Premanisme, Kekerasan Sosial, dan Luka yang Jarang Dibicarakan

RUANG ANALISIS: Video penangkapan dua pria yang diduga menendang seorang ibu hamil di wilayah Medan/Tembung memicu kemarahan besar di media sosial. Banyak orang merasa puas ketika melihat pelaku diborgol dan dibawa aparat kepolisian. Di ruang digital, narasi yang muncul tampak sederhana: pelaku adalah simbol kekerasan, polisi hadir sebagai penegak keadilan, dan publik merasa bahwa ketertiban akhirnya dipulihkan. Namun di balik kemarahan itu, ada pertanyaan yang jauh lebih besar dan lebih penting: mengapa lingkungan sosial tertentu terus melahirkan kekerasan seperti ini?

“Premanisme bukan sekadar tindakan kriminal, tetapi sering kali merupakan gejala dari masyarakat yang gagal menghadirkan harapan hidup yang layak.”

Selama ini premanisme sering dibahas hanya sebagai persoalan individu yang brutal dan meresahkan. Cara pandang seperti ini memang mudah diterima karena memberi masyarakat sosok yang jelas untuk disalahkan. Akan tetapi, pendekatan tersebut sering berhenti di permukaan. Ia melihat pelaku, tetapi gagal membaca kondisi sosial yang membentuk pelaku.

Dalam banyak kasus, premanisme tumbuh dari kombinasi kemiskinan struktural, pendidikan yang lemah, lingkungan sosial yang keras, pengangguran, serta minimnya ruang penghargaan sosial bagi kelompok bawah. Ketika seseorang merasa tidak memiliki masa depan, tidak memiliki pekerjaan bermartabat, dan tidak pernah dihormati, maka rasa takut yang ia ciptakan terhadap orang lain perlahan berubah menjadi alat untuk memperoleh identitas.

“Sebagian orang akhirnya merasa lebih mudah dihormati melalui intimidasi daripada melalui prestasi.”

Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa manusia selalu berusaha memperoleh pengakuan sosial. Ketika akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan status sosial tertutup, sebagian orang mencari bentuk kekuasaan alternatif. Dalam konteks tertentu, kekerasan menjadi bahasa sosial terakhir bagi mereka yang merasa tidak punya tempat dalam struktur masyarakat.

Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan krisis maskulinitas yang cukup dalam. Banyak laki-laki tumbuh dalam budaya yang menganggap keras sebagai simbol kekuatan dan empati sebagai kelemahan. Mereka diajarkan untuk menahan emosi, tidak menunjukkan luka batin, dan membuktikan harga diri melalui dominasi. Akibatnya, agresivitas sering dianggap lebih bernilai dibanding kemampuan berdialog atau mengendalikan diri.

“Budaya yang mengagungkan dominasi perlahan melahirkan generasi yang lebih takut terlihat lemah daripada takut menyakiti orang lain.”

Namun memahami akar sosial premanisme bukan berarti membenarkan kekerasan. Negara tetap wajib menindak pelaku. Ketika seseorang melakukan kekerasan terhadap ibu hamil, persoalannya telah melampaui alasan ekonomi atau tekanan hidup. Itu sudah menjadi ancaman terhadap keselamatan manusia lain. Negara tidak boleh membiarkan ruang publik dikendalikan oleh rasa takut.

Thomas Hobbes dalam Leviathan menjelaskan bahwa salah satu alasan negara dibentuk adalah untuk mencegah manusia hidup dalam kekacauan dan ketakutan. Karena itu, penegakan hukum tetap penting sebagai batas minimum dari peradaban.

“Hukum hadir bukan untuk menunjukkan kekuatan negara, tetapi untuk memastikan bahwa yang kuat tidak bebas menindas yang lemah.”

Meski demikian, ada paradoks yang sering dirasakan masyarakat. Negara terlihat sangat cepat menangkap preman kecil di jalanan, tetapi sering lambat menghadapi bentuk-bentuk “premanisme besar” seperti korupsi, mafia anggaran, eksploitasi ekonomi, manipulasi kekuasaan, dan ketidakadilan struktural yang justru memproduksi kemiskinan secara terus-menerus.

Slavoj Žižek menyebut fenomena ini sebagai systemic violence, yaitu kekerasan yang bekerja melalui sistem sosial dan ekonomi, bukan melalui pukulan fisik. Dampaknya memang tidak selalu terlihat langsung, tetapi mampu menciptakan penderitaan yang jauh lebih luas dan berkepanjangan.

“Preman jalanan sering hanya wajah paling terlihat dari kekerasan sosial yang lebih besar dan lebih tersembunyi.”

Media sosial kemudian membuat semuanya menjadi lebih rumit. Di era digital, kasus yang viral lebih cepat memperoleh perhatian aparat dibanding kasus yang tidak mendapat sorotan publik. Keadilan akhirnya terasa sangat dipengaruhi oleh visibilitas media. Semakin besar kemarahan publik di internet, semakin cepat respons yang muncul.

Akibatnya, tragedi sosial berubah menjadi tontonan kolektif. Penangkapan pelaku bukan hanya proses hukum, tetapi juga pertunjukan moral yang dikonsumsi masyarakat untuk memuaskan emosi bersama.

“Di era media sosial, keadilan sering bergerak secepat viralitas.”

Namun masyarakat sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab. Dalam banyak lingkungan, budaya premanisme tumbuh karena ada toleransi sosial terhadap intimidasi kecil. Figur yang keras dan menakutkan sering dianggap lebih “berpengaruh” dibanding orang yang tenang dan rasional. Ketakutan untuk melapor serta budaya kagum terhadap “jagoan” perlahan menciptakan ruang hidup bagi kekerasan.

Kasus penendangan ibu hamil memicu kemarahan besar karena menyentuh naluri moral paling dasar: perlindungan terhadap kehidupan yang rentan. Publik merasa bahwa tindakan tersebut bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga melukai rasa kemanusiaan.

Namun jika masyarakat hanya berhenti pada kemarahan, maka persoalan tidak akan pernah selesai. Menangkap pelaku memang penting, tetapi itu baru menghentikan akibat, bukan memperbaiki sebab.

“Selama ketimpangan sosial, pengangguran, keterasingan, dan budaya agresivitas tetap hidup, premanisme hanya akan berganti wajah dan generasi.”

Karena itu, keamanan sosial tidak cukup dibangun melalui patroli dan penjara semata. Ia membutuhkan pendidikan yang sehat, pekerjaan yang bermartabat, kesehatan mental sosial, penguatan keluarga, ruang pembinaan pemuda, dan kehadiran negara yang benar-benar terasa hingga tingkat paling bawah.

Pada akhirnya, kasus ini bukan hanya tentang dua orang yang melakukan kekerasan. Ia adalah cermin dari masyarakat yang sedang menghadapi luka sosial yang dalam. Premanisme adalah tanda bahwa sebagian orang merasa kehilangan tempat, kehilangan penghargaan, dan kehilangan harapan hidup yang layak.

Dan selama akar luka itu tidak disentuh, kekerasan akan terus lahir dalam bentuk yang berbeda-beda.

***

Posting Komentar

0 Komentar