Malam itu balai desa terasa lebih sempit dari biasanya. Kursi-kursi plastik berderit pelan ketika beberapa warga bergeser gelisah. Di sudut ruangan, kipas angin tua berputar lambat seperti ikut menahan napas. Aroma kopi hitam bercampur asap rokok menggantung di udara, sementara suara-suara mulai meninggi di atas meja rapat yang dipenuhi map lusuh dan botol air mineral setengah kosong.
Persoalannya terdengar sederhana: saluran irigasi untuk sawah siapa yang harus didahulukan. Namun seperti bara dalam sekam, sengketa air itu ternyata menyimpan tumpukan kekecewaan lama—tentang tanah, tentang kuasa, tentang siapa yang merasa paling berhak atas desa yang sama-sama mereka pijak.
Seorang petani tua berdiri dengan mata memerah. Tangannya bergetar ketika menunjuk arah jendela yang menghadap hamparan sawah gelap di luar sana.
“Air itu bukan milik satu orang. Tapi kenapa yang selalu basah sawah orang yang dekat dengan kekuasaan?”
Ruangan mendadak hening. Kalimat itu meluncur seperti batu yang dilempar ke permukaan danau tenang—menciptakan riak yang membuka luka-luka lama.
Di desa, konflik sumber daya jarang benar-benar soal tanah atau air semata. Ia sering berubah menjadi cermin tentang relasi manusia: tentang ego yang tumbuh diam-diam, tentang rasa memiliki yang berubah menjadi rasa menguasai. Ketika kepentingan pribadi mulai memakai baju kepentingan umum, maka musyawarah tak lagi menjadi ruang mencari jalan keluar, melainkan arena mempertahankan pengaruh.
Padahal desa sejatinya dibangun dari kesadaran bahwa hidup harus dibagi bersama. Air mengalir bukan hanya untuk satu pematang. Tanah subur tidak lahir untuk satu keluarga saja. Tetapi dalam praktiknya, manusia sering lupa bahwa keserakahan memiliki kemampuan mengeringkan mata hati lebih cepat daripada musim kemarau mengeringkan sungai.
Di tengah situasi seperti itu, Tenaga Pendamping Profesional sering hadir seperti jembatan gantung di atas jurang. Di satu sisi ada elit desa dengan kepentingan politik dan pengaruhnya. Di sisi lain ada warga yang membawa harapan, amarah, sekaligus rasa tidak percaya. Pendamping harus berdiri di tengah, menjaga agar musyawarah tidak runtuh menjadi permusuhan.
Namun menjadi penengah tidak pernah mudah.
Kadang pendamping dianggap terlalu membela warga ketika bicara soal keadilan. Di lain waktu dianggap terlalu dekat dengan pemerintah desa ketika mencoba menjaga stabilitas. Mereka berjalan di garis tipis yang mudah patah oleh prasangka.
“Pendamping sering diminta netral di tengah situasi yang tidak netral.”
Dan mungkin di situlah letak kesunyian profesi itu. Mereka bekerja di ruang yang jarang dipahami: ruang tempat idealisme bertemu tekanan, tempat aturan bertabrakan dengan relasi kuasa, tempat kemanusiaan diuji oleh kepentingan.
Konflik sumber daya desa sesungguhnya bukan sekadar soal pembagian hasil atau batas wilayah. Ia adalah ujian tentang seberapa jauh masyarakat masih mampu melihat desa sebagai rumah bersama. Sebab ketika setiap orang mulai merasa paling berhak, desa perlahan berubah menjadi kumpulan pagar yang saling meninggikan diri.
Padahal keadilan tidak selalu lahir dari angka-angka pembagian yang tampak rapi di atas kertas. Ada sesuatu yang lebih halus namun jauh lebih penting: rasa saling memiliki. Sebab orang bisa menerima bagian yang kecil jika hatinya merasa dihargai. Tetapi sebesar apa pun jatah yang diterima, ia tetap terasa sempit bila prosesnya dipenuhi ketidakpercayaan.
Desa yang sehat bukan desa tanpa konflik. Sebab selama manusia hidup bersama, perbedaan kepentingan akan selalu ada. Yang menentukan adalah apakah konflik itu diselesaikan dengan kesadaran sebagai sesama penghuni rumah, atau justru dengan hasrat saling mengalahkan.
Malam semakin larut ketika rapat akhirnya selesai tanpa tepuk tangan. Warga pulang membawa wajah lelah dan pikiran yang belum benar-benar reda. Di luar, suara air dari parit kecil terdengar lirih melewati bebatuan, tetap mengalir meski manusia terus bertengkar tentang siapa yang paling berhak atasnya.
Dan mungkin, di situlah ironi terbesar kita: alam selalu tahu cara berbagi, sementara manusia justru terus belajar bagaimana caranya merasa cukup.
“Keadilan bukan hanya tentang siapa mendapat lebih banyak, tetapi tentang apakah setiap orang masih merasa menjadi bagian dari rumah yang sama.”
Lalu pertanyaannya, ketika desa mulai dipenuhi perebutan kepentingan, apakah kita masih benar-benar melihat satu sama lain sebagai sesama warga… atau hanya sebagai pesaing yang kebetulan tinggal di tanah yang sama?
0 Komentar