GENERASI YANG DITUDUH, STRUKTUR YANG DISEMBUNYIKAN

GENERASI YANG DITUDUH, STRUKTUR YANG DISEMBUNYIKAN

Membaca Kecemasan Moral Aceh sebagai Gejala Krisis yang Lebih Besar

Hati ini, sedih sekali, setiap melihat masih ada anak-anak muda kita yang terjerumus dalam pergaulan dan aktivitas yang merusak masa depan mereka. Mereka adalah generasi Aceh yang seharusnya tumbuh dengan pendidikan, akhlak, dan lingkungan yang baik. Ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama keluarga dan orang tua, untuk lebih hadir dan menjaga anak-anak kita.

Namun di sisi lain, penegakan syariat Islam di Kota Banda Aceh harus tetap tegak dan berjalan sebagaimana mestinya. Penindakan ini bukan semata menghukum, tetapi juga bentuk ikhtiar menjaga marwah kota dan menyelamatkan generasi muda kita dari jalan yang salah (Walikota Banda Aceh - Illiza Saaduddin Djamal)

Ada satu kecenderungan yang terus berulang dalam sejarah manusia.

Ketika sebuah masyarakat mulai merasa cemas terhadap masa depannya, yang pertama kali dicurigai hampir selalu adalah generasi mudanya.

Mereka dianggap terlalu bebas.

Terlalu berani.

Terlalu jauh meninggalkan tradisi.

Terlalu dekat dengan pengaruh luar.

Terlalu berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Keluhan semacam ini dapat ditemukan di hampir seluruh peradaban besar.

Di Yunani Kuno, para filsuf mengeluhkan kemerosotan karakter kaum muda.

Di Kekaisaran Romawi, para elite menuduh generasi baru telah kehilangan disiplin moral yang dahulu membesarkan Roma.

Dalam sejarah Islam, para ulama di berbagai zaman juga berulang kali mengingatkan tentang bahaya kerusakan generasi.

Di Eropa modern, keluhan serupa terus muncul pada setiap gelombang perubahan sosial.

Setiap generasi tua hampir selalu merasa bahwa dunia yang diwariskan kepada anak-anak mereka sedang bergerak ke arah yang salah.

Karena itu, ketika seorang pemimpin daerah mengungkapkan kesedihannya melihat anak-anak muda yang dianggap terjerumus ke dalam aktivitas yang merusak masa depan mereka, pernyataan tersebut sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai individu-individu tertentu.

Ia berbicara tentang kecemasan yang jauh lebih besar.

Ia berbicara tentang kegelisahan sebuah masyarakat yang sedang berhadapan dengan perubahan zaman.

Ia berbicara tentang ketakutan bahwa nilai-nilai yang selama ini dianggap kokoh perlahan kehilangan daya pengikatnya.

Namun ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar apakah generasi muda sedang mengalami kemerosotan moral.

Pertanyaan itu adalah:

Mengapa masyarakat selalu lebih mudah mencurigai generasi mudanya daripada mencurigai struktur yang membentuk kehidupan generasi muda tersebut?

Di sinilah persoalan sebenarnya dimulai.

Kesalahan Tertua Dalam Membaca Realitas

Salah satu kesalahan intelektual paling tua adalah kebiasaan membingungkan gejala dengan penyebab.

Ketika seseorang mengalami demam, demam bukanlah penyakit.

Demam adalah tanda.

Demam adalah pesan.

Demam adalah bahasa yang digunakan tubuh untuk memberitahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi.

Tetapi masyarakat sering melakukan hal yang berbeda ketika berhadapan dengan fenomena sosial.

Mereka melihat gejala lalu menganggap gejala itu sebagai akar masalah.

Mereka melihat kenakalan remaja, lalu menyimpulkan bahwa masalahnya adalah moralitas remaja.

Mereka melihat penyimpangan perilaku, lalu menyimpulkan bahwa masalahnya adalah karakter individu.

Mereka melihat pelanggaran norma, lalu menyimpulkan bahwa masalahnya adalah lemahnya pengawasan.

Padahal gejala sosial tidak pernah lahir dari ruang kosong.

Ia lahir dari struktur.

Ia lahir dari sejarah.

Ia lahir dari kondisi yang lebih besar daripada individu itu sendiri.

Karena itu, ketika sebagian generasi muda mengalami krisis orientasi hidup, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan:

"Mengapa mereka menyimpang?"

Melainkan:

"Struktur sosial seperti apa yang menghasilkan penyimpangan tersebut?"

Perubahan cara bertanya ini tampak sederhana.

Namun sesungguhnya ia mengubah seluruh arah analisis.

Ia memaksa kita keluar dari logika penghakiman menuju logika pemahaman.

Ia memindahkan fokus dari pelaku menuju kondisi.

Dari individu menuju sistem.

Dari moralitas menuju sejarah.

Generasi yang Lahir Dalam Dunia yang Tidak Pernah Stabil

Banyak generasi tua masih melihat dunia melalui pengalaman masa mudanya.

Ini manusiawi.

