui celah-celah dinding papan dan membuat nyala lampu minyak di tengah ruangan bergoyang — seolah cahaya itu pun sedang mempertimbangkan sesuatu.
Surat itu tiba keesokan harinya.
Dibawa oleh seorang utusan Belanda yang turun dari sekoci kecil di Peunilet Baroh dengan wajah yang berusaha terlihat tenang namun tangannya memegang topi militarnya terlalu erat — tanda bahwa ia tahu betul di tanah apa ia sedang berdiri. Surat itu ditulis dalam bahasa Belanda yang kemudian diterjemahkan oleh seseorang yang pernah belajar bahasa itu dari para pedagang, dan isinya, ketika sampai ke telinga Teuku Chi'Bugeh dalam bahasa Aceh, terdengar seperti sebuah penghinaan yang dibungkus dengan kesopanan:
Takluk dalam tempo dua puluh empat jam. Sebagai imbalannya, kalian akan hidup penuh kesenangan di bawah naungan kerajaan Belanda.
Teuku Chi'Bugeh membaca surat itu dua kali. Kemudian ia melipatnya dengan tenang, meletakkannya di atas tikar di hadapannya, dan menatap lipatan kertasnya selama beberapa saat seolah ia sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik lipatan itu.
"Dua puluh empat jam," ulangnya, pelan. Lalu, dengan nada yang sama sekali tidak berubah, ia berkata: "Berikan ini kepada utusan mereka. Katakan bahwa Teuku Nya'Hamzah harus turun ke darat dulu untuk menemui saya, sebelum perundingan apapun bisa dimulai."
Di sudut ruangan, Abdurrahim mendengar jawaban itu dan menutup matanya sebentar.
Ia mengerti.
Teuku Nya'Hamzah adalah penunjuk jalan Belanda — orang Aceh yang memilih memihak penjajah dan kini menjadi aset paling berharga mereka dalam rencana penaklukan Samalanga. Jika ia turun ke darat dan memasuki wilayah Samalanga, ia tidak akan kembali. Itu bukan ancaman. Itu adalah kebenaran yang tidak perlu diucapkan oleh siapapun karena semua orang di ruangan itu sudah mengetahuinya.
Belanda juga mengetahuinya.
Itulah sebabnya mereka tidak pernah menjawab surat Teuku Chi'Bugeh.
Dan ketika jawaban tidak datang dalam dua puluh empat jam — bukan dari Samalanga kepada Belanda, melainkan dari Belanda kepada Samalanga — semua orang tahu bahwa kata-kata sudah selesai melakukan tugasnya. Yang akan berbicara sekarang adalah sesuatu yang lebih keras dan lebih jujur dari kata-kata.
Malam itu, Abdurrahim berjalan sendirian ke tepi Krueng Kiran.
Sungai itu mengalir gelap dan tenang, memantulkan bintang-bintang yang bertaburan di langit Agustus — langit yang terlalu indah untuk malam yang menyimpan sebanyak ini di perutnya. Ia duduk di akar pohon bakau yang mencuat dari tanah seperti jari-jari tangan raksasa, dan ia diam lama sekali, mendengarkan suara air.
Ia memikirkan murid-muridnya.
Anak-anak yang tadi sore masih mengeja ayat-ayat Al-Quran di hadapannya dengan suara yang belum cukup bulat, yang giginya masih ada yang ompong karena baru tanggal, yang sandal mereka selalu meninggalkan jejak lumpur di lantai dayah. Ia memikirkan istrinya, Teungku Sa'adi, yang sudah tahu bahwa sesuatu sedang terjadi hanya dari cara Abdurrahim meletakkan mangguk nasinya di atas meja makan tadi malam. Ia memikirkan putrinya, Syarifah, yang tidur di balik dinding tipis kamar mereka dengan napas yang teratur dan damai seperti seseorang yang belum tahu bahwa dunia sedang berubah.
Tidak satu jengkalpun tanah ini boleh mereka injak tanpa perlawanan.
Bukan kalimat itu yang muncul di benaknya sebagai keputusan. Keputusan itu sudah ada jauh sebelumnya — sudah ada sejak ia pertama kali menginjak tanah Samalanga dan mencium baunya, sudah ada sejak ia berdiri di Arafah dan merasakan betapa kecilnya manusia dan betapa besarnya sesuatu yang harus dijaga oleh manusia-manusia kecil itu.
Yang muncul di benaknya malam itu, di tepi sungai yang gelap dan bintang-berbintang, adalah doa.
Ia berdoa dengan cara ulama berdoa — bukan meminta untuk menang, karena kemenangan ada di tangan Allah dan tidak bisa dipesan seperti barang di pasar. Ia berdoa untuk keteguhan. Untuk kejernihan pikiran di saat-saat yang paling gelap. Untuk agar ia tidak lari ketika waktunya tiba untuk berdiri.
Jauh di lepas pantai, di atas kapal perang Belanda yang berlabuh dengan jangkar di kedalaman Peunilet Baroh, Kolonel Karel Van der Heyden duduk di meja komandannya dan membuka peta Samalanga untuk yang kesekian kalinya malam itu.
Jarinya menelusuri garis pantai, melewati nama-nama tempat yang tertulis dalam huruf Belanda namun berbunyi dalam bahasa yang sama sekali berbeda di lidah orang-orang yang mendiaminya: Peunilet, Tambue, Kiran, Samalanga. Nama-nama itu terasa seperti teka-teki yang bentuknya indah tapi isinya berbahaya. Van der Heyden sudah berpengalaman. Ia sudah melihat banyak tempat, banyak perlawanan, banyak orang yang akhirnya takluk karena tidak punya pilihan lain.
Tapi ada sesuatu tentang jawaban Teuku Chi'Bugeh yang membuat matanya menyipit.
Orang yang cerdas, pikirnya. Orang yang tahu bahwa perang yang paling berbahaya bukan perang di medan terbuka, melainkan perang yang tidak bisa kamu prediksi kapan dan dari arah mana pukulannya akan datang.
Ia menutup peta itu.
"Besok kita bergerak," katanya kepada ajudannya, dalam bahasa Belanda yang dingin dan presisi seperti mekanisme jam. "Tanpa menunggu jawaban mereka."
Di tepi Krueng Kiran, Abdurrahim mengakhiri doanya.
Ia berdiri, menepuk tanah dari robenya, dan berjalan pulang ke kampung — melewati rumah-rumah yang jendela-jendelanya masih menyala dengan cahaya lampu minyak, melewati meunasah yang dari dalamnya terdengar suara seseorang mengaji dengan suara rendah dan terus-menerus seperti seseorang yang sedang berbicara kepada Tuhan dalam bahasa yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Besok, perang akan dimulai.
Dan Abdurrahim — ulama dari tanah rantau yang datang ke Samalanga hanya untuk mengajar anak-anak mengeja nama Tuhan — akan berubah menjadi sesuatu yang belum pernah ia bayangkan untuk dirinya sendiri, namun yang ternyata sudah lama menunggunya.
Seorang benteng.
Bersambung ke BAB 3


0 Komentar