Kempes dan Tragedi Pembantaian di Kuta Reh
Ketika Arsip Kolonial Membuka Wajah Kekerasan Hindia Belanda di Aceh
Dikutip dari : Iskandar Norman (Dalam Teuku Malikul Mubin)
Terbitnya buku De Tocht van der Overste van Daalen door Gayo, Alas en Bataklanden pada awal abad ke-20 sempat mengguncang pemerintah kolonial Hindia Belanda. Buku itu bukan sekadar catatan perjalanan militer, melainkan sebuah kesaksian internal tentang brutalitas perang kolonial Belanda di Aceh.
Penulisnya, J.C.J. Kempes, adalah ajudan Letnan Kolonel G.C.E. van Daalen yang ikut dalam ekspedisi militer selama 163 hari menembus wilayah Gayo, Alas, hingga tanah Batak pada 1904. Sebagai staf bagian umum dalam operasi tersebut, Kempes menyaksikan langsung bagaimana perang kolonial dijalankan bukan hanya sebagai operasi militer, tetapi juga sebagai penghancuran sosial terhadap penduduk sipil.
Salah satu episode paling kelam dalam ekspedisi itu terjadi di Kuta Reh, Aceh Tenggara.
Di sana, pasukan marsose Belanda melakukan pembantaian massal terhadap penduduk Gayo. Jumlah korban hingga kini masih diperdebatkan.
H.C. Zentgraaff dalam buku Atjeh menyebut sekitar 2.992 korban tewas, terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan. Sementara dalam The Dutch Colonial War in Aceh, korban disebut berjumlah 516 orang, termasuk 248 perempuan dan anak-anak.
Perbedaan angka ini menunjukkan satu hal penting: bahkan arsip kolonial sendiri tidak memiliki narasi tunggal tentang skala kekerasan yang terjadi.
Namun foto-foto yang didokumentasikan Kempes memperlihatkan sesuatu yang sulit dibantah. Di dalam benteng Kuta Reh tampak ratusan bahkan ribuan mayat bergelimpangan. Perempuan dan anak-anak terlihat tewas di antara rumah-rumah dan lumbung padi. Sebuah lubang besar dipenuhi jasad korban untuk dikuburkan secara massal.
Salah satu foto paling mengguncang memperlihatkan seorang anak kecil duduk hidup di tengah hamparan mayat.
Sampai hari ini, identitas dan nasib anak tersebut tetap menjadi misteri sejarah.
Kempes memberi keterangan pada salah satu foto itu dengan kalimat:
“Hier werd iets groots verricht”
(“Di sini sebuah pekerjaan besar telah dilakukan.”)
Kalimat itu memperlihatkan paradoks moral kolonialisme: pembantaian sipil dipresentasikan sebagai prestasi peradaban dan kemenangan militer.
Politik Total War di Aceh
Pembantaian Kuta Reh tidak lahir dalam ruang kosong.
Ia merupakan bagian dari strategi militer yang lebih luas di bawah Gubernur Militer Aceh, J.B. van Heutsz, yang bersama Snouck Hurgronje mengembangkan pendekatan total war untuk menaklukkan Aceh.
Strategi ini tidak hanya menyasar kombatan bersenjata, tetapi juga menghancurkan basis sosial yang dianggap menopang perlawanan rakyat Aceh.
Dalam konteks inilah operasi Van Daalen ke dataran tinggi Gayo dan Alas harus dipahami: bukan semata ekspedisi keamanan, melainkan proyek penaklukan total terhadap wilayah-wilayah yang belum tunduk pada kekuasaan kolonial.
Karena itu, tragedi Kuta Reh tidak dapat dipisahkan dari struktur kolonial yang menganggap kekerasan ekstrem sebagai alat legitim untuk memperluas kontrol negara.
Arsip yang Membalik Narasi Kolonial
Yang membuat buku Kempes sangat mengguncang bukan hanya isi tulisannya, melainkan fakta bahwa kesaksian tersebut datang dari lingkaran militer Belanda sendiri.
Foto-foto pembantaian yang dipublikasikan menimbulkan kontroversi besar di negeri Belanda. Bersama tulisan-tulisan kritis seperti karya Wekker dalam Hoe Beschaafd Nederland in de 20e Eeuw Vrede en Orde Schept op Atjeh, publik mulai mempertanyakan moralitas perang kolonial di Aceh.
Untuk pertama kalinya, narasi “misi peradaban” Belanda retak oleh dokumentasi visual yang mereka hasilkan sendiri.
Van Daalen kemudian menjadi simbol kekejaman perang Aceh. Meskipun ia berusaha membela diri sebagai pelaksana perintah atasan, tekanan politik dan kritik publik membuatnya akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Militer Aceh.
Ironisnya, pada saat yang sama pemerintah kolonial tetap menganugerahinya penghargaan militer atas “keberanian dan jasa” selama operasi di Aceh.
Di sinilah wajah ganda kolonialisme terlihat paling telanjang: kekerasan yang dikutuk secara moral, namun tetap dihargai secara politik.
Luka Sejarah yang Belum Selesai
Lebih dari satu abad berlalu, tetapi tragedi Kuta Reh masih menyisakan luka historis yang belum sepenuhnya dipulihkan dalam ingatan nasional Indonesia.
Peristiwa ini jarang hadir dalam pendidikan sejarah arus utama, padahal ia merupakan salah satu pembantaian sipil terbesar dalam perang kolonial Belanda di Nusantara.
Kuta Reh bukan hanya tentang masa lalu Aceh.
Ia adalah pengingat bahwa kolonialisme tidak dibangun semata melalui administrasi dan perdagangan, tetapi juga melalui darah, penghancuran sosial, dan penghapusan manusia yang dianggap menghalangi proyek kekuasaan.
Dan mungkin karena itulah foto-foto Kempes tetap mengganggu hingga hari ini: karena ia memaksa sejarah melihat wajah yang selama ini ingin disembunyikan kolonialisme sendiri.
0 Komentar