Sejarah Perang Aceh di Samalanga: Kisah Ulama dari Tanah Rantau yang Mengubah Segalanya (BAB 1 : Ulama Dari Tanah Rantau)

BAB 1
ULAMA DARI TANAH RANTAU

Angin dari Selat Malaka selalu datang pada waktu yang sama — menjelang Ashar, ketika cahaya matahari mulai berubah warna menjadi kuning tembaga di atas atap-atap rumah panggung Kampung Kiran. Angin itu membawa bau garam dan aroma tanah gambut yang khas, aroma yang dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai dikenali oleh seorang pendatang dari Aceh Besar sebagai bau kampung halamannya sendiri.

Namanya Abdurrahim.

Nama lengkapnya terlalu panjang untuk lidah orang-orang kampung yang sudah jatuh sayang padanya: Teungku Haji Syekh Abdurrahim, ibnu Teungku Haji Hasan, ibnu Teungku Haji Tam, ibnu Teungku Tuha. Nama itu membawa silsilah seperti sebatang pohon dengan akar yang dalam, menancap jauh ke tanah Aceh Besar tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Tapi di Kampung Kiran, di pesisir Samalanga yang hijau dan murah hati ini, orang-orang cukup memanggilnya Teungku — dan dalam satu kata itu tersimpan hormat yang tak perlu diucapkan dua kali.

Perjalanan hidup Abdurrahim bukanlah perjalanan yang lurus.

Ia lahir di Aceh Besar, di sebuah kampung yang tanahnya merah dan langitnya selalu terasa lebih rendah dari tempat lain — seolah Allah sengaja mendekatkan langit kepada orang-orang yang tekun berdoa di sana. Ayahnya, Teungku Haji Hasan, adalah seorang yang dihormati di kampungnya, dan dari ayahnya itulah Abdurrahim pertama kali belajar bahwa ilmu bukan sekadar yang dibaca dari kitab, melainkan yang dihidupi setiap hari dalam cara berdiri, cara berbicara, cara memandang orang lain.

Dalam usia yang masih belia, ia telah duduk di hadapan ulama-ulama terpandang Aceh — para tuan guru yang mengajar dengan cara lama: murid duduk bersila di lantai dayah, angin masuk dari celah-celah dinding bambu, dan suara sang guru mengalun bersama suara hujan di luar. Di situlah Abdurrahim belajar tauhid, fiqh, tasawuf, dan ilmu-ilmu yang kelak akan ia butuhkan bukan hanya di atas mimbar, tetapi di atas tanah yang basah oleh darah.

Dari ulama-ulama itu ia mendapat lebih dari sekadar ilmu. Ia mendapat dorongan — kuat dan terus-menerus — untuk menjadikan dirinya berguna bagi orang lain. "Ilmu yang tidak diamalkan," kata gurunya suatu hari ketika cahaya sore jatuh miring di atas lembaran kitab kuning, "adalah seperti pohon yang berbunga tapi tak berbuah. Indah dipandang, tapi perut orang lapar tetap lapar."

Kata-kata itu menancap dalam di dadanya seperti pasak besi.

Setelah beberapa tahun mengaji dan hidupnya terasa sudah cukup penuh dengan kata-kata guru dan aroma tinta Arab, Abdurrahim meminta izin — kepada orang tuanya, kepada gurunya — untuk merantau. Bukan merantau untuk mencari peruntungan seperti kebanyakan lelaki muda. Ia merantau untuk mengembangkan dakwah, membawa cahaya ke tempat-tempat yang belum cukup terang.

Sebelum berangkat ke rantau, ada satu hal yang harus ia tunaikan terlebih dahulu.

Mekkah.


