KUTA GLEE : BENTENG TERAKHIR SAMALANGA (BAB 3)



BAB 3
SURAT YANG TAK TERJAWAB

Ada sebuah kebenaran yang hanya diketahui oleh orang-orang yang pernah berdiri di ambang perang — bukan di dalam perang, bukan setelah perang, melainkan tepat di ambangnya, di saat semua kemungkinan masih terbuka dan justru karena itulah semuanya terasa paling berat.

Kebenaran itu adalah ini: keputusan paling sulit bukan keputusan untuk bertempur. Keputusan untuk bertempur sebenarnya mudah — ia datang sendiri ketika semua pintu lain sudah tertutup, seperti api yang menyala sendiri ketika udara sudah cukup panas. Keputusan yang paling sulit adalah keputusan yang harus diambil *sebelum* semua pintu tertutup — ketika masih ada celah, masih ada kemungkinan, masih ada ruang untuk bertanya: *apakah ini jalan yang benar?*

Musyawarah Samalanga berlangsung tiga hari.

Hari pertama diisi dengan laporan-laporan.

Para pengintai yang dikirim ke pantai kembali dengan berita yang masing-masing lebih berat dari berita sebelumnya. Dua belas kapal. Meriam-meriam dengan laras yang panjangnya dua kali tinggi orang dewasa. Pasukan yang jumlahnya belum bisa dipastikan karena mereka terus bergerak keluar-masuk kapal seperti semut yang sedang membangun sarang baru. Di Peunilet Baroh, Belanda sudah mulai membangun kubu-kubu pertahanan — struktur kayu dan tanah yang dikerjakan dengan cepat dan efisien oleh tentara-tentara yang jelas sudah melakukan ini berkali-kali sebelumnya.

"Mereka membangun kubu," kata salah seorang pengintai, seorang pemuda bernama Daud yang nafasnya masih terengah setelah berlari dari pantai. "Bukan untuk bertahan. Untuk menyerang. Kubu itu menghadap ke dalam — ke arah kita."

Ruangan menjadi sunyi.

Di luar, hujan ringan mulai turun, mengetuk-ngetuk atap rumbia dengan ritme yang tidak tahu bahwa di bawahnya sedang diputuskan sesuatu yang akan mengubah nasib ribuan orang.


Hari kedua lebih keras.

Suara-suara mulai pecah ke dua arah, seperti sungai yang menemukan batu besar di tengahnya dan tidak bisa tidak membelah diri.

Ada yang berkata: berunding. Bukan karena takut — mereka bersumpah bukan karena takut — tetapi karena perhitungan. Belanda sudah menguasai Keraton Aceh. Belanda punya meriam dan kapal dan pasukan yang terlatih dan persediaan yang tidak habis-habis seperti air laut. Melawan mereka secara terbuka adalah seperti melempar batu ke besi tebal: batunya yang hancur, besinya yang tertawa.

Kita berunding," kata seorang pemuka tua yang dagunya gemetar bukan karena takut melainkan karena marah yang sudah terlalu lama ditahan. "Kita berunding, kita cari waktu, kita susun kekuatan. Perang gerilya bisa dilanjutkan setelah kita punya napas."

Ada yang berkata: perang sekarang. Bukan karena tidak sabar — mereka bersumpah bukan karena tidak sabar — tetapi karena keyakinan. Tanah ini bukan sekadar tanah. Tanah ini adalah tanah yang sudah disiram oleh keringat dan doa nenek moyang mereka selama berabad-abad. Menyerahkan satu jengkal saja kepada penjajah adalah pengkhianatan yang tidak bisa dicuci oleh air laut sekalipun.

"Kita lawan," kata seorang pemuda yang tangannya sudah memegang hulu rencongnya tanpa disadari. *Kita lawan sekarang, sebelum mereka sempat menancapkan kaki lebih dalam."

Dan di antara dua suara yang saling mendorong itu, ada satu suara yang belum bicara.

Abdurrahim berbicara pada hari ketiga.

Ia tidak berdiri. Ia tetap duduk bersila di tempatnya, dengan postur yang tidak berubah sejak tiga hari lalu, seolah ia adalah bagian dari lantai itu sendiri — bagian yang tidak tergoyahkan. Ketika ia mulai berbicara, ia tidak memulai dengan kata-kata tentang perang atau tentang perdamaian. Ia memulai dengan sebuah pertanyaan.

"Apa yang kita jaga?"

Ruangan menjadi hening.

"Bukan pertanyaan retoris," lanjutnya, suaranya tenang dan rendah seperti air dalam sumur yang dalam — kamu harus menunduk untuk mendengarnya, dan justru karena itu kamu mendengarnya lebih jelas. "Saya sungguh bertanya. Apa yang kita jaga?"