Tetapi di sinilah sering muncul kesalahpahaman terbesar.

Generasi muda Aceh hari ini tidak hidup dalam dunia yang sama dengan dunia yang pernah dihuni orang tua mereka.

Mereka hidup dalam dunia yang jauh lebih rumit.

Jauh lebih cepat.

Jauh lebih cair.

Jauh lebih tidak pasti.

Mereka lahir dalam era internet.

Mereka tumbuh bersama media sosial.

Mereka berinteraksi dengan budaya global sejak usia yang sangat muda.

Mereka menerima ribuan pesan budaya setiap hari.

Bukan setiap bulan.

Bukan setiap minggu.

Tetapi setiap hari.

Setiap detik.

Seorang remaja di Banda Aceh hari ini dapat mengakses budaya Korea Selatan, Amerika Serikat, Turki, Jepang, Timur Tengah, Jakarta, dan Eropa dalam waktu yang bersamaan.

Ia hidup dalam ruang yang secara geografis berada di Aceh, tetapi secara budaya berada di banyak dunia sekaligus.

Inilah situasi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.

Akibatnya, banyak instrumen sosial tradisional kehilangan sebagian efektivitasnya.

Keluarga tidak lagi menjadi satu-satunya sumber nilai.

Sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.

Tokoh agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber otoritas moral.

Negara tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi.

Semuanya kini bersaing dengan algoritma.

Dan algoritma tidak mengenal batas budaya.

Tidak mengenal batas agama.

Tidak mengenal batas negara.

Ia hanya mengenal perhatian manusia sebagai komoditas.

Kapitalisme Digital dan Krisis Jiwa Generasi Muda

Ada satu faktor yang sering hilang dari perdebatan moral di Aceh maupun Indonesia secara umum.

Yaitu kapitalisme digital.

Banyak orang berbicara tentang kerusakan moral generasi muda.

Namun sangat sedikit yang berbicara tentang industri global bernilai triliunan dolar yang secara aktif memproduksi kecanduan perhatian.

Setiap hari generasi muda hidup dalam lingkungan yang dirancang untuk membuat mereka terus terhubung.

Terus mengonsumsi.

Terus membandingkan diri.

Terus mencari validasi.

Mereka hidup dalam ekonomi yang memperoleh keuntungan dari kecemasan manusia.

Media sosial tidak menjual kebahagiaan.

Ia menjual perhatian.

Dan perhatian paling mudah diperoleh melalui emosi ekstrem:

kemarahan,

ketakutan,

hasrat,

kecemburuan,

sensasi.

Akibatnya generasi muda tumbuh dalam lingkungan psikologis yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia.

Kita kemudian terkejut ketika menemukan krisis kesehatan mental.

Krisis identitas.

Krisis konsentrasi.

Krisis makna.

Padahal semua itu bukanlah kecelakaan.

Ia merupakan konsekuensi logis dari sistem yang sedang bekerja.

Ironisnya, banyak masyarakat lebih sibuk mengawasi perilaku anak muda daripada mengkritisi mesin ekonomi global yang membentuk perilaku tersebut.

Anomie: Ketika Norma Kehilangan Daya Ikatnya

Sosiolog besar, Émile Durkheim, pernah memperkenalkan konsep yang disebut anomie.

Anomie adalah keadaan ketika norma-norma lama kehilangan kekuatannya sementara norma-norma baru belum sepenuhnya terbentuk.

Dalam kondisi seperti itu manusia mengalami kebingungan orientasi.

Mereka tidak tahu lagi standar apa yang harus diikuti.

Mereka tidak tahu lagi tujuan hidup apa yang harus dikejar.

Mereka tidak tahu lagi makna apa yang harus dipercaya.

Jika kita melihat kondisi generasi muda hari ini, konsep ini terasa sangat relevan.

Mereka berada di antara dua dunia.

Dunia lama masih ada.

Tetapi pengaruhnya melemah.

Dunia baru sedang datang.

Tetapi belum memberikan kepastian.

Akibatnya mereka hidup dalam ruang liminal.

Ruang antara.

Tidak sepenuhnya tradisional.

Tidak sepenuhnya modern.

Tidak sepenuhnya lokal.

Tidak sepenuhnya global.

Dalam ruang semacam itu, kebingungan bukanlah penyimpangan.

Kebingungan adalah konsekuensi yang hampir tidak terhindarkan.

Aceh Pasca Konflik dan Pasca Tsunami

Untuk memahami generasi muda Aceh secara utuh, kita tidak bisa melepaskannya dari sejarah.

Banyak anak muda yang hari ini sedang dicemaskan sesungguhnya merupakan generasi yang lahir setelah konflik bersenjata.

Mereka lahir setelah tsunami.

Mereka lahir setelah transformasi politik besar.

Mereka tumbuh dalam Aceh yang sedang mencari bentuk baru dirinya.

Namun ada paradoks besar.

Meskipun konflik telah berakhir, banyak persoalan struktural belum benar-benar selesai.

Ketimpangan masih ada.

Kesempatan ekonomi masih terbatas.