Kapal yang membawanya ke Tanah Suci penuh dengan orang-orang dari seluruh penjuru Nusantara. Di geladak kapal yang berderit diombang-ambing Samudra Hindia, Abdurrahim berdiri di antara para haji tua dan para pedagang yang berdoa dengan bibir gemetar. Ia tidak gemetar. Matanya terbuka lebar menatap cakrawala — bukan karena ia tidak takut, tetapi karena rasa takutnya telah berubah wujud menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Di Mekkah ia tinggal cukup lama. Ia tawaf, ia sa'i, ia wukuf di Arafah di bawah terik matahari yang terasa seperti tangan Tuhan sedang menekan ubun-ubun seluruh manusia sekaligus. Di sana ia bukan lagi anak dari Aceh Besar. Di sana ia hanyalah satu butir pasir di antara jutaan butir pasir yang masing-masing punya nama, punya sejarah, punya duka. Dan dalam kesamaan itulah ia menemukan kebesaran.

Sepulang dari Mekkah, ada sesuatu yang berbeda pada caranya berjalan. Lebih tegak. Lebih tenang. Seperti seseorang yang sudah tahu ke mana ia akan pergi meski belum tahu jalan mana yang akan ia tempuh.

Ia menetap di Kampung Kiran, Samalanga.

Kedatangannya disambut dengan baik oleh masyarakat setempat — terlalu baik, bahkan, hingga orang-orang kampung kemudian memintanya untuk menetap dengan cara yang paling tak terbantahkan: mereka mencarikannya istri.

Ia menikah dengan Teungku Sa'adi binti Teungku Nya'Bale — perempuan dari keluarga yang dihormati, yang matanya selalu terlihat seperti sedang berpikir tentang sesuatu yang lebih dalam dari apa yang sedang dibicarakan orang lain. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang mereka beri nama Teungku Syarifah. Kemudian, mengikuti tradisi yang lumrah pada zamannya, Abdurrahim menikah lagi dengan Cut Mbang, dan dari pernikahan kedua ini lahirlah seorang putra, Teungku Muhammad Badal.

Di dayah meunasah Mesjid Pulo Baroh Batee Iliek, ia mulai mengajar. Murid-muridnya adalah anak-anak nelayan, anak petani sawah, anak-anak yang sebelumnya menghabiskan sore mereka di tepi sungai menangkap ikan dengan tangan kosong. Kini mereka duduk di hadapannya, mengeja alif-ba-ta dengan lidah yang masih bau lumpur sawah, dan Abdurrahim mengajar mereka dengan sabar — sabar seperti sungai yang tahu bahwa lamunan jauh ke depan.


Itulah dunia Abdurrahim sebelum semuanya berubah.

Sebuah dunia kecil, namun sempurna dengan caranya sendiri: suara azan yang bergulir dari meunasah ke meunasah di sepanjang pesisir Samalanga, aroma kopi hitam dari dapur-dapur perempuan yang bangun sebelum subuh, suara anak-anak mengaji yang bercampur dengan suara ombak dan angin pagi. Samalanga adalah tempat yang belum pernah mengenal kata perang dalam pengertian yang sungguhan — perang meriam, perang kapal, perang yang meninggalkan lubang-lubang di tanah dan di dada orang-orang yang masih hidup.

Tapi sejarah tidak pernah meminta izin sebelum datang.

Jauh di barat, di Keraton Aceh yang kini sudah berganti tuan, ada sebuah kekuatan yang sedang bergerak ke timur — perlahan, metodis, dengan kapal-kapal besi dan meriam-meriam yang tidak pernah lelah. Belanda sudah berhasil merebut jantung Aceh. Kini mereka menginginkan seluruh tubuhnya.

Dan suatu hari di bulan Agustus 1877, orang-orang di pesisir Samalanga akan melihat sesuatu di cakrawala yang membuat mereka berhenti bergerak sejenak, memicingkan mata, lalu berlari pulang untuk memberitahu orang-orang yang mereka cintai.

Kapal-kapal itu datang.

***

Bersambung... BAB II

____

Oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa 

Posting Komentar

0 Komentar