Tidak ada yang menjawab, sehingga ia melanjutkan sendiri.

"Jika yang kita jaga adalah tanah — maka perhitungannya memang seperti yang dikatakan saudara kita tadi: kita kalah jumlah, kita kalah persenjataan, kita mungkin kalah dalam pertempuran terbuka. Tapi jika yang kita jaga adalah sesuatu yang lebih dari tanah —" ia berhenti sebentar, membiarkan jeda itu terisi oleh pikiran masing-masing orang yang mendengarkan, "— maka perhitungannya berbeda. Karena sesuatu yang lebih dari tanah tidak bisa dirampas oleh meriam manapun."


Teuku Chi'Bugeh mendengarkan semua itu dengan matanya yang tajam tidak berkedip.

Ia adalah pemimpin yang sudah cukup tua untuk tahu bahwa keputusan terbaik jarang terasa seperti keputusan yang mudah, dan keputusan yang terasa mudah hampir selalu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di baliknya. Ia memutar pikirannya seperti seseorang yang memutar sebuah batu dari semua sisinya sebelum memutuskan di mana ia akan memukul.

Akhirnya ia berbicara.

"Kita tidak menerima takluk," katanya. Dan dalam tiga kata itu selesailah perdebatan tiga hari. "Tapi kita juga tidak menyerang tanpa persiapan seperti orang yang menubruk api dengan tangan kosong. Kita bangun pertahanan. Kita kirim jawaban kepada Belanda — jawaban yang meminta Teuku Nya'Hamzah turun ke darat. Kita lihat apa yang mereka lakukan setelahnya."

Lalu ia menatap Abdurrahim.

"Dan Kuta Glee," katanya, "harus diperkuat. Itu benteng kita yang paling penting. Teungku tahu apa yang harus dilakukan di sana."

Abdurrahim mengangguk satu kali.

Tidak ada kata-kata berlebihan. Tidak ada sumpah yang dramatis dengan tangan terangkat ke langit. Hanya anggukan — singkat, berat, dan final seperti pintu yang ditutup dari dalam.

Surat jawaban Teuku Chi'Bugeh dikirimkan kepada Van der Heyden pada hari itu juga.

Isinya sederhana: Samalanga bersedia berunding, dengan syarat bahwa Teuku Nya'Hamzah turun ke darat terlebih dahulu untuk menemui Teuku Chi'Bugeh.

Van der Heyden membaca surat itu di atas mejanya, di dalam kabin komandan kapal perangnya yang berbau tembakau dan minyak mesin. Ia membacanya sekali. Lalu ia melipatnya, meletakkannya di samping cangkir kopinya yang sudah dingin, dan menatap ke luar jendela kapal ke arah garis pantai Samalanga yang dari sini terlihat seperti garis hijau yang tenang — terlalu tenang.

Ia tidak menjawab surat itu.

Bukan karena ia tidak mengerti maksudnya. Justru karena ia mengerti terlalu baik.



Di Samalanga, ketika sore berganti malam dan malam berganti pagi dan pagi berganti sore lagi tanpa ada jawaban yang datang dari arah laut — orang-orang mulai bergerak.

Bukan dengan panik. Dengan cara yang jauh lebih berbahaya dari panik: dengan ketenangan yang disengaja, dengan tangan-tangan yang bekerja tanpa perlu diperintah karena masing-masing orang sudah tahu apa yang harus mereka kerjakan.

Para lelaki mulai memotong kayu di hutan belakang kampung untuk memperkuat pagar-pagar benteng. Para perempuan mengumpulkan bahan makanan, menyimpannya di tempat-tempat yang sudah ditentukan, memastikan tidak ada yang terbuang dan tidak ada yang kurang. Anak-anak yang lebih besar diminta membantu membawa batu-batu dari sungai ke atas bukit — batu-batu yang kelak, pada saat yang belum bisa mereka bayangkan saat ini, akan menjadi senjata yang paling sederhana dan paling efektif yang pernah digunakan di tanah Samalanga.

Dan di Kuta Glee, di atas bukit yang menghadap ke arah laut dan sungai sekaligus — posisi yang dipilih bukan secara kebetulan melainkan oleh orang-orang yang mengerti betul bahwa dalam perang, ketinggian adalah setengah dari kemenangan — Abdurrahim berdiri dan memandang ke bawah.

Dari sini ia bisa melihat seluruh Samalanga.