Kualitas pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan.

Migrasi tenaga kerja terus berlangsung.

Banyak anak muda melihat bahwa dunia yang dijanjikan kepada mereka tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang mereka alami.

Maka muncul pertanyaan yang jarang diajukan:

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang krisis moral tanpa berbicara tentang krisis kesempatan?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang penyimpangan perilaku tanpa berbicara tentang ketidakpastian masa depan?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang disiplin tanpa berbicara tentang harapan?

Generasi Muda Tidak Sedang Memberontak terhadap Agama

Ini mungkin salah satu kesalahpahaman terbesar.

Banyak orang mengira bahwa ketika generasi muda menjauh dari norma tertentu, mereka sedang memberontak terhadap agama.

Padahal sering kali yang mereka pertanyakan bukanlah agama.

Mereka mempertanyakan institusi.

Mereka mempertanyakan otoritas.

Mereka mempertanyakan konsistensi.

Mereka mempertanyakan kontradiksi yang mereka lihat setiap hari.

Mereka melihat masyarakat berbicara tentang moralitas tetapi membiarkan ketidakadilan.

Mereka melihat masyarakat berbicara tentang akhlak tetapi mentoleransi korupsi.

Mereka melihat masyarakat berbicara tentang disiplin tetapi gagal memberikan teladan.

Dalam kondisi seperti itu, krisis kepercayaan muncul.

Dan ketika kepercayaan runtuh, nasihat moral kehilangan sebagian kekuatannya.

Bukan karena generasi muda membenci nilai.

Melainkan karena mereka kesulitan menemukan hubungan antara nilai yang diajarkan dan realitas yang mereka saksikan.

Pertanyaan yang Mengguncang Kenyamanan Generasi Tua

Ada pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman.

Tetapi pertanyaan ini harus diajukan.

Bagaimana jika sebagian besar masalah generasi muda bukanlah kegagalan generasi muda?

Bagaimana jika itu adalah kegagalan generasi tua dalam membangun struktur yang layak diwariskan?

Bagaimana jika yang kita sebut kemerosotan moral sebenarnya merupakan gejala dari krisis yang lebih besar?

Krisis pendidikan.

Krisis ekonomi.

Krisis keteladanan.

Krisis makna.

Krisis institusi.

Krisis masa depan.

Jika demikian, maka memperketat pengawasan saja tidak akan cukup.

Karena pengawasan hanya bekerja pada permukaan.

Sementara akar masalah berada jauh di bawah permukaan.

Di dalam struktur.

Di dalam sejarah.

Di dalam cara masyarakat mengorganisasi dirinya sendiri.

Peradaban Tidak Hancur Karena Anak Mudanya

Sejarah menunjukkan sesuatu yang menarik.

Tidak ada peradaban besar yang runtuh hanya karena anak mudanya terlalu bebas.

Peradaban runtuh ketika institusi kehilangan legitimasi.

Ketika elite kehilangan kemampuan membaca zaman.

Ketika struktur sosial gagal beradaptasi terhadap perubahan.

Ketika masyarakat kehilangan kemampuan memperbarui dirinya.

Roma tidak runtuh karena anak mudanya semata.

Kekhalifahan besar tidak runtuh karena anak mudanya semata.

Peradaban-peradaban besar runtuh karena mereka gagal memahami transformasi yang sedang berlangsung.

Dan sering kali, sebelum keruntuhan itu terjadi, para elite lebih sibuk menyalahkan generasi muda daripada memperbaiki sistem.

Penutup: Siapa Sesungguhnya yang Sedang Diadili?

Ketika seorang anak muda ditangkap karena perilaku tertentu, masyarakat merasa telah menemukan pelaku.

Namun mungkin kita terlalu cepat puas.

Karena anak muda itu hanyalah titik terakhir dari rantai yang jauh lebih panjang.

Di belakangnya ada keluarga.

Di belakang keluarga ada ekonomi.

Di belakang ekonomi ada politik.

Di belakang politik ada sejarah.

Di belakang sejarah ada struktur peradaban.

Maka pertanyaan terbesar bukanlah:

"Mengapa generasi muda melakukan ini?"

Melainkan:

"Mengapa struktur sosial menghasilkan begitu banyak generasi muda yang kehilangan orientasi?"

Pertanyaan pertama menghasilkan pengawasan.

Pertanyaan kedua menghasilkan refleksi.

Pertanyaan pertama mencari kambing hitam.

Pertanyaan kedua mencari akar masalah.

Dan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang berani mempertanyakan dirinya sendiri biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibanding masyarakat yang hanya sibuk mengadili generasi mudanya.

Karena pada akhirnya, generasi muda bukanlah makhluk yang jatuh dari langit.

Mereka adalah produk masyarakat itu sendiri.

Mereka adalah cermin yang memantulkan wajah zaman.

Dan sering kali, yang membuat kita marah kepada cermin bukanlah karena cermin itu salah.

Melainkan karena kita tidak menyukai apa yang sedang dipantulkannya.

***

Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa

Posting Komentar

0 Komentar