Bisa melihat atap-atap rumah yang tersusun di sepanjang pesisir seperti susunan batu di tepi sungai. Bisa melihat Krueng Kiran yang mengkilap seperti pita perak di antara hijau sawah dan hijau hutan. Bisa melihat, jauh di sana di garis cakrawala, titik-titik hitam kapal-kapal Belanda yang tidak kemana-mana — hanya menunggu, dengan kesabaran orang yang tahu bahwa waktunya ada di pihak mereka.

Benteng ini harus menjadi yang terakhir jatuh, pikirnya. Atau tidak jatuh sama sekali.

Malam itu ia mengumpulkan para pejuang yang akan bersama dengannya di Kuta Glee.

Mereka bukan tentara profesional. Mereka adalah nelayan yang meninggalkan jalanya di tepi sungai, petani yang meninggalkan cangkulnya di pinggir sawah, pedagang yang menutup kedainya lebih awal dari biasa. Mereka datang membawa rencong yang diasah sendiri, parang yang biasanya digunakan untuk membelah kelapa, tombak-tombak yang ujungnya diikat dengan benang rotan. Beberapa yang beruntung membawa senapan tua yang sudah berkali-kali diperbaiki sehingga kalibrnya sudah agak berbeda dari aslinya.

Abdurrahim memandang mereka satu per satu dalam cahaya obor yang bergoyang.

Wajah-wajah itu. Beberapa di antaranya adalah wajah yang ia kenal sejak pertama kali ia datang ke Samalanga — wajah-wajah yang pernah ia ajari mengaji, wajah-wajah yang ia nikahkan di meunasah kampung, wajah-wajah yang datang kepadanya ketika anak mereka sakit atau ketika pernikahan mereka retak atau ketika mimpi mereka terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Dan sekarang wajah-wajah itu memandangnya dengan pertanyaan yang sama — pertanyaan yang tidak diucapkan dengan kata-kata karena kata-kata terlalu kecil untuk menampungnya.

Apakah kita akan baik-baik saja?

Abdurrahim menarik napas panjang.


"Saya tidak akan berbohong kepada kalian," katanya akhirnya.

Suaranya tidak keras. Ia tidak perlu keras — malam itu cukup sunyi, dan orang-orang di hadapannya sudah cukup diam.

"Belanda lebih banyak dari kita. Senjata mereka lebih canggih dari senjata kita. Kapal mereka lebih besar dari rumah kita. Semua ini adalah fakta, dan saya tidak punya gunanya berpura-pura bahwa fakta-fakta itu tidak ada."

Ia berhenti sebentar. Angin lewat di antara mereka dan membuat api obor melengkung ke satu arah.

"Tapi saya juga tahu satu hal lain," lanjutnya. "Mereka berperang untuk memperluas kekuasaan. Kita berperang untuk mempertahankan rumah. Dan dalam semua perang yang pernah dicatat oleh sejarah manusia, orang yang berperang untuk rumahnya selalu lebih berbahaya daripada orang yang berperang untuk ambisinya. Karena orang yang berperang untuk ambisi bisa berhenti ketika ambisinya berubah. Tapi orang yang berperang untuk rumahnya — ia tidak punya tempat untuk berhenti."

Keheningan.

Kemudian dari suatu tempat di antara kerumunan itu, suara seorang lelaki — suara yang berat dan rendah dan agak serak seperti suara orang yang sudah terlalu banyak menelan angin laut — berkata pelan:

"Allahu Akbar."

Dan seperti api yang menemukan ilalang kering untuk kedua kalinya malam itu, suara itu menjalar — dari satu mulut ke mulut lain, dari satu dada ke dada lain — sampai seluruh lereng bukit Kuta Glee itu gemetar dengan suara yang bukan suara perang melainkan suara sesuatu yang jauh lebih tua dari perang.

Suara keyakinan.

Di lepas pantai Samalanga, kapal-kapal Van der Heyden masih berlabuh dengan tenang.

Lampunya berkedip-kedip di atas air hitam seperti bintang-bintang palsu — lebih terang, lebih pasti, lebih dingin dari bintang yang sesungguhnya. Di atas kapal-kapal itu, para serdadu Belanda mengasah bayonet mereka, memeriksa amunisi mereka, dan tidur dengan cara orang-orang yang belum pernah bertempur di tanah yang bukan tanah mereka — belum pernah merasakan bahwa ada sesuatu dalam tanah asing yang tidak akan pernah menerima kehadiran mereka, tidak peduli seberapa dalam mereka menginjaknya.

Besok mereka akan turun ke darat.

Dan Kuta Glee akan menunggu mereka — tegak, diam, dan siap — di atas bukitnya yang menghadap ke laut.

***

Bersambung ke BAB 4

Posting Komentar

0 Komentar